Thursday, August 7, 2008

MIRIAM BUDIARDJO RESOURCE CENTER DAN AMERICAN CORNER DALAM PENGERTIAN PROPAGANDA

1.1 Latar Belakang Masalah
Menurut Britanica Concise Encyclopedia, perpustakaan adalah sumber informasi dan pengetahuan. Sumber-sumber informasi dan pengetahuan yang berada di perpustakaan ini tidak hanya dihimpun, diolah dan disimpan saja tetapi juga di sebarkan kepada masyarakat pengguna perpustakaan. Sepanjang sejarah manusia, perpustakaan merupakaan satu-satunya pranata ciptaan manusia, tempat manusia dapat menemukan kembali informasi yang permanen serta luas ruang lingkupnya. Oleh karena itu masyarakat selalu mengatakan bahwa perpustakaan mempunyai efek sosial, ekonomi, politik dan edukatif (Sulisto-Basuki:2004-2005:Bab 5, hal.3). Hal itu di karenakan ilmu penetahuan dan informasi yang terdapat dalam koleksi perpustakaan adalah sumber kekuatan. Karena perpustakaan adalah gudang ilmu pengetahuan maka perpustakaan merupakan kekuatan (Sulisto-Basuki:2004-2005:Bab 5, hal.3). Oleh karena itu melihat bahwa perpustakaan merupakan kekuatan dan kekuatan yang ada di perpustakaan di dapat dari koleksinya, dengan demikian kebijakan pengembangan koleksi di perpustakaan menjadi amat penting. Kebijakan pengembangan koleksi yang tidak tegas akan memunculkan celah-celah yang dapat dimanfaatkan seseorang atau sekelompok orang di luar perpustakaan. Celah yang paling mungkin seseorang atau sekelompok orang dalam memanfaatkan perpustakaan untuk tujuan-tujuan tertentu adalah menjadikan perpustakaan sebagai alat propaganda pemikiran.
Salah satu jenis perpustakaan yang akan menjadi fokus penelitian ini adalah perpustakaan fakultas pada perguruan tinggi. Perpustakaan perguruan tinggi ialah perpustakaan yang terdapat pada perguruan tinggi, badan bawahannya maupun lembaga yang berafiliasi dengan perguruan tinggi dengan tujuan utama membantu perguruan tinggi mencapai tujuannya (Sulistyo-Basuki:1991:52). Tujuan perguruan tinggi di Indonesia dikenal dengan nama Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu: Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat.
Perpustakaan FISIP UI kini telah berganti nama menjadi Miriam Budiardjo Research Center (MBRC). Proses perubahan dari Perpustakaan FISIP UI menjadi MBRC mempunyai sejarah yang cukup panjang. Konsep Resource Center adalah sebuah tempat dimana menyediakan segala bentuk sumber informasi dari yang tercetak, elektronik hingga sumber-sumber informasi dalam bentuk online.
Proses perencanaan MBRC ini sudah berlangsung sejak tahun 2003 dan melibatkan seluruh seluruh Dekanat dan Kepala Perpustakaan FISIP UI. Setelah perencanaan matang, pada tahun yang sama, proses pembangunan langsung dilaksanakan sesuai dengan perencanaan yang telah di tentukan. Seiring dengan perubahan tersebut, Tahun 2004 Kedutaan Besar AS melalui pusat informasinya yang bernama Information Resource Center (IRC) dan Seksi Hubungan Masyarakat Kedutaan Besar Amerika Serikat (Public Affair Section/PAS), menawarkan kerjasama dalam bentuk fasilitas dan sumber-sumber informasi mutakhir mengenai Amerika. Fasilitas berupa sumber-sumber informasi tersebut ditempatkan di sebuah sudut di MBRC yang diberi nama American Corner, untuk selanjutnya penulis menyingkat American Corner dengan Amcor. Melalui proses yang cukup panjang akhirnya pihak FISIP bersedia untuk menerima Amcor dan Amcor ditempatkan di lantai 2 MBRC.
Pada tanggal 24 Februari 2005 perpustakaan FISIP UI tampil dengan nama baru yaitu Miriam Budiardjo Research Center yang biasa disingkat menjadi MBRC. Tidak hanya namnya saja yang baru, perubahan dapat terlihat pada desain interior perpustakaan, sistem informasi, fasilitas, koleksi dan American Corner. Bersamaan Peresmian MBRC diresmikan pula pembukaan Amcor di MBRC FISIP UI. Dalam pembukaannya, Duta besar Amerika Serikat berkata bahwa Amcor yang berlokasi di UI merupakan Amcor ke-8 di Indonesia. Amcor lainnya sudah dibentuk yaitu Amcor Universitas Islam Negeri (UIN), Amcor Univeritas Muhamadiyah Yogyakarta (UMY), Amcor Universitas Airlangga (Unair), Amcor Universitas Gajah Mada (UGM), Amcor Istitut Agama Islam Negeri Sumatera Utara (IAIN SU), dan Amcor Istitut Agama Islam Negeri (IAIN Walisongo).
Amcor merupakan suatu media yang diprogramkan oleh Seksi Hubungan Masyarakat (Public Affair Section) Kedutaan Besar Amerika Serikat dibawah koordinasi International Information Program (IIP) di Washington DC, Amerika Serikat. Amcor ini telah berdiri di hampir seluruh negara di dunia. Di beberapa negara seperti di Malaysia, Jepang, dan Thailand, Amcor hadir di Perpustakaan Umum sedangkan di beberapa negara lainnya seperti di Indonesia, Amcor hadir di Perpustakaan Perguruan Tinggi. Amcor yang pertama kali di buka di Rusia. Hingga saat ini, Amcor telah ada di hampir seluruh negara di Dunia. Amcor yang terbanyak adalah di Rusia yaitu sebanyak 30 Amcor tersebar di Perpustakaan umum dan perpustakaan perguruan di 30 daerah di Rusia. Di Indonesia terdapat 10 Amcor yang tersebar di 10 Perguruan tinggi di Indonesia.
Tujuan dari American corner yang dikutip dari Pidato Deputy Chief of Mission, Kedutaan AS, Lewis Emselem pada saat pembuakaan American Corner di MBRC FISIP UI adalah 1) Menghadirkan perspektif yang berbeda mengenai Amerika Serikat. 2) Memperbaiki citra dan steriotipe yang negatif tentang Amerika Serikat. 3) Menghadirkan perspektif Internasional untuk dapat saling menghargai satu dengan yang lainnya.4) Sebagai bentuk kerjasama diplomatis antara Indonesia dengan Amerika Serikat.
Tujuan-tujuan tersebut direalisasikan dalam bentuk berbagai sumber-sumber informasi yang menjadi koleksi di setiap Amcor yang didirikan. Koleksi-koleksi yang terdapat di Amcor tersebut berbentuk tercetak dan elektronik seperti buku teks, references books, terbitan berseri, CD ROM, DVD dan online jurnal. Koleksi di semua Amcor relatif sama. Ada subjek-subjek tertentu yang menjadi fokus utama Amcor dan ini dapat ditemukan di semua Amcor di dunia. Subjek-subjek tersebut adalah sejarah AS, kehidupan, sosial dan Budaya Masyarakat AS, Ideologi AS, Hukum dan Politik AS, Sistem pemerintahan dan Tatanegara AS, dan Bahasa Inggris. Koleksi ini dipilih oleh subject spesialist yang telah ditunjuk IIP yang bertempat di Wshington DC.
Hadirnya Amcor di MBRC FISIP UI merupakan suatu fenomena yang perlu dikritisi. UI dimasa yang akan datang diharapkan menjadi Research University yaitu Universitas yang memfokuskan diri pada penelitian dalam pengembangan Ilmu Pengetahuan. Oleh karena itu untuk menunjang pendidikan dan penelitian dibutuhkan sumber-sumber informasi. FISIP UI sebagai institusi yang memayungi MBRC merupakan sebuah lembaga pendidikan yang bergerak dalam disiplin ilmu sosial dan ilmu politik. Peran perpustakaan dalam lembaga pendidikan ini sangat penting yaitu sebagai fasilitator dan mediator dalam penyediaan informasi bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Hadirnya Amcor memberikan alternatif informasi kepada civitas FISIP UI.
Fenomena pendirian MBRC dan kehadiran Amcor di dalam MBRC merupakan sesuatu hal yang saling berkaitan yang ingin dijelaskan dengan menggunakan pemikiran propaganda. Dalam pengertian propaganda secara umum propaganda didefinisikan sebagai asosiasi atau skema untuk mempropagandakan suatu doktrin atau tindakan kepada seseorang atau sekelompok orang yang disebarkan melalui kata-kata, suara, iklan komersil, musik, gambar dan simbol-simbol lainnya. R.A. Santoso yang telah mengutip lebih dari 10 pakar propaganda menyimpulkan bahwa
propaganda merupakan suatu penyebaran pesan yang telah terencanakan secara seksama untuk mengubah sikap, pandangan, pendapat (opini) dan tingkah laku dari penerimanya/komunikan sesuai dengan pola yang ditentukan komunikator. (Sastroputro:1991)

Dr. Nancy Snow dalam bukunya Propaganda.Inc menjelaskan 3 karesteristik utama propaganda adalah
(1) merupakan komunikasi yang disengaja dan dirancang untuk mengubah sikap dan pendapat orang yang menjadi sasaran. (2) ia menguntungkan bagi si pelaku propaganda untuk memajukan kepentingan orang yang dituju (inilah alasannya mengapa periklanan, humas dan kampanye politik merupakan bentuk propaganda) dan (3) ia merupakan informasi satu arah. (Nancy Snow:2003:50)

Dalam hal ini MBRC seperti menjadi alat untuk propaganda Amerika Serikat dengan menggunakan Amcor sebagai medianya. Melalui Amcor Propaganda disebarkan dalam sumber-sumber informasi terseleksi baik tecetak maupun elektronik dalam bentuk buku teks, novel, film, gambar, musik yang berkaitan mengenai Amerika Serikat.
Perpustakaan sebagai sumber informasi dan pengetahuan disamping itu, perpustakaan juga mempunyai posisi strategis yaitu menyampaikan dan menyebarkan pemikiran tentang sesuatu hal yang diinginkan.

1.2 Permasalahan
Masalah penelitian ini adalah Hubungan MBRC dan Amcor dalam pengertian propaganda. Hubungan yang pertama terjadi antara FISIP UI dengan MBRC. FISIP UI memadukan konsep propaganda ke dalam perpustakaan yang menghasilkan suatu produk yaitu MBRC. Propaganda merupakan sarana persuasif untuk membentuk opini seseorang atau sekelompok orang mengenai pusat informasi sebagai sumber informasi dan penyebaran informasi yang pada akhirnya dapat mengarah pada tindakan untuk mengunjungi dan memanfaatkan informasi.
Hubungan MBRC dengan Amcor dimana pihak kedutaan AS menggunakan MBRC sebagai alat untuk menempatkan media informasinya yang dinamakan American Corner. Amcor tersebut terdiri dari sumber-sumber informasi yang terseleksi yang berisi informasi-informasi yang akurat dan mutakhir mengenai Amerika dengan tujuan untuk memperkenalkan pandangan-pandangan, nilai-nilai kebudayaan serta norma-norma Amerika kepada masyarakat Indonesia pada umumnya dan civitas FISIP UI pada khususnya. Tujuan Kedutaan AS meletakkan Amcor di MBRC adalah agar Informasi yang disediakan melalui Amcor dapat tersebarluaskan. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa FISIP UI merubah Perpustakaan FISIP UI menjadi MBRC dengan tujuan agar sumber-sumber informasi di dalam perpustakaan tersebut dapat dimanfaatkan dan tersebarluaskan. Kedutaan Besar AS meletakkan Amcor di MBRC FISIP UI dengan tujuan agar Informasi-informasi yang disampaikan melalaui Amcor dapat dimanfaatkan oleh sivitas UI pada umumnya dan sivitas FISIP UI pada khususnya dengan demikian informasi-informasi tersebut dapat tersebarluaskan.
Kata Penyebarluasan digunakan sebagai tujuan dari FISIP UI dan Kedutaan AS. Kata menyebarluaskan atau penyebarluasan dapat mengandung pengertian, menyiarkan atau mempublikasikan (James E Combs dan Dan Nimmo:1994:10) Kata tersebut mengandung maksud sesuatu yang disengaja atau tindakan yang disengaja menyarankan sesuatu yang direncanakan untuk sebuah tujuan-tujuan tertentu (goal) yaitu mengubah dan membentuk pandangan masyarakat.
1.3 Tujuan Penelitian
Untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai hubungan antara perubahan perpustakaan FISIP UI menjadi MBRC dan hubungan MBRC dengan Amcor yang di interpretasikan dalam pengertian propaganda. Hasil dari pemahaman yang mendalam ini kemudian dapat menjadi refleksi dalam evaluasi serta pemberdayaan kembali prinsip-prinsip perpustakaan perguruan tinggi serta peranan dan tanggung jawab pustakawan dalam mengelola perpustakaan perguruan tinggi.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini dapat memberikan refleksi kepada pustakawan dalam perpustakaan perguruan tinggi sebagai sumber dan penyebarluasan informasi yang ditujukan untuk dosen peneliti dan mahasiswa. Hasil akhir penelitian ini pada akhirnya dapat memberdayakan kembali peranan dan tanggung jawab pustakawan dalam mengelola perpustakaan perguruan tinggi.
1.5 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif yaitu interpretativ-konstruktif dengan pendekatan Grounded Theory. Melalui metode kualitatif ini memungkinkan diperolehnya hasil akhir penelitian yaitu menunjukkan bahwa propaganda dapat digunakan di perpustakan dengan demikian penelitian ini dapat memberikan refleksi untuk menegaskan kembali fungsi perpustakaan perguruan tinggi serta menegaskan dan memberdayakan kembali peranan dan tanggung jawab pustakawan perguruan tinggi dalam mengelola perpustakaan perguruan tinggi.
1.5.1 Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah MBRC dan Amcor di MBRC FISIP UI. Dalam penelitian ini akan dijelaskan mengenai latar belakang, koleksi, sarana yang membentuk Amcor dan juga pustakawan sebagai pengelola MBRC, mahasiswa serta pengajar FISIP UI sebagai orang terlibat dengan Amcor.
1.5.2 Metode Pengumpulan Data
a. Penelitian kepustakaan
b. Penelitian lapangan
- Observasi
- Wawancara
- Kuesioner

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Perpustakaan Perguruan Tinggi dan Pusat Informasi

MBRC pada hakikatnya merupakan perpustakaan perguruan tinggi. Perpustakaan perguruan tinggi adalah
Perpustakaan yang terdapat pada perguruan tinggi, badan bawahannya maupun lembaga yang berafiliasi dengan perguruan tinggi dengan tujuan utama membantu perguruan tinggi mencapai tujuannya. Tujuan perguruan tinggi di Indonesia dikenal dengan nama Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu: Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. (Sulistyo-Basuki:1991:52)

Akan tetapi MBRC menamakan dirinya tidak sebagai perpustakaan tetapi sebagai resource center (pusat sumber).
“ Perpustakaan sekolah atau “school library” mengalami perubahan nama akibat penemuan materi baru, pengaruh teknologi informasi. Bila dahulu disebut perpustakaan sekolah maka itu kemudian berubah menjadi pusat multimedia (multimedia center)maka kini namanya berubah menjadi pusat sumber belajar (learning resource center) yang meliputi perpustakaan, pusat computer, fasilitas multimedia dan fasilitas multimedia). Di Indonesia, beberapa perpustakaan sekolah swasta mengganti nama perpustakaan menjadi pusat sumber informasi atau information resource center dengan masuknya internet ke sekolah maka di perpustakaan tersedia computer, audio visual, dan sudah tentu buku. Maka sebutan perpustakaan sekolah dianggap kurang pas sehingga namanya diubah menjadi learning resource center karena kegiatan belajar subernya dapat dilakukan di perpustakaan (Sulistyo-Basuki, 2006 : Bab 6-15)

Sebutan learning resource center tidak saja digunakan untuk perpustakaan sekolah melainkan juga untuk sebutan beberapa perpustakaan perguruan tinggi, misalnya Institut Pertanian Bogor (Information Resource Center yang mencakup juga perpustakaan, University of Herdfordshire (inggris), University of Alberta (Kanada)(Sulistyo-Basuki, 1998:8)

Seperti pengertian yang telah dikutip diatas, munculnya konsep pusat sumber informasi di pengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi sebagai media penyimpan dan penyebar informasi. Perbedaan antara pusat sumber informasi dengan perpustakaan hanya tampak pada fasilitas dan koleksinya. Pusat sumber informasi dalam penyediaan fasilitasnya lebih berorientasi pada penggunaan teknologi informasi. Dalam pengembangan koleksinya pun tidak hanya menyimpan koleksi yang tercetak saja seperti perpustakaan dalam konotasi tradisional tetapi menyimpan sumber-sumber informasi dalam berbagai bentuk media. Dengan demikian pusat sumber yang dimaksud MBRC disini adalah tidak lain merupakan reproduksi perpustakaan. Jadi, walaupun Perpustakaan FISIP UI telah berganti menjadi MBRC pada hakikatnya MBRC merupakan perpustakaan perguruan tinggi yaitu :
...suatu bagian atau unit pendukung di lembaga perguruan tinggi, yang bertanggung jawab mengumpulkan, mengatur dan menyediakan untuk dipakai oleh mahasiswa dan pengajar, serta mengawetkan semua informasi yang relevan atau berhubungan dengan program pendidikan tinggi lembaga bersangkutan, bagaimanapun bentuk wadah informasi tersebut (Poole, 1981:9)

Dengan demikian seluruh tujuan, fungsi dan peranan MBRC tetap tidak dapat keluar dari Prinsip dan Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi.
Secara umum, tujuan perguruan tinggi di Indonesia dikenal dengan nama Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu: Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Sedangkan Secara umum tujuan perpustakaan perguruan tinggi menurut buku pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi tahun 2005 adalah sebagai berikut
a. Memenuhi keperluan informasi masyarakat perguruan tinggi, lazimnya staf pengajar dan mahasiswa. Sering pula mencakup tenaga administrasi perguruan tinggi
b. Menyediakan materi perpustakaan rujukan (referensi) pada semua tingkat akademis, artinya mulai dari mahasiswa tahun pertama hingga ke mahasiswa program pasca sarjana dan pengajar
c. Menyediakan ruang belajar untuk pemakai perpustakaan
d. Menyediakan jasa peminjaman yang tepat guna bagi berbagai jenis pemakai
e. Menyediakan jasa informasi aktif yang tidak saja terbatas pada lingkungan perguruan tinggi tetapi juga lembaga industri local

Dalam merealisasikan tujuan-tujuannya, hubungan antara pustakawan dengan mahasiswa, pengajar dan peneliti harus terjaga dengan baik. Pustakawan harus mengetahui kebutuhan informasi penggunanya dan berusaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Sedangkan mahasiswa, dosen dan pengajar harus memberikan respon yang positif dengan memanfaatkan informasi yang telah di sediakan dan selalu aktif dalam menyatakan kebutuhan informasinya. Hubungan ini menciptakan hubungan yang saling membutuhkan seperti yang di perlihatkan dalam bagan berikut ini





“Hubungan segitiga ini menunjukkan bahwa mahasiswa maupun pengajar berhubungan langsung dengan pustakawan dalam hal mencari informasi, penelusuran informasi. Karena sifat hubungan langsung ini maka pustakawan perguruan tinggi haruslah orang yang ahli dalam sebuah subjek ditambah pendidikan kepustakawanan yang sesuai dengan standard profesi pustakawan. Hal ini membawa implikasi bahwa pustakawan perguruan tinggi harus mampu membantu mahasiswa menggunakan pustaka untuk kepentingan mahasiswa.” (Sulisto-Basuki:2004-2005:Bab 6, hal.15).

Dengan demikian sangatlah jelas bahwa fokus utama perpustakaan perguruan tinggi adalah sebagai fasilitator dan mediator dalam penyediaan informasi yang berkaitan proses belajar mengajar di lingkungan universitas dengan berorientasi pada kepentingan sivitas akademika universitas. Fasilitator adalah orang atau badan yang bertanggung jawab terhadap penyediaan fasilitas, sedangkan mediator adalah menafsirkan kebutuhan pemakai secara selektif dan melindungi pemakai perpustakaan dari sumber informasi yang tidak terstruktur dan amat luas, tujuannya adalah agar informasi yang tersedia merupakan informasi yang dibutuhkan sehingga informasi tersebut berdayaguna.(Sulisto-Basuki:2004-2005:bab2 hal.17) Peran pustakawan dalam hal ini sangatlah penting sebagai perantara dan menjaga agar proses ini berjalan sesuai dengan kaidah yang di tetapkan untuk membantu tercapainya tujuan perguruan tinggi. Mahasiswa dan pengajar juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan informasi. Oleh karena itu pustakawan harus dapat mengetahui kebutuhan mereka dan berusaha untuk mewujudkannya di samping itu mahasiswa dan pengajar juga harus aktif untuk menginformasikan kepada pustakawan apa yang menjadi kebutuhannya. Jika kelancaran proses belajar mengajar salah satu faktornya di tentukan oleh kelengkapan informasi yang tersedia maka seharusnya perpustakaan menjadi sesuatu yang dibutuhkan mahasiswa dan pengajar dan peranan pustakawan menjadi sangat penting untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Namun pada kenyataan dilapangan seperti yang terjadi di FISIP UI, keberadaan perpustakaan belum diakui sepenuhnya dan akibatnya perpustakaan kurang dimanfaatkan oleh sivitas FISIP UI. Keberhasilan suatu perpustakaan dapat dilihat apabila ia berguna bagi masyarakat pemakainya dan ia dibutuhkan sebagai suatu sarana untuk mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan.(Sulisto-Basuki:2004-2005:bab5 hal.11) Keberadaan sebuah perpustakaan artinya adanya, kedudukan dan posisi yang diakui dan dipergunakan (Sutarno NS:2005:152). Dengan demikian fungsi suatu keberadaan perpustakaan sangatlah penting karena jika ia diakui keberadaannya ia pastilah dibutuhkan dan dimanfaatkan. Untuk menunjukkan keberadaan perpustakaan tidaklah cukup dengan menyediakan sumber-sumber informasi saja, perpustakaan juga perlu mendekatkan diri pada masyarakat pemakainya untuk mengetahui kebutuhan informasi masyarakat pemakainya. Hal ini sejalan dengan pernyataan Sutarno NS yang mengatakan
” Masyarakat akan tertarik pada sesuatu apabila mereka tahu bahwa sesuatu itu akan memberikan manfaat atau paling tidak menarik perhatian. Kemudian timbul keinginan untuk mengetahui lebih jauh tentang sesuatu yang menarik perhatiannya itu. Orang akan tertarik dan menaruh perhatian apabila ia tahu bahwa perpustakaan tersebut dapat memberikan sesuatu yang berguna. Untuk dapat menarik perhatian dan keinginan nasyarakat berkunjung ke perpustakaan , maka penyelenggara perpustakaan memberikan dan menyajikan sesuatu yang bermanfaat sehingga segala sesuatu yang disediakan dapat diberdayakan secara optimal. Pemberdayaan informasi yang efektif termasuk upaya pemasyarakatan perpustakaan agar masyarakat yang diharapkan menjadi pemakai yang potensial dapat di capai. ” (Sutarno NS:2005:110)

Jadi, tidak hanya penyediaan sumber-sumber informasi saja yang di perlukan untuk menunjukkan keberadaan perpustakaan tetapi juga diperlukan beberapa cara untuk menarik perhatian masyarakat pemakai. Ada beragam cara dan teknik yang digunakan untuk menarik perhatian masyarakat terhadap perpustakaan. Salah satu metode yang digunakan adalah propaganda. Propaganda dapat diartikan
”Propaganda merupakan suatu penyebaran pesan yang telah terencanakan secara seksama untuk mengubah sikap, pandangan, pendapat (opini) dan tingkah laku dari penerimanya/komunikan sesuai dengan pola yang ditentukan komunikator ”. (R.A. Santoso :1991)

Propaganda merupakan dasar dari kegiatan promosi dan kehumasan untuk menyebarluaskan pesan dan membentuk citra yang positif bagi masyarakat terhadap sesuatu hal termasuk bagaimana cara perpustakaan dapat di kenal masyarakat dan masyarakat dapat tertarik kepada perpustakaan. Dalam proses pengenalan perpustakaan, sesuatu yang menarik masyarakat harus di tonjolkan dengan demikian perhatian masyarakat dapat terfokus pada perpustakaan. Cara yang dapat digunakan agar ketertarikan masyarakat terhadap perpustakaan dapat terwujud yaitu dengan melakukan perubahan pada perpustakaan itu sendiri tanpa harus keluar dari tujuan dan fungsi perpustakaan.
Praktik penggunaan propaganda dapat dilihat dalam proses perubahan Perpustakaan FISIP UI menjadi MBRC. Untuk menunjukkan keberadaan perpustakaan FISIP di FISIP UI maka pihak FISIP UI berupaya mengubah perpustakaan FISIP UI menjadi lebih menarik yaitu dengan mengubah Perpustakaan FISIP UI menjadi MBRC. Perubahan ini terutama di titik beratkan pada perubahan nama, perubahan fisik, perubahan sistem dan perubahan layanan ditambah suatu corner khusus mengenai Amerika yang dinamakan America Corner. Dalam hal menarik perhatian dan merubah opini ini MBRC menggunakan sejumlah teknik propaganda. Namun yang perlu ditekankan disini adalah dalam proses penggunaan metode tersebut selalu ada resiko seperti biaya mahal, dapat lepas kendali dari tujuan perpustakaan dan tidak selalu mencapai pemakai yang benar (Sulistyo-Basuki,2006:Bab 15-11). Biaya mahal dapat diartikan sebagai adanya pengeluaran besar yang harus dianggarkan dan di keluarkan lembaga dalam proses perubahan ini, sedangkan resiko lepas kendali dari tujuan perpustakaan dapat diartikan bahwa pada akhirnya tujuan-tujuan perpustakaan yang tadinya selaras dengan tujuan perguruan tinggi menjadi bias dan tertutupi dengan tujuan-tujuan lain. Oleh karena itu pustakawan sebagai pemegang kendali dan kebijakan perpustakaan harus menjaga perpustakaan agar tetap pada prinsip dan pedoman perpustakaan perguruan tinggi yang diarahkan pada tujuan perguruan tinggi. Cara yang dapat digunakan antara lain pustakawan harus proaktif dengan menjadi bagian dalam proses pengambilan kebijaksanaan sehingga resiko-resiko dapat lepas kendali dari tujuan-tujuan perpustakaan perguruan tinggi dapat di minimalisir.
2.2.1 Pengembangan Koleksi Perpustakaan Perguruan Tinggi
Salah satu bagian yang terpenting dalam suatu perpustakaan adalah koleksi perpustakaan.
“Perpustakaan perguruan tinggi bertugas mengelola koleksi perpustakaan. Pengelolaan koleksi ini mencakup kegiatan survey kebutuhan pengguna, penyusunan kebijakan pengembangan koleksi, pemilihan dan pengadaan bahan perpustakaan, pengolahan, pelayanan, perawatan bahan perpustakaan serta evaluasi koleksi. Pengelolaan koleksi harus selaras dengan visi dan misi perguruan tinggi terkait” (Perpustakaan Perguruan Tinggi:Buku Pedoman, 2005 : 14)

Kebijakan pengembangan koleksi harus dibuat dan dilaksanakan secara tegas. Ketidaktegasan dan ketidakjelasan kebijakan pengembangan koleksi akan memunculkan celah-celah diluar dari tujuan-tujuan Perguruan Tinggi.
”Pengembangan koleksi haruslah selalu didasari asas tertentu yang dipegang teguh. Perpustakaan harus menjaga agar koleksinya berimbang sehingga mampu memenuhi kebutuhan dosen, mahasiswa dan peneliti” (Perpustakaan Perguruan Tinggi:Buku Pedoman:2005: 41)

Salah satu celah dari luar yang dapat merusak prinsip keadilan dan keseimbangan Perpustakaan Perguruan tinggi adalah adanya propaganda dari luar universitas itu sendiri. Propaganda itu datang dari sumber-sumber informasi yang diberikan pihak luar kepada perpustakaan universitas. Sumber-sumber informasi yang berasal dari luar universitas hendaklah dipilih seselektif mungkin dengan berpijak pada kebutuhan pengguna perpustakaan universitas itu sendiri.
Dalam Proses pengembangan koleksi yang meliputi kegiatan memilih dan mengadakan bahan perpustakaan harus di putuskan atas permintaan dan persetujuan bersama dengan dosen, mahasiswa dan peneliti, sehingga dalam proses tersebut terlihat adanya keterbukaan. Menurut Buku Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi, kebijakan pengembangan koleksi harus berdasarkan asas berikut:
a. Kerelevanan.
Koleksi hendaknya relevan dengan program pendidikan, pengajaran, penelitiandan pengabdian masyarakat perguruan tingginya
b. Berorientasi pada kebutuhan pengguna.
Pengembangan koleksi harus ditujukan kepada pemenuhan kebutuhan pengguna. Pengguna perpustakaan perguruan tinggi adalah tenaga pengajar, tenaga peneliti, tenaga administrasi, mahasiswa dan alumni yang kebutuhannya akan informasi berbeda-beda
c. Kelengkapan
Koleksi hendaknya jangan hanya terdiri atas buku ajar. Ini bearti perpustakaan harus mengadakan dan memperbaharui bahan perpustakaan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan
d. Kerjasama.
Koleksi hendaknya merupakan hasil kerjasama semua pihak yang berkepentingan dalam pengembangan koleksi yaitu antara pustakawan, tenaga pengajar dan mahasiswa. Dengan kerjasama, diharapkan pengembangan koleksi dapat berdaya guna dan berhasil guna

2.3. Definisi Propaganda
FISIP UI menggunakan suatu metode untuk merubah opini sivitas FISIP UI mengenai perpustakaan. Kedutaan besar AS juga menggunakan suatu metode dengan menempatkan Amcor di MBRC FISIP UI sehingga informasi yang diberikan Kedutaan AS dapat termanfaatkan. Metode yang digunakan oleh kedua pihak tersebut adalah propaganda. Secara umum propaganda di definisikan sebagai skema untuk mempropagandakan suatu doktrin atau tindakan kepada seseorang atau sekelompok orang yang disebarkan melalui kata-kata, suara, iklan komersil, musik, gambar dan simbol-simbol lainnya. Definisi lainnya yang dapat menjelaskan mengenai propaganda, dijelaskan secara rinci oleh James E.Combs dan Dan Nimmo (1994:23) sebagai berikut :
1. ”Usaha yang disengaja dan sistematis...untuk mencapai respon yang lebih jauh lagi merupakan tujuan yang diinginkan oleh ahli propaganda”
2. ”Sebuah usaha untuk mempengaruhi opini dan tingkah laku”
3. ”Situasi propaganda yang tipikal adalah A melalui suatu metode atau metode lain yang berhubungan dengan B sehingga cendrung mempengaruhi tingkahlaku B”
4. ”Semua usaha yang membujuk setiap orang untuk kepercayaan atau untuk suatu bentuk tindakan”.
5. ”Usaha untuk mempengaruhi personalitas dan mengontrol tingkah laku individual menuju tujuan akhir yang dianggap tidak ilmiah atau nilainya meragukan dalam masyarakat pada waktu yang ditentukan”

R.A. Santoso (1991) yang telah mengutip lebih dari 10 pakar propaganda menyimpulkan bahwa
propaganda merupakan suatu penyebaran pesan yang telah terencanakan secara seksama untuk mengubah sikap, pandangan, pendapat (opini) dan tingkah laku dari penerimanya/komunikan sesuai dengan pola yang ditentukan komunikator

Dari definisi-definisi yang telah disebutkan diatas penulis mengambil beberapa kata sebagai kata kunci (key word) dalam propaganda yaitu penyebarluasan, pesan, mempengaruhi, pendapat, tujuan dan sesuatu yang telah direncanakan.
Kata menyebarluaskan atau penyebarluasan dalam definisi tersebut dapat mengandung pengertian ”menumbuhkembangkan”. Kata menyebarluaskan dapat juga berarti ”menyiarkan” atau ”mempublikasikan” yang merupakan sesuatu yang disengaja. (James E Combs dan Dan Nimmo:1994:10)

Suatu kegiatan yang disengaja memerlukan suatu perencanaan dalam bentuk suatu pola atau skema yang sistematis. Sesuatu yang disebarluaskan disini adalah informasi yang mengandung suatu pesan dengan tujuan untuk mengubah pendapat (opini) orang yang menerimanya. Proses propaganda dapat digambarkan sebagai berikut (Dedy Mulyana:2001:135-141) :






Proses propaganda diatas diambil dari teori propaganda paling klasik yang disebut juga model retoris (rhetorical model) karya filusuf Aristoteles. Disini terdapat pembicara (speker), pesan (message) dan pendengar (listener). Fokus propaganda yang ditelaah Aristoteles adalah model retorika yang lebih dikenal dengan seni berpidato. Setting dalam seni berpidato sebagai sarana persuasif untuk mempengaruhi pendengar.
Proses ini tidak jauh berbeda dengan teori komunikasi model schramm yang dapat digambarkan sebagai berikut :





Dari bagan proses tersebut terdapat kesamaan antara propaganda dan komunikasi yaitu adanya pemberi pesan (pembicara/encoder),pesan (message) dan penerima pesan (pendengar/decoder) akan tetapi ada perbedannya jika dilihat dari tanda panah bahwa propaganda bersifat satu arah sedangkan komunikasi bersifat dua arah. Propaganda menggunakan setting untuk mempengaruhi pendengar sedangkan komunikasi terjadi secara alami.
FISIP UI melakukan perubahan terhadap Perpustakaan FISIP UI melalui proses perencanaan yang matang. Perubahan yang melalui proses yang direncanakan tersebut menghasilkan sebuah bentuk baru perpustakaan FISIP UI yang lebih modern dan lengkap dengan nama baru yang dapat menarik perhatian yaitu Miriam Budiardjo Resource Center.MBRC ini merupakan suatu setting yang tidak jauh berbeda dengan setting yang dimaksud dengan model retoris.
Kedutaan besar AS juga menggunakan setting yang sama dalam penerapan propaganda ini. Settingnya dapat dilihat dari penempatan Amcor di perpustakaan universitas, tata ruang yang eksklusif dan dan nyaman di lengkapi dengan fasilitas teknologi yang lengkap seperti komputer. TV dan DVD player, mesin fotocopy, dan scenner. Selain itu terdapat juga koleksi mengenai Amerika yang telah dipilih secara selektif oleh subjeck spesialist dari Washington dan kegiatan-kegiatan yang secara langsung di programkan oleh IRC Kedutaan AS. Kegiatan-kegiatan tersebut berupa seminar, diskusi dan putar film yang tema dan pembicaranya di kiriom langsung dari IRC Kedutaan AS. Argumentasi mengenai tujuan Amcor sangat ditekankan oleh Kedutaan AS agar Amcor dapat di terima di FISIP UI. Tujuan-tujuan dalam pidato yang disampaikan oleh Chief of Mission, Kedutaan AS, Lewis Emselem pada saat pembuakaan American Corner di MBRC FISIP UI adalah
”1) Menghadirkan perspektif yang berbeda mengenai Amerika Serikat. 2) Memperbaiki citra dan steriotipe yang negatif tentang Amerika Serikat. 3) Menghadirkan perspektif Internasional untuk dapat saling menghargai satu dengan yang lainnya.4) Sebagai bentuk kerjasama diplomatis antara Indonesia dengan Amerika Serikat. ”

Disamping disampaikan melalui pidato, tujuan-tujuan Amcor juga di sebarkan brosur-brosur American Corner yang di rancang oleh Seksi Hubungan Masyarakat Kedutaan AS. Tujuan-tujuan tersebut antara lain
“ Menyediakan informasi yang akurat dan terpercaya Amerika Serikat, menyediakan fasilitas untuk penelitian dan Studi, memberikan bantuan pengembangan intelektual dengan menyediakan sumber-sumber informasi yang berkualitas untuk dunia pendidikan, dan memperkenalkan nilai-nilai, pandangan-pandangan, kebudayaan serta norma-norma Amerika kepada masyarakat Indonesia.”

Jadi dengan menerangkan tujuan-tujuan yang baik itu kepada masyarakat FISIP UI, pihak Kedutaan AS mengharapkan Amcor dapat di terima serta memperoleh tanggapan yang baik dari sivitas FISIP UI pada khususnya dan sivitas UI pada umumnya.
Dari penjelasan diatas, akhirnya terdapat 3 kekhususan/karakteristik yang khas dari propaganda

”(1)ia merupakan komunikasi yang disengaja dan dirancang untuk mengubah sikap orang yang menjadi sasaran.(2) Ia menguntungkan bagi si pelaku propaganda untuk memajukan kepentingan orang yang dituju (inilah alasannya mengapa periklanan, humas, dan kampanye politik merupakan bentuk propaganda) dan (3) ia biasanya merupakan informasi satu arah berlawanan dengan pendidikan yang mempunyai dua arah dan interaktif. Jika pendidikan bersifat dua arah, propaganda merupakan komunikasi satu arah. Dalam sudut pandang, jika pembelaan dari apa yang kita percaya adalah pendidikan, maka pembelaan dari apa yang kita jangan percaya adalah Propaganda”(Nancy Snow:2003:50)

2.3.1 Logika Propaganda Baru
Dalam propaganda, tujuan menjadi begitu penting karena tujuan akan menentukan teknik dan isi propaganda. Namun dalam Propaganda baru tujuan bersifat ambigu, bermacam-macam, sering kontradiktif, juga tersembunyi, dan berubah; serta sering terikat pada tujuan organisasi (James E Combs dan Dan Nimmo:1994:27)
Seperti yang terlihat pada MBRC dan Amcor. Keduanya memiliki tujuan-tujuan yang tidak diungkapkan secara eksplisit tetapi secara implisit tetapi tetap berpijak pada tujuan organisasi. Oleh karena itu sangat sulit untuk menganalisis tujuan atau mengidentifikasikan suatu hal sebagai propaganda kecuali dengan melihat ciri-cirinya sebagai penyebarluasan ide dan mengaitkannya dengan hal-hal lain yang berada di sekelilingnya seperti tujuan organisasi dan badan induk penyebarluasan propaganda.
Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai penyebarluasan ide yang merupakan inti dari propaganda, secara sederhana propaganda dapat diibaratkan dengan Penyebaran benih dalam Holtikultura.
”Tanah menyebarluaskan benih, manusia menyebarluaskan ide dan keduanya menyebarluaskan sejenis kultur yang kadang-kadang bersifat acak, dan kadang-kadang memiliki tujuan tertentu. Sebagaimana ditekankan oleh praktik seni komunikasi masa kini” (James E Combs dan Dan Nimmo:1994:12)

Lebih lanjut, James E combs dan Dan Nimmo dalam bukunya Propaganda baru : Kediktaktoran Perundingan Dalam Politik Masa Kini, mengutip perkataan Jesse Jackson
”Saya bekerja ibarat penabur Injil. Sebarkan benih kemana-mana. Beberapa diantaranya jatuh di tanah berbatu, beberapa diterbangkan angin kembali ke wajahmu, tetapi bagian terbannyak jatuh diatas permukaan yang subur dan berkembang biak. Dan benih yang berkembang biak tersebut cukup banyak jumlahnya dibandingkan dengan yang jatuh diatas bebatuan dan yang diterbangkan kembali oleh angin” (James E Combs dan Dan Nimmo:1994:12)

Jika dikaji menurut logika diatas berati keberhasilan propaganda terletak pada teknik yang digunakan yaitu bagaimana menemukan tanah yang subur sebagai ladang persemaian propaganda dan bagaimana memilih pupuk dan teknik persemaian serta perawatan yang baik agar benih-benih yang disebarkan dapat tumbuh sempurna bahkan akan menghasilkan benih baru dengan kualitas lebih baik lagi. Tanah, sebagai ladang persemaian Propaganda baru dapat dilihat sebagai tempat yang tepat dimana Propaganda baru dapat menyebarluaskan ide-idenya secara efektif sesuai dengan tujuannya. Teknik persemaian dan perawatan dapat dilihat sebagai teknik Propaganda baru dalam penyebarluasanan ide-ide dengan menggunakan beragam cara dan menggunakan beragam alat penyebarluasan ide seperti buku, film, musik, internet dan sumber-sumber informasi lainya seperti yang kita kenal saat ini. Sedangkan pupuk dapat dilihat sebagai strategi bagaimana agar propaganda dapat tumbuh subur di lahan yang subur dan bagaimana agar alat propaganda dapat efektif digunakan sebagai media penyebarluasan ide.
Praktik penyebarluasan ide seperti yang diperlihatkan dari penjelasan diatas sama seperti yang dilakukan oleh Kedutaan AS. Untuk menyebarkan informasi mengenai AS, Kedutaan AS membangun pusat informasi yang bernama Information Resource Center (IRC) di seluruh kedutaan AS, lalu agar informasi mengenai AS dapat tersebar sampai ke pelosok, maka diciptakanlah sebuah American Corner dengan konsep tidak hanya sebagai pusat informasi tentang Amerika tetapi juga sebagai ”programing site” dan ”community development” dalam memperkenalkan dan menanamkan kebudayaan Amerika ditempat Amcor berada. Penempatan Amcor pun tidak di tempatkan di sembarang tempat tetapi di tempatkan di suatu tempat dimana tingkat kebutuhan informasi disana sangat tinggi, tempat itu adalah di perpustakaan. Pemilihan Perpustakaan Perguruan tinggi sebagai tempat Amcor di Indonesia sangatlah tepat karena tingkat kebutuhan informasi di perguruan tinggi di indonesia sangat tinggi. Sivitas universitas sangat membutuhkan informasi yang bersifat mutakhir untuk memperlancar proses belajar mengajar dan untuk pengembangan ilmu serta penelitian. Koleksi yang tersedia di Amcor pun tidak sembarangan, semuanya di rencanakan dengan teliti. Koleksi terdiri dari buku, majalah, jurnal online, film dan musik yang dipilih secara selektif oleh subjek spesialis dari Washington DC. Pengembangan koleksi di selaraskan dengan tujuan Amerika bahwa apa yang ingin mereka sampaikan tentang Amerika, hal tersebut di realisasikan dalam bentuk koleksi-koleksi yang tersedia di Amcor. Teknik lain agar Amcor diakui keberadaannya sebagi pusat informasi dan ”programing site” serta ”community development”, dibuatlah kegiatan-kegiatan seperti seminar dan diskusi dengan tema-tema mengenai Amerika. Pembicara serta alur kegiatannya di tetapkan langsung oleh Kedutaan AS melalui IRC.
2.3.2 Jenis-jenis Propaganda
Propaganda yang berkembang lebih halus dalam masyarakat modern yang maju memperoleh bentuk dan fungsi. Berikut ini merupakan jenis-jenis propaganda secara garis besar yang diambil dari buku James E Combs dan Dan Nimmo yang berjudul Propaganda Baru : Kediktaktoran Politik dalam Politik Masa Kini (1994) :
a. Propaganda Agitasi
Propaganda agitasi menyerahkan dirinya pada elemen-terdelam diri kita, tetapi propaganda itu selalu di terjemahkan kedalam pernyataan melalui keterlibatan fisik dalam aktivitas yang menegangkan dan berlebihan. Idenya adalah untuk menggerakkan masyarakat, menggelorakan mereka untuk melakukan hal-hal yang mungkin tidak mereka lakukan.
b. Propaganda Integrasi
Sebagai sebuah propaganda kecocokan yang mencoba untuk membuat manusia saling berhubungan satu sama lain melalui cara yang dapat diterima. Propaganda ini membawa secara bersama-sama promosi kohesi dan konsensus serta menggabungkannya. Propaganda ini lebih halus dan lebih kompleks daripada propaganda Agitasi bukan mencari kegembiraan yang bersifat sementara melainkan pembentukkan total manusia secara mendalam
c. Propaganda Disposisi
Jika propaganda agitasi mendorong tindakan (mari kita bergerak), dan propaganda Integrasi mendorong hubungan sosial (mari kita bergabung) maka propaganda disposisi mendorong pengetahuan sosial (mari kita mempercayai). Tetapi propaganda Disposisilah yang mengungkapkan apa yang kita anggap sebagai sesuatu yang benar dan nyata, apa yang kita dan dunia sepelekan.

Propaganda Disposisilah yang merupakan jenis propaganda yang digunakan oleh MBRC dan Amcor. Karena propaganda disposisi mendorong suatu pengetahuan sosial bahwa MBRC dan Amcor merupakan suatu pusat sumber informasi. Dengan nama Pusat Informasi, masyarakat di dorong untuk percaya bahwa ini adalah pusat sumber informasi dan disinilah tempatnya jika ingin mencari inform asi. Semua detail yang meliputi MBRC dan Amcor di rencanakan oleh kedua belah pihak untuk mencapai suatu opini publik bahwa ini merupakan pusat sumber informasi dan pengetahuan.
2.3.3 Alat Propaganda dan Media Propaganda
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa propaganda membutuhkan suatu alat (instrumen) untuk mencapai tujuan-tujuannya. Kebutuhan akan adanya instrumen untuk memperluas propaganda merupakan bagian dari teknik penyebarluasan propaganda. Yang dimaksud dengan Alat Propaganda adalah
” Semua alat propaganda, “semua tangga nada ekspresi dari sebuah ide atau sebuah lembaga”, yang tidak hanya meliputi Koran dan “kisah nyata” tetapi juga “radio, gambar bergerak (film), artikel majalah, pidato, buku, pertemuan masyarakat dan fakta” (James E Combs dan Dan Nimmo:1994: 82) ”

Jadi, dapat dikatakan bahwa alat propaganda merupakan sumber-sumber informasi dan tentu saja informasi yang terdapat dalam propaganda merupakan informasi umum seperti yang dikatakan oleh James E Combs dan Dan Nimmo bahwa
” Dalam masyarakat teknologi masa kini, propaganda bukan saja ada di mana-mana, baik untuk kepentingan praktis maupun sebagai informasi. Sejak kelompok teknokratik elit mengontrol alat komunikasi massa. Apa yang mereka komunikasikan di peroleh pertama kali dari teknik bukan dari aturan moral maupun politik (James E Combs dan Dan Nimmo:1994: 177)”

Sejalan dengan pemikiran James E Combs dan Dan Nimmo, James R Beningger menjelaskan kaitan informasi dengan Propaganda. Ia menyebutnya sebagai ”Revolusi Kontrol”
”Di Dunia modern, kemampuan organiasi untuk mengembangkan control mereka terhadap sesuatu serta terhadap masyarakat telah di perkuat oleh kemajuan teknik…Kebutuhan informasi yang cepat dan akurat memberi dorongan bagi pembentukan dan penggunaan teknologi yang efisien , termasuk film, Radio, buku, dll. Semua penemuan tersebut mendorong pencapaian rasional mereka yang mencari control melalui surat elektronik, jaringan computer, bahkan computer mata-mata. Dunia “kabel” tempat kita hidup merupakan kepentingan organisasi, tetapi dalam skala konsekuensi yang luas bagi hidup kita termasuk potensi pemakaian control organisasi melalui komunikasi lebih dari yang kita fikirkan, rasakan dan lakukan. Golongan elit Machiaveli yang “sedikit” mengatur yang “banyak”, tetapi sdekarang mereka melakukannnya melalui organisasi serta keahlian dan teknik komunikasi modern (James E Combs dan Dan Nimmo:1994:.59)

Alat yang dipergunakan oleh MBRC dan Amcor disini adalah sumber-sumber informasi berupa sumber-sumber informasi tercetak digital dan elektronik. Tentunya penyebarluasan alat propaganda ini di sesuaikan dengan tujuan organisasi. MBRC melengkapi koleksinya dengan sumber-sumber informasi yang mutakhir dalam berbagai format dengan tujuan agar kebutuhan informasi untuk memperlancar kegiatan belajar, mengajar dan penelitian dapat terpenuhi, sedangkan tujuan Amcor melengkapi koleksinya agar informasi mengenai Amerika mengenai berbagai hal dapat terpenuhi selain itu juga untuk menciptakan opini tertentu mengenai Amerika.
Alat memerlukan media untuk menempatkan alat propaganda agar propaganda dapat tersebar secara efektif. Media dalam logika propaganda dapat diartikan sebagai ladang persemaian propaganda. Seperti ketika kita ingin menanamkan benih , kita membutuhkan sebidang tanah yang subur untuk menanamkan benih tersebut, sebidang tanah itulah yang disebut sebagi Ladang Persemaian. Salah satu ladang persemaian Propaganda yang efektif adalah Pendidikan. Nancy Snow dalam bukunya Propaganda, Inc mengutip penjelasan Noam Chomsky sebagai berikut
”Satu alasan mengapa propaganda sering bekerja lebih baik pada kalangan terdidik dibanding dengan yang tidak terdidik ialah bahwa orang berpendidikan membaca lebih banyak, sehingga meeka menerima lebih banyak propaganda...Elit terpelajar berada dalam posisi terbaik untuk mempengaruhi kebijakan.” (Nancy Snow: 2003:59)
Jadi, dapat dikatan bahwa Institusi pendidikan merupakan ladang persemain propaganda yang sangat efektif untuk mencapai tujuan-tujuan propaganda. James E Combs menjelaskan secara mengenai propaganda dalam Institusi Pendidikan sebagai berikut
”Bagaimanapun, Institusi pendidikan merupakan suatu kesatuan sosial. Institusi tersebut melibatkan hubungan manusia dengan manusia, kelompok dengan kelompok dan organisasi dengan organisasi. Pengusaha pendidikan bersaing untuk mendapatkan uang untuk menjalankan pekerjaan mereka, prestasi untuk institusi-institusi mereka, dan kekuasaan serta harga diri. Jadi, Pendidikan bersifat politis dan kebal terhadap pemakaian dan konsekuensi dari perundingan dan propaganda dalam mempromosikan kepentingannya itu” (James E Combs dan Dan Nimmo:1994:.242)

Salah satu Institusi Pendidikan yang menjadi fokus penelitian adalah universitas. Menurut Herb Schiller, ”Universitas adalah salah satu struktur kelembagaan yang harus dianalisa secara kritis sekaitan denagn jenis pesan dan informasi yang diterima” (Nancy Snow: 2003:22). Pesan dan informasi yang terima oleh pelajar dapat berasal dari proses belajar mengajar dan dari sumber-suber informasi lainnya seperti bahan bacaan, internet dan sumber-sumber informasi lainnya. Sumber-sumber informasi itu biasanya ditemukan di pusat informasi atau yang lebih di kenal dengan Perpustakaan. Oleh karena itu, perpustakaan sebagai pusat informasi sangat rentan terhadap propaganda ini. Perpustakaan dapat menjadi media yang efektif dalam penyebarluasan Propaganda karena tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pusat informasi universitas adalah perpustakaan.
2.3.4 Analisis Propaganda
” Tradisi analisis propaganda lahir ketika manusia belum mengenal huruf, saat dimana karya lisan sangat berpengaruh dan pembicaraan mendominasi.” (James E Combs dan Dan Nimmo:1994:264)
Hingga kini propaganda menjadi fenomena yang sulit di hindari, bahkan perpustakaan telah dijadikan ladang persemeian propaganda. Seperti yang terjadi di MBRC. MBRC menjadi alat propaganda bagi FISIP UI dan Amcor. FISIP UI menggunakan MBRC sebagai Pusat Sumber informasi dan pengetahuan yang di perlukan dalam penyebaran informasi untuk memperlancar kegiatan belajar mengajar dan penelitian di samping MBRC juga di jadikan alat promosi internasional FISIP UI dengan menempatkan Amcor pada salah satu bagiannya. Kedutaan AS menempatkan Amcor di MBRC agar informasi mengenai Amerika dapat tersebarluaskan disamping itu melaui kegiatan yang diselenggarakan ia dapat menanamkan dan mempromosikan pemikiran Amerika. Dalam hal ini Perpustakaan sepertinya menjadi alat propaganda.
Oleh karena itu perlu adanya evaluasi agar proses propaganda yang sedang berlang tidak lepas kendali dan tidak keluar dari tujuan FISIP UI sebagai lembaga pendidikan dan tujuan Perpustakaan Perguruan Tinggi. Evaluasi ini dapat dilakukan dengan melakukan penelitian dan analisis terhadap propaganda yang sedang terjadi.
”Propaganda merupakan suatu refleks terhadap imansitas, rasionalitas dan kesengajaan dunia modern. Propaganda merupakan dinamika baru masyarakat, karena kekuatan telah dibagi-bagi dan disebarluaskan, dapat lebih banyak yang dapat diperoleh melalui ilusi daripada melalui paksaan...Penelitian propaganda akan membawa keterbukaan dari ketidakjelasannya, sampai tentu saja, menjadi tidak mungkin lagi bagi seseorang Anatole France untuk mengobservasi berdasarkan kenyataan Demokrasi dan tentu saja semua golongan masyrakat) dijalankan oleh seorang ahli teknik yang tak kasat mata” (Harrold Lasswell:1927:228)

Penelitian propaganda pada akhirnya dapat dijadikan evaluasi dan refleksi untuk meluruskan kembali hal-hal yang telah dianggap keluar dari jalur yang utama. Penelitian propaganda dapat mulai dari analisis teknik yang diguakan. Dari analisis teknik kita dapat melihat tujuan-tujuan yang hendak dicapai lalu dari tujuan-tujuan yang telah terlihat kita bisa merefleksikan kembali pada prinsip dan pedoman yang seharusnya berlaku pada bidang tersebut yang dalam hal ini adalah prinsip dan pedoman Perpustakaan Perguruan tinggi.
2.3.4.1 Analisis Teknik
Dalam propaganda, teknik memegang peranan begitu penting. Teknik merupakan sebuah cara agar tujuan propaganda dapat tercapai. Jacques Ellul dalam bukunya The Technological Society menjelaskan mengenai pentingnya suatu teknik dalam Propaganda
”Teknik bukan saja merupakan alat, merupakan ”suatu organisasi bersama dari semua teknik individual yang telah dimanfaatkan untuk menjamin tercapainya tujuan apapun” Pada lain pihak, teknik terdiri dari ”keseluruhan metode...yang efisien dalam setiap bidang pengetahuan manusia” (James E Combs dan Dan Nimmo:1994:115)

Pendekatan yang dapat digunakan dalam propaganda agar seseorang dapat mengikuti arahan propaganda secara sadar ataupun tidak sadar adalah dengan menggunakan pilihan-pilihan bebas dalam memilih informasi. Kebebasan dalam memilih ini didasarkan pada sistem demokratis yang telah menjadi ideologi global. Maka berdasarkan hal ini, Ellul menilai bahwa Demokrasi tidak dapat melepaskan diri dari nilai-nilai totaliter terutama Kediktaktoran dalam pembentukan informasi.
Kekuatan yang terletak pada organisasi-organisasi besar dan komunikasi massa adalah membuat ilusi terhadap pilihan-pilihan bebas....Di negara-negara kapitalis, manajemen informasi telah menjadi sifat totaliter (James E Combs dan Dan Nimmo:1994:120)

Demikianlah dapat diakatakan bahwa peran teknik begitu besar. Dan dalam penelitian propaganda, analisis teknik sangat diperlukan untuk mengungkap tujuan-tujuan propaganda. Berikut dibawah ini akan dijelaskan beberapa dari Teknik analisis Propaganda. Diantranya yaitu Analisis Teknik Isi Propaganda, Analisis isi, Analisis Etis, Analisis Ritual. Semua teknik analisis ini diambil dari literatur berjudul Propaganda Baru dalam Kediktaktoran Perundingan Masa Kini karya James E. Combs dan Dan Nimmo
A. Analisis Teknik Isi
Para sarjana dan para reformis pemikiran analisis propaganda berkumpul pada tahun 1937 untuk mendirikan Institut analisis Propaganda (Institute for Propaganda) atau yang biasa disingkat IPA.(www.wikipedia.com) Institut ini mengatur dan menerbitkan karya-karya para ahli sejarah terkemuka, ahli politik,ahli sosiologi dan wartawan yang menanganni analisis propaganda. Sebagai hasil dari pengamatannya IPA telah menggolongkan interaksi sosial ke dalam 7 teknik yaitu :
1. Pemberian julukan yang buruk (The Name-Calling)
Yang dimaksud dengan ”name-caliing” adalah pemberian julukan atau sebutan dalam arti yang buruk, dengan maksud untuk menurunkan derajat nama seseorang atau prestise sesuatu ide di muka umum. Sebutan-sebutan seperti ”bunglon”, ”yahudi”, ”lintah darat” terhadap seseorang atau sesuatu pihak adalah tidak lain bermaksud unutuk memberikan julukan karakteristik yang bersifat menurunkan derajat.
2. Sebutan yang muluk-muluk (Glitering generalities)
Adalah suatu teknik dimana seseorang propagandis menonjolkan gagasannya dan sanjungan-sanjungan agung seperti penggunaan kata-kata/kalimat ”demi keadailan dan kebenaran” atau ”demi membela kaum tertindas” dan sebagainya. Propagandis dalam hal ini mengidentifikasikan dirinya atau gagasannya dengan segala apa yang serba luhur dan agung.
3. Pinjam Ketenaran (Transfer )
Adalah ciri-ciri kegiatan propaganda yang memakai teknik pemakaian pengaruh dari seseorang tokoh yang paling berwibawa di lingkungan tertentu. Misalnya : Pilihan A karena ia sahabat baik gubernur. Dapat pula penggunaan prestise yang kita hormati dengan mempunya autoritas dari sangsi-sangsi tertentu, dengan menggunakan slogan-slogan tertentu.
4. Kesaksian (Testimonial)
Adalah cara menggunakan nama orang-orang terkemuka yang mempunyai otoritas dan prestise sosial tinggi di dalam menyodorkan atau myakinkan sesuatu hal dengan jalan menyatakan misalnya bahwa hal tersebut oleh orang-orang terkemuka tadi.
5. Pura-pura orang kecil (Plain-folks)
Adalah cara propaganda dengan menggunakan cara memberi identifikasi terhadap ide. Maksud cara ini yaitu menyamakan diri dengan rakyat. Propagandis sama dengan atau mengabsi pada komunikan.
6. Penumpukkan fakta yang mendukung (Card-stacking)
Yaitu propaganda dengan menonjolkan hal-hal baiknya saja, sehingga publik hanya dapat mengenal dari satu segi
7. Ikut-ikutan (Bandwagon Technique)
Dilakukan dengan cara menggembar-gemborkan sukses yang dicapai oleh seseorang atau suatu lembaga atau suatu organisasi

Dari ke tujuh teknik ini hampi semunya pernah dilakukan oleh MBRC maupun Amcor. MBRC menggunakan teknik Transfer dengan menggunakan nama Mriam Budiardjo dan Resource Center. Amcor sendiri menggunakan teknik ke ketujuh teknik ini terutama dalam penyampain ceramah dalam diskusi dan seminar-seminar yang diadakannya.
B. Analisis Isi : Mengukur Pidato Politik
Fokus Analisis isi adalah manifestasi yang terdapat di dalam pesan-pesan. Analisis ini mengemukakan hubungan antara kata-kata, gambar dan simbol pesan lainnya, yaitu isi manifestasi dan tujuan propaganda tersebut. Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa arti dalam pesan dapat berasal dari frekuensi terjadinya bermacam-macam elemen (kata-kata, gambar, dan simbol-simbol lainnya) yang terdapat di dalam pesan-pesan. Sebagai teknik riset, analisis isi : (1) menegaskan kategori yang tepat mengenai elemen-elemen isi, (2) secara sistematis menghitung elemen-elemen itu itu dalam semua pesan dengan unsur pokok sebuah contoh yang representatif, (3) menarik kesimpulan mengenai isi propaganda, tujuan, dan pengaruhnya berdasarkan pola yang bersasal dari frekuensi.
Analisis ini dapat digunakan untuk menganalisi isi pidato yang mengandung tujuan propaganda tersebut. Teknik ini dapat digunakan dalam penelitian ini untuk menjelaskan tujuan-tujuan Amcor dan dan tujuan-tujuan MBRC yang disampaikan melalui pidato dari tanggapan langsung dari orang-orang yang terlibat langsung di dalam proses ini.
C. Analisis Etis
Analisis Etis berasal dari pandangan Rober Goodin yang memandang propaganda sebagai bentuk ”politik penyelewengan”.
Dusta menyembunyikan informasi, memilih lawan dan menjejali orang dengan sekian banyak informasi yang tidak relevan. Penyelewengan politik itu tidak etis, dan terdiri dari sekian banyak campur tangan yang tidak disukai terhadap kehidupan orang lain: ” bila kita memanipulasi orang lain, kita menyebabkan dia menyebabkan sesuatu yang mungkin tidak akan ia lakukan apabila kita tidak bujuk-dengan kata lain, memanipulasiorang sangatlah bertentangan dengan keinginan mereka”. Bagi Goodin, walaupun jika pesan propaganda akurat, pesan tersebut masihlah tidak lengkap. Para ahli propaganda hanya memilih informasi yang membantu yang membantu kepentingan mereka sendiri. (Robert E.Goodin:1980:13)

Dengan membandingkan propaganda sepanjang dimensi terpilih dengan bentuk politik manipulasi, Goodin mengaggap propaganda ”agak memperdayakan” dan agak bertentangan dengan keinginan sebenarnya dari masyarakat yang dituju oleh propaganda yang hanya memiliki pengaruh sedikit sebab orang akan segera mengetahui arti propaganda yang sebenarnya serta tujuannya untuk membujuk. Menurut penilaian Goodin, propaganda adalah manipulasi kecil, namun tetap tidak etis.
Teknik ini dapat menjadi teknik utama dalam menganalisis sisioetis propaganda yang dilakukan di perpustakaan. Pada akhirnya hasil analisis ini akan memberikan refleksi kembali terhadap apa anggap salah dan keluar jalur mainstream perpustakaan perguruan tinggi dan apa yang dianggap benar dan dapat membantu dalam pengembangan perpustakaan perguruan tinggi.

D. Analisis Ritual
Analisis ritual dapat digunakan bila simbol-simbol yang membentuk propaganda serta responnya terhadap simbol tersebut dibakukan dan terjadi berulang-ulang. Upacara seperti upacara bendera atau pengangkatan presiden, pertemuan puncak antara para pemimpin antara para pemimpin dunia, bahkan program tanda-tanda yang dibakukan oleh program-progtram baru merupakan contoh ritual sekaligus contoh propaganda ritual. (James E Combs dan Dan Nimmo:1994:12281)

Analisis ritual memegang peranan penting dalam tradisi analisis propaganda. Ritual propaganda berkembang dibawah observasi observasi tentang bagaimana orang bertindak dalam standardisasi, cara yang di ulang-ulang.. Analisis ritual ini dapat digunakan untuk menjelaskan tentang kegiatan-kegiatan rutin yang diadakan Amcor seperti pertemuan tahuanan seluruh Amcor dan kegiatan perayaan hari-hari besar Amerika dan internasional.









BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian
Metode penelitian digunakan untuk menganalisis dan mengumpulkan data. Metode penelitian yang saya adalah kualitatif yaitu interpretativ-konstruktif dengan pendekatan grounded theory. Berkaitan dengan hal ini, Srantakos (1993) menyatakan bahwa penelitian kualitatif sedikit banyak dianalogikan dengan proses penyelidikan (investigasi), tidak berbeda dengan kerja detektif yang harus mendapatkan gambaran tentang fenomena yang diselidikinya.
Menurut prinsip grounded theory yang dikembangkan oleh Glesser dan Strauss, seorang peneliti harus menghindari verifikasi teori terhadap masyarakat yang sedang ditelitinya, artinya peneliti harus menganggap teori yang dikembangkannya dalam penelitian datang dari masyarakat itu sendiri, bukan dari luar dan kemudian di cocok-cocokkan atau diuji benar salahnya. (Pendit,2003)

Oleh karena itu, saya hanya menggunakan literatur sebagai komparasi dengan temuan peneliti lain. Craswell (1994) menjelaskan bahwa dalam penelitian kualitatif dengan pendekatan grouded theory seorang peneliti dapat dapat pula mengintegrasikan literatur-literatur yang relevan dalam sesi akhir penelitian, ketika melakukan pembandingan yang berkaitan dengan temuan penelitian. Crasswell sangat merekomendasikan penggunaan literatur dengan model tersebut karena model tersebut mencirikan penggunaan literatur yang sangat induktif. Pengintegrasian literatur-literatur pada saat proses analisis digunakan hanya untuk mempertegas analisis data tanpa bermaksud untuk mengguji kebenaran dan kesalahan teori berdasarkan hasil penelitian lapangan yang di dapatkan. Oleh karena itu ini sesuai dengan dengan metode kualitatif yang bersifat induktif yaitu pengambilan kesimpulan secara general yang di peroleh dari pembangunan teori dari data penelitian yang di peretgas dengan teori penelitian sebelumnya atau literatur-literatur yang sesuai.
Proses analisis pada penelitian kualitatif menggunakan paradigma interpretativ konstruktif.
Penggunaan interpretatif diperlukan dalam menemukan pemahaman yang mendalam mengenai suatu fenomena yang diteliti. Sedangkan konstruktif membantu mencari pengertian dan pemahaman yang mendalam mengenai konsep-konsep di balik fenomena yang diteliti (Porwandri, 2001).

Jadi, disinilah letak kelebihan metode kualitatif dengan menggunakan paradigma interpretativ konstruktif. Tujuan penelitian kualitatif ini tidak sekedar memberikan eksplorasi dan deskripsi tetapi menghasilkan suatu refleksi. Glasser dan Strauss (1987) mengatakan bahwa metode dengan pendekatan grounded theory merupakan yang terbaik karena teori dikembangkan secara sistematis dari data. Dengan demikian dapat meyakinkan bahwa teori yang ada cocok dan dapat merefleksikan realistas. Dengan demikian pula orang-orang awam yang berkecimpung di bidang yangn diteliti akan dapat memahami teori yang dikembangkan.
Metode ini mencoba melihat dan memaknai suatu fenomena sosial secara alami tanpa berusaha menguji teori dengan tujuan untuk merefleksikan suatu realitas sehingga terjadi proses pemberdayaan. Refleksi menurut kamus Bahasa Indonesia adalah pantulan sebagai jawaban suatu hal atau kegiatan yang datang dari luar; merefleksikan berarti mencerminkan. Jadi, Melalui metode ini dapat memungkinkan tercapainya tujuan-tujuan penelitian ini yaitu dapat untuk menunjukkan bahwa perpustakaan dapat dijadikan alat propaganda, hal ini menjadi refleksi sebagai upaya dalam dalam menegaskan kembali prinsip-prinsip perpustakaan pemberdayaan dan untuk menegaskan kembali peranan dan tanggung jawab pustakawan perguruan tinggi
3.2. Pendekatan Grounded Theory
Pendekatan yang digunakan dalam merancang penelitian ini adalah grounded theory
Grounded Theory adalah suatu pendekatan yang digunakan dalam penelitian baik penelitian kualitatif maupun penelitian kuantitatif yang memungkinkan pemunculan teori dalam suatu penelitian (Carvalho, 2003).

Pendekatan grounded theory memungkinkan teori dibangun berdasarkan data yang ditemukan di lapangan dengan tetap berpedoman pada masalah penelitian. Oleh karena itu elemen-elemen yang membentuk realitas sosial tersebut akan terlihat secara alami dan ini akan menjadi bahan untuk memahami realitas sosial .
Menurut Davidson, grounded theory dikatakan sebagai penelitian yang mendekati kenyataan karena teori dibangun berdasarkan data lapangan, pendekatan yang digunakan adalah induktif yaitu mengumpulkan data-data yang sifatnya spesifik di lapangan lalu kemudian diolah dan di interpretasikan kemudian mencapai suatu kesimpulan. Suatu pendekatan grounded theory menghindari pengujian teori terhadap kesimpulan akhir penelitian. Dengan pendekatan grounded theory , teori dari penelitian sebelumnya atau teori yang berkaitan dengan penelitian itu dapat mempertegas situasi lapangan dan dilihat kembali apakah dari teori tersebut relevan, mana yang meragukan. Pendekatan grounded theory sekaligus memungkinkan berkembangnya pemahaman konseptual baru berdasarkan pada temuan dilapangan. Klarifikasi dan penajaman kembali pemahaman dapat terus menerus dilakukan.
3.2.1 Teori Formal dan Teori Substantif
Teori dibedakan dalam dua jenis yaitu teori formal dan teori substantif. Menurut Glasser dan Strauss (1967)
Teori substantif adalah teori yang dikembangkan untuk suatu area substantif-empiris. Area yang khusus dan relatif terbatas. Sedangkan teori formal yang dimaksud adalah mengarah pada area yang lebih lebar dan umum, lebih formal, sosialisasi, mobilitas sosial. Keduanya dalam tingkatan yang berbeda, yang perbedannya hanya dalam derajat. Karenanya, yang satu dan yang lainnya dapat saling membayangi dan saling melengkapi.

Penelitian ini berfokus pada pengembangan teori formal oleh karena itu diperlukan analisis komperatif dari teori-teori yang ditemukan dilapangan maupun teori dari literatur dengan demikian teori-teori substantif dapat membantu dalam membangun teori formal.
Sebelum mendapatkan teori formal mengenai Hubungan MBRC dengan Amcor yang diartikan dalam propaganda, terlebih dahulu peneliti akan mengumpulkan teori-teori substantif yang berkaitan dengan keberadaan Amcor. Hal itu meliputi latar belakang Amcor, tujuan Amcor dan aktor-kator atu pelaku dibalik penciptaan Amcor di Indonesia.Selain itu saya juga mencari data mengenai Keberadaan MBRC yang meliputi latar belakang MBRC, tujuan MBRC dan aktor-aktor sebagi penentu kebijakan MBRC. Saya juga perlu untuk mengumpulkan teori-teori substantif yang berasal dari literatur atau berasal dari penelitian sebelumnya seperti sejarah Amcor dalam hubungannya dengan kebijakan Amerika Serikat, teori dan prinsip dari Perpustakaan Perguruan Tinggi, serta teori dan karakteristik propaganda. Teori-teori yang berasal dari lapangan mengenai MBRC dan Amcor tadi di terjemahkan dan di interpretasikan dalam pengertian propaganda. Tujuannya antara lain mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai pola hubungan tersebut. Hasil dari pemahaman yang mendalam ini kemudian dapat menjadi refleksi dalam evaluasi serta pemberdayaan kembali prinsip-prinsip perpustakaan perguruan tinggi serta peranan dan tanggung jawab pustakawan dalam mengelola perpustakaan perguruan tinggi.
3.3 Metode Pengumpulan data
Metode pengumpulan data yang saya gunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, tinjauan literatur dan kuesioner
3.3.1 Wawancara
Saya memilih metode wawancara. Wawancara adalah

percakapan dan tanya jawab yang diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Wawancara kualitatif dilakukan bila peneliti bermaksud untuk memperoleh pengetahuan tentang makna-makna subjektif yang dipahami individu berkenaan dengan topik yang diteliti, dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu tersebut, suatu hal yang tidakdapat dilakukan melalui pendekatan lain. (Poerwandri, 2001)

Dalam memilih metode awancara saya memilih wawancara dengan pedoman umum. Wawancara dengan pedoman umum adalah

Dalam proses wawancara ini, peneliti dilengkapi dengan pedoman wawancara yang sangat umum, yang mencantumkan isu-isu yang harus diliput tanpa menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin tanpa bentuk pertanyaan yang eksplisit. Pedoman wawancara yang diigunakan untuk mengingatkan peneliti mengenai aspek-aspek yang harus dibahas, sekaliggus menjadi daftar pengecekan (checklist) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Dengan pedoman demikian, peneliti harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat tanya, sekaigus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks aktual saat wawancara berlangsung. (Poerwandri, 2001)

Jadi, saya memilih metode wawancara dengan pedoman umum karena lebih fleksibel dan lebih luwes sehingga dapat disesuaikan dengan konteks yang berlangsung serta dapat melangkapi dari pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.
Untuk mendapatkan teori-teori substanttif mengenai latar belakang perubahan Perpustakaan FISIP UI menjadi MBRC, seluk-beluk MBRC, serta latar belakang dan keterangan mengenai proses kedatangan Amcor di MBRC FISIP UI, saya telah mewawancari Bapak Purwono, M. Hum sebagai Kepala Seksi Perpustakaan MBRC, Dra.F.Iriani Sophian Yudoyoko,M.Si sebagai Direktur MBRC dan Dr.Bambang Shergi Laksono selaku Wakil Dekan I bidang Akademik FISIP UI. Untuk mencari data mengenai seluk beluk Amcor, latar belakang Amcor didirikan di FISIP UI, serta perencanaan Amcor, saya telah mewawancarai Drs Melling Simanjuntak selaku kepala Information Resource Center (IRC), Adeline Widyastuti selaku American Corner Program Assistant,Public Affair Section. Untuk mendapatkan data mengenai pengelolaan Amcor dan pemanfaatan koleksinya saya telah mewawancarai Bill Nashri Perdana, A.Md. Untuk mendapatkan tanggapan mengenai Amcor di MBRC dan untuk memperjelas keberadaan Amcor dilihat dari segi kebijakan Amerika, saya akan mewawancari Dosen FISIP UI dan Dosen Kajian Wilayah Amerika, Ibu Suzie Sudarman.
3.3.2 Observasi
Obeservasi saya lakukan dalam penelitian ini agar saya dapat mengamati kenyataan di lapangan secara seksama sebagaimana yang saya inginkan. Observasi adalah
metode yang paling dasar dan paling tua dari ilmu-ilmu sosial karena dengan cara-cara tertentu peneliti selalu terlibat dalam proses mengamati. Istilah Observasi diturunkan dari bahasa latin yang berariti ”melihat” dan ”memperhatikan”. Istilah Observasi diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut. (Poerwandari, 2001)

Tujuan Observasi adalah mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas dan makna kejadian dilihat dari perspektif mereka yang terlibat dalam kejadianyang diamati tersebut. Deskripsi harus akurat, faktual sekaligus teliti tanpa harus dipenuhi hal-hal yang tidak relevan. Patton (1990)mengatakan data hasil observasi menjadi penting karena :
1. Peneliti akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang konteks dalam mana hal yang diteliti ada atau terjadi
2. Observasi memungkinkan peneliti untuk bersikap terbuka , berorientasi pada penemuan daripada pembuktian, dan mempertahankan pilihan untuk mendekati masalah secara induktif. Dengan berada dalam situasi dalam situasi lapangan yang nyata, kecendrungan untuk dipengaruhi dengan berbagaoi konseptualisasi (yang ada sebelumnya0 tentang topik yang diamati akan berkurang.
3. Mengingat individu yang telah sepenuhnya terlibat dalam konteks hidupnya sering mengalami kesulitan merefleksikan pemikiran mereka tentang pengalamannya, Observasi memungkin peneliti melihat hal-hal yang oleh partisipan atau objek penelitian sendiri kurang disadari.
4. Observasi memungkinkan peneliti memperoleh data tentang hal-hal yang karena berbagai sebab tidak diungkapkan oleh subjek penelitian secara terbuka dalam wawancara
5. Jawaban terhadap pertanyaan akan diwarnai oleh persepsi selektif individu diwawancara. Berbeda dengan wawancara , observasi memungkinkan peneliti bergerak lebih jauh dari persepsi selektif yang ditampilkan subjek penelitian atau pihak-pihak lain.
6. Observasi memungkinkan peneliti merefleksi dan bersifat introspektoif terhadap penelitian yang dilakukannya. Impresi dan perasaan pengamat akan menjadi bagian dari data yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan untuk memahami fenomna yang diteliti.
3.3.3 Kuesioner
Alat lain untuk mengumpulkan data adalah daftar pertanyaan yang sering disebutkan secara umum dengan nama kuesioner. Pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam kuesioner atau daftar pertanyaan tersebut cukup terperincio dan lengkap (Nazir:1998:245). Dalam penelitian ini kuesioner hanya untuk melengkapi data yang kurang lengkap sekaligus untuk menguatkan argumentasi saja. Data yang kurang lengkap tersebut antara lain mengenai pemanfaatan koleksi Amcor mbrc fisip ui. Kuesioner ini berbentuk semi terbuka. Kuesioner ini dibagikan kepada 80 orang pengunjung MBRC secara acak.

3.4 Informan dan Responden
Dalam penelitian kualitatif, pemilihan informan dan responden menjadi sangat penting. Informan disini diartikan sebagai pihak yang terlibat langsung dalam fenomena ini dan dapat menjelaskan detail fenomena ini. Responden ini diartikan sebagai pihak yang mendapatkan dampak langsung terhadap fenomena yang diteliti ini. Informan dan Responden ini biasa diistilahkan subjek penelitian, sasaran penelitian atau sampel. Pemilihan sampel penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai fenomena yang diteliti oleh karena itu pemilihan dilakukan sangat selektif dan sifatnya sangat fleksibel tergantung dari informasi apa yang dibutuhkan peneliti untuk mencapai pemahaman yang mendalam tersebut
Informan yang diwawancari penulis meliputi pihak yang terlibat langsung dalam wawancara ini. Dari pihak MBRC saya mewawancarai Bapak Purwono, M. Hum sebagai Kepala Seksi Perpustakaan MBRC, Dra.F.Iriani Sophian Yudoyoko,M.Si sebagai Direktur MBRC dan Dr.Bambang Shergi Laksono selaku Wakil Dekan I bidang Akademik FISIP UI. Dari IRC saya mewawancarai Drs Melling Simanjuntak selaku kepala Information Resource Center (IRC), Adeline Widyastuti selaku American Corner Program Assistant, Public Affair Section. Dari Amcor sendiri saya telah mewawancarai Bill Nashri Perdana, A.Md selaku pustakawan Amcor. Untuk mendapatkan tanggapan mengenai Amcor di MBRC saya akan mewawancari Dosen FISIP UI Ibu Suzie Sudarman dan 3 orang mahasiswa FISIP UI.
Responden dipilih secara acak. Responden terdiri dari pengunjung MBRC. Jumlah responden yang dibutuhkan adalah 80 orang. Data yang diterima dari responden hanya berfungsi untuk melengkapi data yang belum ada yaitu mengenai pemanfaatan koleksi Amcor. Data ini selain untuk melengkapi data yang belum ada juga untuk menguatkan hasil observasi di lapangan.

3.5 Analisis dan Interpretasi.
Proses analisis pada penelitian kualitatif menggunakan paradigma interpretativ konstruktif.
Penggunaan interpretatif diperlukan dalam menemukan pemahaman yang mendalam mengenai suatu fenomena yang diteliti. Sedangkan konstruktif membantu mencari pengertian dan pemahaman yang mendalam mengenai konsep-konsep di balik fenomena yang diteliti (Porwandri, 2001).

Analisis terhadap data pengamatan sangat dipengaruhi oleh kejelasan mengenai apa yang ingin di ungkap peneliti melalui pengamatan yang inigin dilakukan. Untuk dapat mempresentasikan data observasi seefektif mungkin sesuai tujuan penelitian, beberapa pilihan yang dapat dipertimbangkan antara lain (Patton, 1990) :

1. Mempresentasikan secara kronologis peristiwa yang diamati, mulai dari awal hingga akhir.
2. Mempresentasikan insiden-insidek kritisatau peristiwa-peristiwa kunci (key events), berdasarkan urutan kepentingan insiden tersebut.
3. Mendeskripsikan setiap tempat, setting dan atau lokasi yang berbeda sebelum memresentasikan gambaran dan pola umumnya
4. Mengorganisasikan data dengan menjelaskan proses-proses yang terjadi
5. Memfokus pengamatan pada isu-isu kunci yang diperkiriakan akan sejalan dengan upaya menjawab pertanyaan primer penelitian.

Petton (1990) juga menjelaskan bahwa proses analisis dapat melibatkan konsep-konsep yang muncul dari jawaban atau kata-kata responden sendiri maupun konsep-konsep yang muncul yang dikembangkan atau dipilih peneliti untuk menjelaskan fenomena yang diteliti. Kata-kata kunci dapat diambil dari istilah yang digunakan oleh responden sendiri, yang oleh peneliti dianggap benar-benar tepat dan dapat mewakili fenomena yang dijelaskan.








BAB IV
PROFIL MIRIAM BUDIARJO RESOURCE CENTER DAN AMERICAN CORNER

4.1 Sejarah MBRC
Sejarah MBRC tidak terlepas dari sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) dan Universitas Indonesia (UI) yaitu lembaga yang menaunginya. Dahulu FISIP UI bernama Fakultas Hukum-Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Universitas Indonesia (FH-IPK). FH-IPK telah mempunyai perpustakaan yang bernama Perpustakaan Fakultas Hukum-Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Universitas Indonesia (Perpustakaan FH-IPK).Bersamaan dengan perpindahan lokasi UI dari Rawamangun ke Depok, FH-IPK UI dipisah menjadi dua fakultas yaitu Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI) dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Universitas Indonesia (FIPK UI). Demikian juga nama perpustakaannya di pisah menjadi dua mengikuti nama fakultasnya yaitu Perpustakaan Fkaultas Hukum Universitas Indonesia (Perpustakaan FH UI) dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Universitas Indonesia (Perpustakaan FIPK UI). Pada tahun 1982 berdasarkan Keputusan Presiden No.44/1982, terjadi perubahan nama fakultas dari FIPK UI menjadi FISIP UI. Demikian pula terjadi perubahan nama pada perpustakaannya menjadi Perpustakaan FISIP UI.
Kondisi Perpustakaan FISIP dari awal berdiri hingga sebelum renovasi fisik dan perubahan nama, tidak jauh berbeda dengan perpustakaan perguruan tinggi lainnya. Bentuk fisiknya sangat klasik seperti menggunakan warna putih dan tidak ada hiasan yang menarik perhatian. Koleksi Perpustakaan FISIP UI mencakup subjek disiplin ilmu yang dipelajari oleh 8 program studi yang ada di FISIP UI. Program studi yang ada di FISIP UI adalah program studi Komunikasi, Ilmu Politik, Kriminologi, Sosiologi, Kesejahteraan Sosial, Antropologi, Hubungan Internasional dan Administrasi (Administrasi Negara, Administrasi Niaga dan Administrasi Fiskal). Sistem pelayanan yang diterapkan di perpustakaan FISIP adalah sistem Pelayanan Tertutup (Close Access) dimana pengguna tidak dapat menelusur secara langsung koleksi dan harus petugas yang mengambilkan. Peralatan temu kembalinya masih menggunakan kartu katalog.
Data statistik pengunjung perpustakaan FISIP UI pada tahun 2000 menunjukkan rata-rata pengunjung perhari adalah 118 orang dengan jumlah keseluruhan mahasiswa FISIP adalah 7.813 orang dan jumlah anggota 2250 orang. Dari data tersebut menunjukan bahwa anggota perpustakaan FISIP UI hanya 28,8 %. dari jumlah keseluruhan mahasiswa FISIP UI. Angka ini menunjukkan rendahnya tingkat pemanfaatan Perpustakaan FISIP UI, padahal jika kelancaran proses belajar mengajar salah satu faktornya di tentukan oleh kelengkapan informasi yang tersedia maka semestinya perpustakaan menjadi sesuatu yang dibutuhkan mahasiswa dan pengajar. Angka 28,8% tadi tidak hanya menunjukkan rendahnya tingkat pemanfaatan tetapi lebih jauh lagi menunjukkan rendahnya tingkat keberadaan perpustakaan di mata civitas FISIP UI.
4.2 Miriam Budiardjo Resource Center (MBRC)
Pihak Dekanat FISIP UI menyadari rendahnya tingkat keberadaan Perpustakaan FISIP UI. Oleh karena itu dalam sebuah rapat yang di selenggarakan oleh Dekanat FISIP UI yang juga menyertakan kepala perpustakaan Perpustakaan FISIP UI, maka di ciptakanlah sebuah konsep perpustakaan modern yang dapat menarik minat sivitas FISIP UI untuk mengunjunginya.
Untuk mengawali perubahan perpustakaan, dibutuhkannya sebuah nama yang dapat menjadi brand image baru. Nama ini harus mampu mendekripsikan perpustakaan FISIP UI yang tidak lagi sebagai perpustakaan tradisional tetapi telah berevolusi menjadi sebuah sumber ilmu yang mutakhir, oleh karena itu dilakukannya perubahan nama Perupustakaan FISIP UI menjadi Miriam Budiardjo Resource Center. Perubahan nama ini tidak hanya menciptakan suatu image baru bagi perpustakaan akan tetapi perubahan nama ini semakin memantapkan perpustakaan keberadaan FISIP UI sebagai pusat sumber ilmu yang mutakhirdi lingkungan FISIP UI.
Miriam Budiardjo merupakan salah satu nama penggagas lahirnya (founding mother) FISIP UI. Beliau merupakan Dekan FISIP UI (masa jabatan 1974-1979) dan sekaligus Dekan wanita satu-satunya dari awal FISIP berdiri hingga saat ini. Beliau juga merupakan ilmuan politik ternama yang menghasilkan banyak buku-buku ilmu politik yang menjadi referensi di hampr seluruh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Indonesia. Pemilihan nama beliau menjadi nama Perpustakaan FISIP UI merupakan salah satu bentuk penghargaan FISIP UI atas dedikasi beliau kepada FISIP UI.
Konsep resource center itu sendiri sebenarnya untuk memperlihatkan bahwa perpustakaan FISIP UI telah menjadi pusat sumber ilmu pengetahuan yang mutakhir dengan mengikuti perkembangan teknologi informasi yang ada. Konsep ini lahir dari diskusi pihak dekanat dan pihak perpustakaan. Perubahan nama dari perpustakaan menjadi Resource Center juga untuk menghasilkan pemahaman yang luas dan global mengenai konsep perpustakaan itu sendiri bahwa perpustakaan FISIP UI saat ini tidak lagi menjadi perpustakaan dalam pengertian konvensional yang hanya mengkoleksi bahan-bahan tercetak tetapi telah menjadi pusat ilmu dengan mengkoleksi sumber-smber ilmu pengetahuan dalam berbagai format dari tercetak, elektronik, digital hingga virtual. Tujuan dari perubahan nama ini pada akhirnya untuk mewujudkan sebuah perpustakaan yang professional dan modern.
4.1.2 Perubahan Fisik
Sebagai cara untuk menunjukkan keberadaan dan eksistansi MBRC dan sebagai cara untuk menunjukkan perpustakaan MBRC sebagai perpustakaan professional dan modern, membutuhkan perubahan fisik secara menyeluruh. Tujuan perubahan fisik lainnya yaitu untuk meningkatkan kenyamanan pengguna sekaligus sebagi cara untuk menarik pengguna untuk lebih memanfaatkan perpustakaan. Oleh karena itu perubahan fisik menjadi sangat diperlukan.
Perubahan fisik yang terjadi di perpustakaan FISIP meliputi perubahan interior dan perubahan perlengkapan perpustakaan. Design interior dan design perlengkapan menggunakan konsep modern dan minimalis dengan menggunakan warna orange dan merah sebagai warna dinding. Menurut penelitian sebelumnya mengenai warna dinding MBRC, pada perancangan MBRC ini tim arsitek pembangunan MBRC memberikan jiwa dari karya ini dengan mengambil suatu ciri dari Miriam Budiardjo.
Untuk menonjolkan sisi wanita beliau, tim arsitek tersebut mengambil tema kasih sayang yang didapatkan dalam buaian rahim ibu. Dalam rahim seorang ibu terjadilah kasih sayang pertama yang dialami manusioa sebelum proses kelahirannya. Nutrisi yang diberikan oleh ibu dalam kandungan dapat diibaratkan ilmu yang kita dapatkan ataupun kita cari dari koleksi MBRC. Buaian kasih sayang tersebut di terjemahkan dalam bahasa bentuk disain yang lembut yang menggunakan bentuk lengkung. Suasana monoton dan kaku dari bangunan dan susunan ruang yang berbentuk tegas, maskulin dan geomtris diubah secara total dengan menggunakan bentuk lengkung dan kurva. (

Proses pembangunan MBRC ini dimulai dengan perencanaan tahun 2003. Setelah di sepakati bersama dalam rapat Dekanat dengan pihak perpustakaan maka pada bulan November 2003 proses pembangunan berjalan. Pembangunan tersebut selesai pada tahun 2004. Total dana yang digunakan untuk perubahan fisik ini mencapai 2 Milyar rupiah. Dana tersebut didapatkan dari nana tiap departemen ditambah sumbangan dari Miriam Budiardjo Fondation.
MBRC memiliki luas 931 m2 terdiri dari 2 lantai yang keseluruhannya terdapat di gedung D FISIP UI. Kedua lantai ini dihubungkan dengan satu tangga putar di tengah ruangan dan tangga darurat yang sudah ada sebelum terjadi perubahan menjadi MBRC. Lantai dua MBRC dipergunakan untuk menyimpan koleksi yang dapat di pinjam keluar oleh pengguna. Lantai dua terdiri dari ruang koleksi dan ruang skripsi, tesis dan laporan akhir, meja baca sekat (study carrel), bagian sirkulasi, lobi, katalog online (OPAC), rak pameran untuk buku baru, tempat kumpulan soal-soal ujian (past exam papers collection, laci kumpulan silabus (syllabi drawer), gudang, ruang kepala perpustakaan, ruang pengolahan dan ruang server untuk input data.
Lantai tiga dipergunakan untuk menyimpan koleksi yang tidak boleh dipinjam keluar atau harus dibaca di tempat. Selain itu, dilantai 3 juga terdapat ruang baca terbuka, ruang koleksi majalah dan jurnal, koleksi referensi, ruang seminar yang dilengkapi dengan audio visual, layanan internet, dan juga American Corner yang khusus memuat koleksi dari Amerika .
4.1.3 Perubahan Sistem Pelayanan
Sistem pelayanan MBRC adalah sistem pelayanan terbuka (open access). Sebuah sistem pelayanan terbuka dapat menghubungkan langsung pengguna dengan sumber informasi. Sehingga pengguna dapat menelusur sumber-sumber informasi tadi secara mandiri, optimal dan tanpa batas.
Perubahan sistem pelayanan ini terjadi karena tuntutan dari pengguna yang menghendaki sistem pelayanan terbuka . Sistem pelayanan terbuka ini berlaku untuk seluruh koleksi di MBRC kecuali untuk skripsi, laporan akhir dan tesis, tetap diberlakukan sistem pelayanan tertutup.
4.1.4 Penambahan Fasilitas
Dalam meningkatkan pelayanan kepada pengguna, MBRC menambah fasilitas yang sebelumnya tidak ada di perpustakaan FISIP UI. Penambahan fasilitas MBRC adalah penambahan koleksi menjadi lebih mutakhir, sistem keamanan elektronik untuk menghindari pencurian buku, sistem terintegrasi dalam pengelolaanbahan pustaka, internet gratis, pelayanan dalam kumpulan soal-soal ujian dan silabus mata kuliah dari setiap jurusan yang ada di FISIP UI, fasilitas Hot Spot, ruang seminar yang dilengkapi dengan perangkat Audio Visual dan American corner yang berisi koleksi mengenai Amerika serikat dari kedutaan Besar Amerika Serikat.
4.1.5 Pengembangan Koleksi
Setelah perpustakaan FISIP UI berubah menjadi MBRC, pengembangan koleksi menjadi lebih di perhatikan terutama oleh Departemen-departemen di FISIP UI. Dana pengembangankoleksi yang semula hanya berasal dari dana rutin dari perpustakaan pusat, kini lewat RAKT FISIP UI menganggarkan dana tambahan sebanyak 150 juta pertahun untuk pengembangan koleksi. Dana tersebut digunakan untuk membeli koleksi yang mutakhir. Selain itu MBRC juga mendapatkan tambahan dana 68 Juta untuk pembelian jurnal-jurnal baik tercetak mapun elektronik. Beberapa departemen seperti Departemen Administrasi memberikan dana 8 Juta pertahun untuk pengadaan koleksi khusus Administrasi. Dana tersebut diserahkan ke perpustakaan dan pemilihannya di serahkan pada perpustakaan. Sedangkan departemen lainnya seperti Departemen Progeam Ekstesi menyumbangkan buku-buku yang mutakhir sesuai dengan bidang departemennya.
Pemilihan koleksi di serahkan kepada pihak pengajar. Perpustakaan hanya membantu menyediakan alatnya saja seperti katalog buku dari berbagai penerbit, daftar buku-buku terbaru,dll. Walau demikian dalam pemesanan di serahkan kepada perpustakaan. Pihak perpustakaan selalu berusaha untuk menjaga koleksi agar tetap seimbang dan proporsional serta memprioritaskan buku-buku yang dipesan adalah buku-buku yang benar-benar digunakan dalam kegiatan belajar mengajar.
Semua buku yang telah di beli dan buku-buku hadiah yang yahunnya masih mutakhir di display di perpustakaan. Netralitas Dunia Akademik tetap dipegamg teguh oleh perpustakaan.
Perubahan Perpustakaan FISIP menjadi MBRC menghasilkan respon yang positif. Hal ini dapat dilihat dari bertambahnya koleksi dan jenis sumber informasi. Sebagai bahan perbandingan, pada tahun 2004 koleksi perpustakaan FISIP berjumlah 10.800 judul 16.000 eksemplar untuk buku, karya akademis berjumlah 4716 judul 4716 eksemplar, 12 jurnal yang di langgan, dan 1 jurnal online. Pada tahun 2005 setelah Perpustakaan FISIP berganti menjadi MBRC koleksi berjumlah 12089 judul buku, 26840 eksemplar, 173 majalah, 4167 skripsi dan laporan penelitian, 3398 judul tesis dan disertasi, Britannica, Americana dan hematic encyclopedia, dan koleksi Digital yang meliputi Jurnal Online dari Proquest dan Ebscoohost, elektronik book (e-book), dan CD ROOM
4.1.6 Pengguna MBRC
Pengguna MBRC adalah mahasiswa D3 sampai S3, dosen, peneliti, dan karyawan dalam lingkungan FISIP UI. Data statistikpengunjung MBRC pada tahun 2005 menunjukkan rata-rata jumlah pengunjung perhari adalah 406 orang dengan jumlan populasi warga FISIP UI 6.901 orang dan jumlah anggota 4.291 orang. Data tersebut menunjukkan bahwa anggota MBRC adalah 62,18 % dari jumlah populasi warga FISIP. Data ini menunjukkan terjadi kenaikan drastis kenaikan rata-rata yaitu 34 % dari jumlah kunjungan perhari dan jumlah anggota sejak Perpustakaan FISIP UI menjadi MBRC
MBRC juga sering kali menerima kunjungan dari mahasiswa luar FISIP UI atau mahasiswa luar UI. Hal ini dikarenakan MBRC telah mempunyai fungsi tambahan yaitu menjadi sarana promosi FISIP UI. Kunjungan dari lingkungan UI antara lain dilakukan oleh rombongan Dekanat Fakultas Kesehatan Masyarakat UI (FKM UI), Dekanat Fakultas Psikologi UI dan Dekanat Fakultas Teknik UI (FT UI). Sementara itu, kunjungan dari luar UI antara lain dilakukan oleh STIA LAN jakarta, London School Jakarta, IKIP Jakarta, UNLAM Banjarmasin, SMU 79 Jakarta, SMU 49 Jakarta, SMU 1 Padang, SMU Lazuardi Jakarta, SMU 1 Medan dan SABRE Foundation USA. Kunjungan-kunjungan ini dilakukan pada saat diadakannya kegiatan Open House Amcor dan MBRC.
4.2 American Corner
American Corner; untuk selanjutnya disebut Amcor, merupakan suatu media yang diprogramkan oleh Public Affair Section US Embassy dibawah koordinasi International Information Program (IIP) di Washington DC, Amerika Serikat. Amcor ini hadir di hampir seluruh negara di dunia yang mempunyai kedutaan Besar AS. Di beberapa negara seperti di Malaysia, Jepang, Thailand, dan Rusia, Amcor hadir di Perpustakaan Umum sedangkan di beberapa negara lainnya seperti di Indonesia, Amcor hadir di Perpustakaan Perguruan Tinggi.
Amcor yang pertama kali di buka di Rusia. Hingga saat ini, Amcor telah ada di hampir seluruh negara di Dunia, namun Amcor yang terbanyak adalah di Rusia yaitu sebanyak 30 Amcor tersebar di Perpustakaan di 30 daerah di Rusia. Indonesia memiliki 10 Amcor yang tersebar di 10 Perguruan tinggi di Indonesia. Berikut ini adalah daftar universitas di Indonesia yang telah memiliki Amcor.

Nama Perguruan Tinggi Lokasi Tanggal Peresmian American Corner
Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta
• 18 Maret 2004
Univeritas Muhamadiyah Yogyakarta (UMY) Yogyakarta
• 24 April 2004
Universitas Airlangga (Unair) • Surabaya 12 Mei 2004
Universitas. Gajah Mada

Yogyakarta 28 Juli 2004
Istitut Agama Islam Negeri Sumatera Utara (IAIN SU) Medan 22 September 2004
Istitut Agama Islam Negeri (IAIN Walisongo) Semarang
25 Januari 2004

Universitas Indonesia (UI) Jakarta
• 24 Februari 2005
Universitas Hasanudin (UNHAS) Makassar
• 10 September 2005
Universitas Sumatera Utara (USU) Medan • 19 Desember 2005

Kepala IRC Kedutaan AS di Indonesia, Melling Simanjuntak mengatakan bahwa fokus Amcor saat ini adalah meluaskan wilayahnya di negara-negara bekas Uni Soviet dan Indonesia. Jadi, Amcor di kedua negara itu memungkinkan akan terus bertambah jumlahnya.
Latar belakang pendirian American Corner yang paling utama adalah faktor Accessibility yaitu kemudahan akses bagi setiap orang untuk mendapatkan informasi yang mutakhir dan relevan yang berkaitan dengan Amerika serikat sehingga tidak terjadi adanya salah pengertian (misunderstanding).
Tujuan dari American corner secara umum yang saya dapatkan dari brosur American Corner adalah
“ Menyediakan informasi yang akurat dan terpercaya tentang Amerika Serikat, menyediakan fasilitas untuk penelitian dan studi, memberikan bantuan pengembangan intelektual dengan menyediakan sumber-sumber informasi yang berkualitas untuk dunia pendidikan, dan memperkenalkan nilai-nilai, pandangan-pandangan, kebudayaan serta norma-norma Amerika kepada masyarakat Indonesia.”

Tujuan-tujuan tersebut direalisasikan dalam bentuk berbagai sumber-sumber informasi yang menjadi koleksi di setiap Amcor yang didirikan. Koleksi-koleksi yang terdapat di Amcor tersebut berbentuk tercetak dan elektronik seperti buku teks, references books, terbitan berseri, CD ROM, DVD dan online jurnal. Menurut Melling Simanjuntak, koleksi di semua Amcor relatif sama. Ada subjek-subjek tertentu yang menjadi fokus utama Amcor dan ini dapat ditemukan di semua Amcor di dunia. Subjek-subjek tersebut adalah sejarah AS, kehidupan, sosial dan Budaya Masyarakat AS, Ideologi AS, Hukum dan Politik AS, Sistem pemerintahan dan Tatanegara AS, dan Bahasa Inggris AS. Subjek-subjek terpilih tersebut dinamakan koleksi dasar yang jumlahnya sekitar 1500 bahan pustaka. Koleksi dasar ini harus dimiliki seluruh Amcor di seluruh dunia. Semua koleksi Amcor baik koleksi dasar maupun tambahan dipilih oleh Subjeck Spesialist yang berada di Washington DC dan pihak IRC di masing-masing negara.
Menurut Melling Simanjuntak dalam pengadaan dan pengembangan koleksi, Amcor hanya fokus pada subjek-subjek ilmu pengetahuan sosial seperti yang disebutkan diatas, sedangkan untuk subjek-subjek ilmu pengetahuan alam dan teknologi, Amcor tidak fokus kesana, oleh karena itu Amcor tidak menyediakan koleksi yang berkaitan dengan subjek tersebut. Namun demikian Amcor juga menambahkan koleksinya disamping koleksi dasar seperti yang telah disebutkan diatas. Koleksi tambahan tadi dipilihkan berdasarkan kebutuhan dari perpustakaan yang bersangkutan contohnya seperti Universitas Indonesia mempunyai kelebihan di bidang Ilmu hukum dan Ilmu Sosial maka koleksi di bidang tersebut diperbanyak jumlahnya atau seperti Universitas Islam Negeri (UIN)di Indonesia yang merupakan Universitas Islam, maka koleksi untuk bidang Agama Islam atau kehidupan sosial Masyarakat muslim di AS menjadi lebih banyak.
Pihak Kedutaan AS melalui Amcor-nya juga menyelenggarakan Program kegiatan yang bertempat di Amcor tersebut. Program kegiatan tersebut antara lain :
a. Ahli-ahli dari Amerika menapilkan pembicaraan mengenai berbagai aspek Amerika
b. Cendikiawan Amerika bersama cendikiawan Indonesia mengadakan seminar dan konferensi
c. Cendikiawan Indonesia memberikan ceramah dengan topik-topik Indonesia dan Amerika
d. Pameran yang mempertunjukkan keragaman budaya, masyarakat dan kegiatan sosial di Indonesia
e. Informasi pendidikan bagi yang ingin belajar di Amerika
f. Kegiatan belajar dan mengajar bahasa inggris dengan Regional English Language Office (RELO), English Language Fellow (ELF), atau pusat bahasa di universitas
g. Peserta program yang disponsori pemerintah Amerika Serikat berbagi pengalaman mereka selama di Amerika Serikat
h. Seminar jarak jauh menggunakan peralatan web conferencing atau digital video conferencing
i. Pemutaran film yang dilanjutkan dengan diskusi kelompok mengenai film tersebut
j. Kegiatan kebudayaan memperingati hari-hari besar Amerika dan Internasional
k. Pelatihan-pelatihan mengenai cara pencarian sumber informasi dan referensi melalui internet
l. Pertemuan dan diskusi berkala yang diikuti mahasiswa, staff pengajar dan masyarakat umum

Pihak perpustakaan yang memiliki Amcor hanya menerima kegiatan yang diprogramkan dari pihak keduataan AS. Topik dari program kegiatan tersebut biasanya berkaitan dengan isu-isu kontemporer berkaitan dengan Amerika Serikat. Selain itu kegiatan yang diselenggarakan biasanya berkaitan dengan event-event besar Amerika serikat seperti hari-hari besar AS, untuk menghormati pahlawan atau ilmuan AS, dsb. Pembicara atau ”keynotespeaker” dipilihkan oleh kedutaan Amerika Serikat. Pembicara atau ”keynotespeaker” tersebut biasanya merupakan orang Amerika Serikat yang sengaja di datangkan atau sedang berada di Negara tersebut. Menurut Kepala Perpustakaan Miriam Bidiardjo Resource Center (MBRC), pihak dari perguruan tinggi tempat Amcor tersebut berada, juga dapat merekomendasikan program diskusi ke pihak keduataan AS apabila pembicara atau diskusi tersebut sangat diperlukan namun hal tersebut belum pernah dilakukan pihak MBRC.
Menurut Melling Simanjuntak setelah 2 tahun program Amcor ini berjalan, pihaknya belum melakukan evaluasi atas efektifitas dan pemanfaatan Amcor di Indonesia. Beliau mengaku pihaknya tidak berwenang dalam hal ini dan yang berwenang adalah pihak di Washington DC
4.3 American Corner di MBRC FISIP UI
Membahas mengenai Amcor di MBRC tidak dapat terlepas dari sejarah dan proses masuknya Amcor ke MBRC. Keterangan yang diberikan oleh Kepala MBRC FISIP UI mengenai sejarah hadirnya Amcor di UI adalah bahwa proses dari permintaan informal, proposal hingga peresmian mengalami jalan yang cukup rumit. Pada awalnya pihak Kedutaan AS menawarkan Amcor di Perpustakaan Pusat (UPT) UI kepada Rektor UI. Hal itu diajukan pada waktu Ibu Liliy Roesma yang masih menjabat sebagai Kepala Perpustakaan UPT UI. Permintaan itu ditolak oleh Kepala Perpustakaan pada waktu itu. Kemudian Setelah Jabatan Kepala Perpustakaan UPT berganti kepada Ibu Luki Wijayanti, pihak Kedutaan AS kembali mengajukan proposal ke Rektor UI. Kemudian setelah berbagai pertimbangan Rektor UI menerima akan tetapi Ibu Luki Wijayanti menolak dengan alasan Amcor yang terlalu eksklusif karena di dalam MOU tertulis pihak Keduataan AS tidak memperbolehkan corner-corner lain ada di Perpustakaan UPT UI dan menurut Ibu Luki, hadirnya Amcor bertentangan dengan prinsip keadilan Perpustakaan Perguruan tinggi. Prinsip keadilan yang diartikan disini sesuai dengan hak kebebasan memperoleh informasi yaitu suatu hak untuk mencari, memakai, menggunakan, membuat, secara bebas informasi apapun yang diinginkan, dalam sebuah ruang publik yang terbuka dimana masing-masing kedudukan pihak-pihak adalah setara (lihat Calhoun,1992; Hebermas,1993). Dengan konsep Amcor yang eksklusif dan tidak boleh ada corner lain selain Amcor dinilai itu bertentangan dengan prinsip hak kebebesan memperoleh informasi. Selain itu bentuk eksklusif dari Amcor dinilai Amcor sepertinya mengarahkan proses berpikir kepada pemikiran tertentu dan ini bertentangan dengan hak kebebasan tadi, bertentangan dengan kebebasan dalam akademik (freedom of academik) dan bertentangan dengan prinsip keadilan yang menekankan keragaman dalam sebuah perpustakaan.
Sekitar tahun 2004, Pihak Kedutaan Besar kembali menawarkan Amcor kepada FISIP UI. Pada saat itu proses pembangunan MBRC hampir selesai. Sambutan yang diberikan Dekan FISIP UI sangat antusias mengingat terdapat Jurusan Hubungan Internasional di FISIP namun demikian pihak FISIP tidak menerima begitu saja. Pihak FISIP yang diwakili oleh Wadek I mengunjungi beberapa Amcor di Indonesia untuk mengadakan studi banding. Pihak Dekanat juga mengadakan dialog dengan mahasiswa dan kepala perpustakaan MBRC.
Setelah melakukan studi banding yang cukup panjang akhirnya pihak FISIP menerima Amcor dengan berbagai pertimbangan. Pertimbangan yang paling utama adalah bahwa Amcor menjadi jalan untuk mendapatkan jaringan dan promosi Internasional. Pihak FISIP berharap dengan diterimanya Amcor di FISIP, nama FISIP UI pada khususnya dan UI apada umumnya menjadi lebih di kenal di dunia internasional. Pertimbangan lain seperti fasilitas dan bahan-bahan pustaka yang nilainya hampir mencapai 2 milyar tidak menjadi pertimbangan utama alasan yang di kemukakan Ibu Iriani selaku direktur MBRC adalah bahwa FISIP UI masih mampu untuk mengadakan fasilitas dan bahan-bahan pustaka seperti yang diberikan Amcor.
”Jadi, kalau dari sisi fisik sendiri, kita menyadari bahwa kerjasama dengan kedutaan dalam arti menyebarkan kebudayaan AS itu, ada sisi politiknya begitu...ya...menyebarkan kebudayaan, tetapi dari sisi kita, FISIP berpendapat bahwa ada mutual benefit (sama-sama untung), ok, kita kasih kamu tempat untuk penyebarluasan kebudayaan......
....tapi jika diukur secara amount, jadi kcillah bantuan AS kepada kita...tapi yang mungkin kita harapkan adalah jaringan internasional bisa di dapatkan. Jadi orang dari luar bisa mengenal FISIP UI dari Amcornya, gitu loh! Jadi, kalau dilihat dari fisiknya bantuan seperti itu amat kecil. Setiap tahun pun kita dapat menganggarkan 50 juta untuk buku. Sekitar 200 buku. Jadi, Amcor menyumbangkan 200 buku, selama 10 semester pun kita sudah mampu membeli itu, gitu loh! Gitu kan ? jadi yang kita lihat lebih jauh lagi, jaringan internasional itu yang kita bisa dapatkan.” (wawancara tanggal 24 Maret 2006)

Setelah proses panjang itu berlangsung akhirnya pihak FISIP menerima Amcor dengan berbagai syarat. Syarat itu diajukan oleh Kepala Perpustakaan MBRC. Syarat tersebut antara lain buku semua menyatu ke koleksi FISIP UI, pihak FISIP UI berhak menentukan disain dan tata letak Amcor. Pihak Kedutaan AS menolak usul yang pertama namun menerima usul yang kedua kemudia ditandatanganinya Memorandum of Understanding (MOU). MOU berlaku selama dua tahun. Menurut Melling Simanjuntak, setelah dua tahun MOU tersebut dapat diperpanjang atau tidak diperpanjang. Itu semua tergantung dari kesepakatan kedua pihak. Jika diperpanjang maka Kedutaan AS akan terus mengembangkan koleksi dan mengadakan program kegiatan. Namun jika MOU tersebut tidak diperpanjang maka pihak Keduataan AS akan melihat kembali sejauh mana pemanfaatan Amcor ini, jika kurang dimanfaatkan maka Amcor tersebut akan dipindahkan ke perpustakaan lain, namun jika cukup bermanfaat maka semua peralatan dan koleksi tersebut dihibahkan ke perpustakaan tersebut dan perpustakaan tersebut dapat mengatur dengan bebas koleksi dan peralatan tersebut dan pihak kedutaan AS menghentikan program kegiatan dan pengembangan koleksi di perpustakaan tersebut.
Management American corner diserahkan pada MBRC sedangkan kedutaan Besar AS lewat Information Resource Center (IRC) hanya menyalurkan bahan-bahan pustaka, usulan kegiatan serta native speker dan nara sumber untuk seminar dan diskusi. Mengenai promosi dilakukan oleh kedua belah pihak baik MBRC maupun IRC. Pihak MBRC melakukan promosi dalam bentuk liflet, brosur, dan boklet sedangkan pihak IRC mempromosikan Amcor melalui brosur dan secara online baik melalui website Amcor itu sendiri maupun melalui website IRC.
4.3.1 Tata ruang American Corner
Tata ruang atau Disain Interior American Corner disesuaikan dengan disain interior MBRC, tujuannya agar terlihat Amcor menjadi bagian yang menyatu dengan MBRC. Amcor terletak di lantai 2 MBRC. Pada lantai yang sama terletak juga ruang baca terbuka, ruang koleksi majalah dan jurnal, koleksi referensi, ruang seminar yang dilengkapi dengan audio visual dan layanan internet. Daerah Amcor sendiri terletak di pojok ruangan membentuk suatu corner yang melengkung. Di dalam Amcor terdapat beberapa rak buku dan majalah, meja baca lengkap dengan kursinya, poster-poster, bendera Amerika dengan ukuran cukup besar serta dua buah bendera Indonesia-Amerika ukuran kecil. Terdapat 5 buah poster dari Kedutaan besar AS yang pemasangannya telah melalui proses seleksi oleh Kepala Perpustakaan MBRC. Kelima poster tersebut bertuliskan (1) Books Come In all Colors, (2) Mosque in America, (3) Global Reach, Local Toouch, Conect@library, (4) Read, Open Learn, Close, never quite, (5) Library Change Lives, Bill Gates, America’s Libraries. Mnuurut kepala perpustakaan MBRC bahwa sebenarnya masih banyak poster yang belum disediakan oleh Kedutaan AS dan diminta untuk dipasang, tetapoi karena poster-poster tersebut sangat “Amerika banget” maka hanya poster-poster yang sedikit netral yang dipasang.
Bendera America ukuran besar terdapat di meja pustakawan di depan corner sedangkan 2 bendera kecil Amerika-Indonesia terletak di meja pustakawan Amcor dan terdapat di rak amcor yang terletak di dalam corner. Pada awalnya Amcor tidak memiliki batas antara ruang koleksi amcor dengan MBRC akan tetapi mengingat faktor keamanan akhirnya dibuatlah pintu kecil hanya untuk untuk menjadi pengaman apabila petugas Amcor tidak berada di tempat.
4.3.2 Fasilitas American Corner
Fasilitas yang tersedia di American Corner MBRC adalah sebagai berikut :
a. Koleksi cetak terdiri dari referensi dan buku-buku di bidang karya fiksi, bisnis, ilmu sosial, politik, pendidikan dan kebudayaan
b. Majalah, jurnal dan laporan-laporan serta terbitan pemiran Amerika
c. EbcoHost, data base online yang menyajikan ringkasan dan artikel lengkap dari lebih 1000 terbitan berkala
d. Jurnal elektronik yang diterbitkan Biro Informasi Internasional pemerintah Amerika Serikat
e. Akses internet gratis ke situs-situs Amerika dan Internasional, non-pemerintah, lembaga riset dan lembaga akademis
f. Akses ke multimedia: produk-produk video dan audio seperti CD dan DVD koleksi musik dan film, dan CD-ROM untuk sumber informasi
g. Akses ke komputer, printer dan mesin fotokopi, serta fasilitas elektronik yang memudahkan pengiriman dan penerimaan dokumen melalui e-mail atau mesin fax.
Hingga saat penelitian ini di buat, koleksi tercetak di Amcor telah mencapai 2000 eksemplar, koleksi CD Film dan musik berjumlah 30 buah.
4.3.3 Kegiatan Amcrican Corner
Amcor bukan hanya diciptakan sebagai ruang baca tetapi juga sebagai ”Programing site” dan ”community development” dimana setiap orang bisa mendapatkan informasi mengenai Amerika secara cepat baik melalui sumber informasi maupun kegiatan-kegiatan yang telah dirancang. Berikut ini merupakan kegiatan yang telah berlangsung di MBRC FISIP UI :
1. Judul Acara : Prosecuting Corruption In US
Bentuk Kegiatan : Diskusi Besar
Tanggal & Tempat : 27 Februari 2006
Aditorium AJB Bumiputra, FISIP UI
Pembicara : Benjamin B Wagner
Peserta : 60 orang

2. Judul Kegiatan : Open House American Corner
Bentuk Kegiatan : Pameran American Corner dengan mengundang tamu-
tamu dari luar UI
Tanggal & Tempat : MBRC FISIP UI

3. Judul Kegiatan : US Intelligence and the International Terrorism
Bentuk Kegiatan : Diskusi Besar
Tanggal & Tempat : 14 November 2005
Aditorium AJB Bumiputra, FISIP UI
Pembicara : Peter Bergen (The Author of “Inside The Secret World of
Bin Laden”, senior jurnaliston CNN and Times)
Peserta : 60-80 orang

4. Judul Kegiatan : Plan to Study in USA, After graduated From S1/
Desperate for Scholarship.
Bentuk Kegiatan : Diskusi Besar
Tanggal & Tempat : 18 April 2006
Aditorium AJB Bumiputra, FISIP UI
Pembicara : Aminef
Peserta : 60-80 orang

5. Judul Kegiatan : Penelusuran Informasi
Bentuk Kegiatan : Seminar dan peragaan
Tanggal & Tempat : 8 Desember 2005
Ruang Seminar MBRC FISIP UI
Pembicara : Perwakilan dari Kedutaan
Drs. Purwono SS, Mhum
Dra. F. Iriani Sophian Yodoko, M. Si
Peserta : 35 orang

6. Judul Kegiatan : US Foregn Policies, American Politics, US Embassies
Function
Bentuk Kegiatan : Diskusi besar
Tanggal & Tempat : ...Januari 2006
Ruang Seminar MBRC FISIP UI
Pembicara : Tom Skiper (Deputy Director for Office of Public
Diplomacy , Department Of State)
Peserta : 40 orang

7. Judul Kegiatan : Diskusi dan Pemutaran Film
Bentuk Kegiatan : Diskusi kecil
Tanggal & Tempat : Sebulan sekali (tidak teratur)
Ruang Seminar MBRC FISIP UI
Pembicara : Dra. F. Iriani Sophian Yodoko, M. Si
Peserta : 10-20 orang

Kegiatan-kegiatan Amcor pada umumnya bersifat insidental jadi MBRC hanya menerima saja jika ada usulan kegiatan dari IRC Kedutaan AS. Namun tidak semua kegiatan dapat di realisasikan. Kegiatan yang tidak dapat di laksanakan adalah perayaan kemerdekaan Amerika Serikat. Hal ini dikarenakan tidak mendapat persetujuan dari Ibu Iriani selaku direktur MBRC. Menurut Ibu Iriani kegiatan tersebut tidak dapat dilaksanakan karena lebih kental muatan politisnya dibandingkan nilai akademiknya dan ini dapat merusak netralitas dalam kultur akademik di FISIP UI secara khusus dan UI secara umum.Namun demikian menurut Ibu Iriani hanya UI saja menolak kegiatan itu sedangkan Amcor di universitas lannya tetap melaksanakannya.
4.3.4 Pengguna American Corner
Pengguna Amcor sebagian besar berasal dari FISIP UI sebagian lainnya berasal dari UI dan sebagian lagi berasal dari luar UI.Sejak di resmikannya Amcor tanggal 24 Februari 2005 hingga april 2006 tercatat pengguna Amcor berjumlah 5200 orang dengan rata-rata pengunjung brarti sekitar 20 hingga 30 orang perharinya. Itu belum termasuk pengguna yang menggunakan layanan internet gratis. Menurut pengamatan penulis selama masa observasi, sebagian besar pengguna Amcor lebih banyak menggunakan fasilitas internet gratis dibandingkan menggunakan koleksi tercetak Amcor.




BAB V
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

5.1 Resouce Center Dalam Pengertian Propaganda

Perpustakaan FISIP UI telah berubah menjadi Miriam Budiardjo Resource Center atau biasa disingkat MBRC. Perubahan ini tidak hanya mencakup perubahan nama saja tetapi juga seluruh aspek di dalamnya termasuk perubahan fisik, sistem pelayanan, pengembangan koleksi, fasilitas dan teknologi informasi. Perubahan ini dilatar belakangi oleh keinginan pihak FISIP UI untuk mengembangkan koleksi dalam berbagai jenis dan media dengan merujuk pada konsep pusat sumber informasi yang modern.
“…memperlihatkan Perpustakaan FISIP ini bukan hanya sekedar printed matter saja yang kita tawarkan kepada pengguna, tetapi berbagai sumber kita sediakan, digital, virtual, yang mungkin dilakukan oleh perpustakaan pusat, tetapi buat kita supaya lebih luas dan global. Jadi sifatnya sebagai sumber ilmu. Kalau perpustakaan itu kan konotasinya agak printed matter, jadi yang disebut sumber ilmu itu segala macam dari mulai printed, digital, AV, dari berbagai source kita bisa mengambil ilmu, gitu..” (wawancara dengan Ibu Iriani tanggal 24 maret 2006)

”...Kebutuhan dan respon kita untuk membuat fasilitas resource center yang lebih profesional. Karena dulu kita sebelum ada inisiatif ini kan, yaitu seperti model ”tradisional”, yaitu tertutup. Jadi, setelah di renovasi, dibuat sistemnya, di buat open library,dll. Karena terkait soal ujian dll menjadi resource center termasuk modul-modul pengajaran, akhirnya dinamakanlah resource center...nama resource center karena kita butuh brand baru jadi kita pakai resource center, disana ada nama Miriamnya, ada perpustakaannya, ada American Cornernya....” (wawancara dengan Bpk. Bambang tanggal 23 maret 2006)

Jadi tujuan dari perubahan perustakaan FISIP UI menjadi resouce center adalah untuk mengubah konotasi (pengertian) mengenai perpustakaan FISIP UI. Perpustakaan dalam konotasi pihak FISIP UI merupakan perpustakaan dalam konotasi tradisional yaitu hanya sebagai tempat menyimpan buku sedangkan resource center adalah perpustakaan dalam konotasi modern yaitu sumber ilmu yang menyimpan ilmu dalam berbagai media.
Pernyataan Bpk.Bambang yang mengatakan bahwa penggunaan nama resource center diperlukan sebagi merek baru (new brand) dari perpustakaan FISIP UI dapat diinterpretasikan sama dengan penggunaan merek dagang untuk produk tertentu seperti perubahan merek produk Coca cola menjadi New Coke. Perusahaan Coca cola mencoba untuk menghapus formula klasik Coca cola dan menggantinya dengan formula baru yang sebenarnya merupakan pengembangan dari formula klasiknya (James E Comb dan Dan Nimmo:1994:16) Nama New Coke merupakan pesan yang di gunakan untuk memperlihatkan sebuah perubahan dengan tujuan menghasilkan sebuah citra dan opini bahwa telah ada produk baru Coca cola dengan nama New Coke. Pesan ini menimbulkan daya tarik tersendiri bagi konsumen untuk membeli dan mecicipi rasa New Coke. Sama halanya dengan penggunaan resource center sebagai merek baru Perpustakaan FISIP UI. Resource center menjadi pesan yang digunakan untuk memperlihatkan bahwa telah terjadi perubahan pada Perpustakaan FISIP UI. Resource center menimbulkan penafsiran bahwa perpustakaan telah menjadi sumber ilmu yang menyadiakan informasi dan pengetahuan dalam berbagai media. Apalagi kata resource center merupakan kata dalam bahasa inggris, hal ini dapat memberikan makna yang luas dan global . Global dari pernyataan Ibu Iriani diambil dari bahasa inggris yang artinya sedunia, dengan demikian pengambilan nama resource center dimaksudkan agar mendapatkan penggambaran bahwa Perpustakaan FISIP mengikuti perkembangan zaman sesuai dengan perkembangan dunia. Ini berpengaruh tidak hanya pada penggambaran perpustakaan FISIP UI sendiri yang akhirnya mendapat konotasi modern tetapi juga berpengaruh pada FISIP UI sebagai lembaga induk yang menaunginya bahwa dengan memiliki perpustakaan yang modern, FISIP UI juga di gambarkan sebagai lembaga pendidikan yang modern dan mengikuti perkembangan zaman. Jadi, perubahan nama ini tidak hanya menimbulkan konotasi saja tetapi telah menimbulkan opini baru mengenai perpustakaan FISIP UI pada khususnya dan FISIP UI pada umumnya dan inilah yang sebenarnya diharapkan pihak FISIP UI.
Dalam penyebarluasan pesan mengenai resource center sebagai perpustakaan FISIP UI yang modern dan menyediakan sumber ilmu dalam berbagai media, secara tidak langsung pihak FISIP UI telah menggunakan komunikasi bujukan.
Bujukan merupakan akar pengertian bagi proses komunikasi sosial tentang bagaimana kita di pengaruhi melalui sosialisasi. Dalam bujukan, kita dapat mengatakan bahwa bagaimana seseorang memperhatikan, memainkan menginterpretasikan), dan bereaksi terhadap sebuah ide, bergantung kepada gambaran individual tersebut mengenai apa yang disarankan sebuah ide. (James E Comb dan Dan Nimmo:1994:16)

Bujukan tersebut dalam bentuk penyebarluasan ide berupa konsep resource center yaitu sebuah pusat sumber pengetahuan dimana menyediakan berbagai macam sumber ilmu pengetahuan dalam berbagai bentuk media. Komunikasi bujukan ini merupakan bagian dari inti propaganda yaitu semua usaha yang membujuk setiap orang untuk kepercayaan atau untuk suatu bentuk tindakan (James E.Combs dan Dan Nimmo 1994:23) yang ditujukan untuk mengubah pandangan, opini dan tingkah laku penerimanya sesuai yang diinginkan komunikator (R.A. Santoso:1991:23) yang dalam hal ini yang menjadi komunikator adalah pihak dekanat FISIP UI.
Teknik yang digunakan dalam propaganda yang digunakan FISIP UI dalam membujuk masyarakat menggunakan teknik sebutan yang muluk-muluk (Glitering generalities) dan penumpukkan fakta yang mendukung (Card-stacking). Sebutan yang muluk-muluk adalah suatu teknik dimana pelaku propaganda (propagandis) menonjolkan gagasannya (www.wikipedia.com) yang dalam hal ini pihak FISIP UI berusaha menonjolkan konsep resource center ini kepada masyarakat sehingga masyarakat mendapatkan persepsi baru mengenai resource center bahwa yang dimaksud resource center adalah pusat sumber ilmu yang modern. Penumpukan fakta yang mendukung (Card-stacking) adalah propaganda dengan menonjolkan hal-hal baiknya saja, sehingga publik hanya dapat mengenal dari satu segi .(www.wikipedia.com).
Pengertian resource center sebenarnya adalah
“ Perpustakaan sekolah atau “school library” mengalami perubahan nama akibat penemuan materi baru, pengaruh teknologi informasi. Bila dahulu disebut perpustakaan sekolah maka itu kemudian berubah menjadi pusat multimedia (multimedia center)maka kini namanya berubah menjadi pusat sumber belajar (learning resource center) yang meliputi perpustakaan, pusat computer, fasilitas multimedia dan fasilitas multimedia). Di Indonesia, beberapa perpustakaan sekolah swasta mengganti nama perpustakaan menjadi pusat sumber informasi atau information resource center dengan masuknya internet ke sekolah maka di perpustakaan tersedia computer, audio visual, dan sudah tentu buku. Maka sebutan perpustakaan sekolah dianggap kurang pas sehingga namanya diubah menjadi learning resource center karena kegiatan belajar sumbernya dapat dilakukan di perpustakaan (Sulistyo-Basuki, 2006 : Bab 6-15)

Sebutan learning resource center tidak saja digunakan untuk perpustakaan sekolah melainkan juga untuk sebutan beberapa perpustakaan perguruan tinggi, misalnya Institut Pertanian Bogor (Information Resource Center yang mencakup juga perpustakaan, University of Herdfordshire (inggris), University of Alberta (Kanada)(Sulistyo-Basuki, 1998:8)

Jadi sebenarnya resource center disini untuk menunjukkan bahwa resouce center merupakan pengembangan atau reproduksi dari perpustakaan. Tetapi yang di tampilkan oleh pihak FISIP UI justru mempersempit arti perpustakaan itu sendiri. Hal ini disadari oleh kepala perpustakaan FISIP UI,Bpk. Purwanto yaitu
“....dekan punya padangan bahwa perpustakaan adalah buku. Resource center adalah social data center, e-Jornal, audio visual, reading room dan ada perpustakaan. Jadi sebetulnya apa yang dimaksud resource center tidak berbeda dengan perpustakaan. Jadi menyempitkan arti perpustakaan…” (wawancara dengan Bpk. Purwanto tanggal 13 februari 2006)

Dengan demikian penggunaan resource center mempunyai dampak mempersempit makna perpustakaan itu sendiri. Penyempitan makna adalah bahasa yang di gunakan dalam propaganda.

Bahasa propaganda memungkinkan para penguasa untuk menguasai imajinasi, manipulasi pemikiran massa, emosi, dan tindakan....keseluruhan tujuan bahasa itu adalah untuk mempersempit batas pemikiran...Mengapa harus memiliki kata baik (good) dan buruk (bad) jika seseorang cukup mengatakan baik (good) dan tidak baik (ungood) (James E Comb dan Dan Nimmo:1994:16)

Mengapa harus mengatakan reesource center jika perpustakaan sendiri sebenarnya telah berarti tempat menyimpan sumber informasi dan ilmu pengetahuan? Ini adalah bagian dari teknik penggunaan bahasa dalam propaganda. Kata-kata dalam propaganda menggunakan bahasa yang dapat mempersempit makna dengan demikian dapat mencapai pengertian yang diinginkan secara cepat.

5.2 Penggunaan Nama Miriam Budiardjo dalam Pengertian Propaganda
Pihak FISIP UI menggunakan Miriam Budiardjo sebagai nama perpustakaan FISIP UI jadi saat ini nama perpustakaan FISIP UI adalah Miriam Budiardjo Resource Center. Penggunaan nama ini dilatar belakangi oleh
”...karena Ibu miriam adalah founding mother (FISIP UI), nanti mungkin ada Juono, ya pendiri FISIP lah. Ya, giliran, kebutulan saja. Misalnya sekarang sedang dibangun Multimedia Room, nanti akan dicari nama siapa yang akan dipakai dari jajaran yang telah ada di list kita dari semua founding father itu. ..” (wawancara dengan Ibu Iriani tanggal 24 maret 2006)

”... jadi ada 4 pendiri FISIP dulu ada FH & IPK waktu itu FISIP namanya FIPK. Pendirinya adalah salah satunya beliau. Selo Soemardjan diambil untuk Research Center. Jadi baru dua, nanti 2 lagi menyusul...” (wawancara dengan Bpk. Purwanto tanggal 13 februari 2006)

Nama ini dipilih untuk memberi penghormatan kepada salah satu pendiri FISIP UI, Prof.Dr (H.C) Miriam Budiardjo,MA., Seorang ilmuwan politik ternama yang telah menghasilkan buku-buku ilmu politik, yang digunakan sebagai referensi di hampir seluruh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Indonesia. (Booklet MBRC)

Dari hasil wawancara dan pencarian informasi di dapatkan bahwa nama Miriam Budiardjo dipilih karena beliau merupakan salah satu pendiri FISIP UI atau yang mereka sebut sebagai founding mother. Alasan lainnya adalah karena beliau juga merupakan ilmuan dalam bidang ilmu politik ternama yang menghasilkan banyak buku-buku ilmu politik yang menjadi referensi di hampir seluruh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Indonesia. Pemilihan nama Miriam budiardjo jika dikaitkan dengan propaganda adalah merupakan bagian dari teknik penyebarluasan propaganda. Teknik ini dinamakan teknik Pinjam Ketenaran (Transfer ) yaitu pemakaian pengaruh dari seseorang tokoh yang paling berwibawa atau terkenal (public figure) di lingkungan tertentu (www.wikipedia.com). Pengaruh ini ditampilkan dalam bentuk penggunaan nama seorang tokoh terkenal (public figure) yang menjadi panutan dalam masyarakat. Nama seorang public figure sangat berpengaruh dalam pencitraan atau dalam konstruksi makna karena nama dapat melambangkan status, cita rasa budaya, memperoleh citra tertentu dalam pengelolaan kesan (Dedy Mulyana:2001:274) Oleh karena itu penggunaan nama seseorang public figure yang terkenal dapat membantu untuk menciptakan kesan tertentu, menyebarluaskan pesan tertentu, memperbaiki citra atau hanya sekedar menarik minat dan opini masyarakat tentang sesuatu hal.
Untuk mencapai pengertian mengenai teknik ini, saya mencoba menginterpretasikan kasus ini sama dengan kasus Jenifer Lopez atau yang lebih di kenal dengan J.Lo. Beliau penyanyi yang sangat terkenal di seluruh dunia. J.Lo melirik industri parfum dan ia memproduksi parfume dengan nama Glow. Penjualan parfum ini biasa saja namun setelah ada tambahan Glow by J.Lo penjualan parfume ini meningkat (www.wikipedia.com) karena J.Lo adalah seorang public figure, terlebih lagi dikatakan bahwa produk ini sesuai dengan kepribadian J.Lo. Ini mempengaruhi masyarakat untuk membeli parfum ini dengan pesan yang ingin yang ditampilkan adalah belilah produk J.Lo maka anda akan menjadi seorang J.Lo. Kasus ini serupa dengan yang terjadi di MBRC. Penggunaan nama Miriam Budiardjo dapat diartikan sebagai upaya pinjam ketenaran. Tujuannya agar menarik minat masyarakat untuk berkunjung ke MBRC. Seperti diketahui bahwa Miriam Budiardjo merupakan sosok akademisi yang sangat terkenal khususnya dalam Ilmu Politik sekaligus beliau juga sebagai founding mother FISIP UI dan beliaupun pernah menjadi Dekan FISIP UI. Pesan yang ingin disampaikan terkait dengan penggunaan nama Miriam Budiardjo adalah pergilah ke MBRC jika ingin menjadi seperti Miriam Budiardjo yang pandai dan sukses.
Miriam Budiardjo sebagai founding mother dapat dikaitkan dengan pengertian mother itu sendiri. Menurut kamus bahasa Inggris, mother adalah Ibu ; sebutan untuk perempuan yang telah melahirkan anak. Berarti pengertian mother disini sangant terkait dengan fungsi reproduksinya. Dalam kaitannya dengan MBRC disini bahwa Miriam Budiardjo telah melakukan reproduksi berupa reproduksi ilmu pengetahuan yang berguna untuk kehidupan manusia. Jadi MBRC dapat diinterpretasikan sebuah tempat yang mengandung sumber-sumber pengetahuan. Sumber-sumber pengetahuan ini dapat bereproduksi kembali menjadi pengetahuan baru jika dimanfaatkan. Maka pesan yang terkandung dalam penggunaan nama Miriam Budiardjo pada MBRC ini dapat dikatan seperti ini : Datanglah ke MBRC maka anda akan mendapatkan ilmu pengetahuan, manfaatkanlah dan ciptakanlah pengetahuan baru sebanyak-banyaknya agar dapat menjadi terkenal seperti Miriam Budiardjo.
5.3 Perubahan Fisik
sebagai cara untuk menunjukkan perpustakaan MBRC sebagai pusat sumber ilmu yang modern, membutuhkan perubahan fisik secara menyeluruh. Tujuan perubahan fisik lainnya yaitu untuk meningkatkan kenyamanan pengguna sekaligus sebagi cara untuk menarik pengguna untuk lebih memanfaatkan perpustakaan. Oleh karena itu perubahan fisik menjadi sangat diperlukan.
Perubahan fisik yang terjadi di perpustakaan FISIP meliputi perubahan interior dan perubahan perlengkapan perpustakaan. Disain interior dan disain perlengkapan menggunakan konsep modern dan minimalis dengan menggunakan warna orange dan merah sebagai warna dinding. Disain interior dan disain perlengkapan menggunakan konsep modern dan minimalis dengan menggunakan warna orange dan merah sebagai warna dinding. Pada perancangan MBRC ini tim arsitek pembangunan MBRC memberikan jiwa dari karya ini dengan mengambil suatu ciri dari Miriam Budiardjo yaitu cinta dalam rahim Ibu .
Untuk menonjolkan sisi wanita beliau, tim arsitek tersebut mengambil tema kasih sayang yang didapatkan dalam buaian rahim ibu. Dalam rahim seorang ibu terjadilah kasih sayang pertama yang dialami manusioa sebelum proses kelahirannya. Nutrisi yang diberikan oleh ibu dalam kandungan dapat diibaratkan ilmu yang kita dapatkan ataupun kita cari dari koleksi MBRC. Buaian kasih sayang tersebut di terjemahkan dalam bahasa bentuk disain yang lembut yang menggunakan bentuk lengkung. Suasana monoton dan kaku dari bangunan dan susunan ruang yang berbentuk tegas, maskulin dan geometris diubah secara total dengan menggunakan bentuk lengkung dan kurva. (Bekti Multiningsih:2006:23)

Jika di interpretasikan perubahan fisik ini adalah suatu bentuk implementasi dari konsep resource center dan konsep penggunaan nama Miriam Budiardjo. Desain interior bergaya modern dan minimalis sebenarnya ingin menunjukkan bahwa inilah yang dinamakan resource center sebuah perpustakaan modern yang berbeda dengan perpustakaan yang dikenal selama ini. Penggunaan tema cinta dalam rahim Ibu dalam desain interior MBRC sebenarnya ingin menunjukkan bahwa MBRC adalah sebuah tempat yang mengandung sumber-sumber pengetahuan, sumber-sumber pengetahuan ini dapat bereproduksi kembali menjadi pengetahuan baru jika dimanfaatkan. Penggunaan Miriam Budiardjo sebagai ikon MBRC dengan meletakkan gambar Miriam Budiardjo dalam ukuran besar di lobby depan dapat diartikan sebagai bentuk motivasi untuk pengguna agar bisa mengikuti jejak kesuksesan Miriam Budiardjo. Jadi, perubahan fisik ini sebenarnya ingin mempertegas suatu pesan yang membujuk yaitu: Datanglah ke resource center maka anda akan mendapatkan ilmu pengetahuan, manfaatkanlah dan ciptakanlah pengetahuan baru sebanyak-banyaknya agar dapat menjadi terkenal seperti Miriam Budiardjo.
5.4 Perubahan Sistem Layanan dan Penambahan Fasilitas
Selain Perubahan nama dan Perubahan fisik terdapat beberapa perubahan lagi yang cukup signifikan yaitu perubahan sistem layanan dan penambahan fasilitas.
”....Perubahan yang cukup signifikan adalah (perubahan sistem layanan) dari close ke open, kemudian kami langgan juga katalog manual waktu itu (sebelum perubahan), sebenarnya saat ini kita juga bisa untuk ngeprint tapi tidak saya gunakan, kemudian ruang katalog tadinya diatas dirubah menjadi seminar room. Sistemnya integreted jadi kita rancang sistem terpadu FISIP UI yang sudah publish melalui internet. Jadi, OPAC-nya tak terbatas disana, jadi sudah bisa publish melalui internet, kemudian semua kegiatan masuk ke dalam sistem informasi terpadu dari mulai pengadaan, pengolahan, sirkulasi, report, semuanya sudah masuk kedalam satu sistem mungkin ada bedanya juga dengan lontar, dulu saya dapat 2500 buku kemudian harus ngetik kartu buku, kalau saya saat ini tidak perlu, mbak, semua sistem sudah dapat print kartu, print kartu buku, print label, print barcode. Semuanya dalam satu sistem. Jadi itu perubahan yang cukup significan untuk sistem....” (wawancara dengan Bpk. Purwanto tanggal 13 februari 2006)

Perubahan sistem layanan dari tertutup (closed library system) menjadi terbuka (open library system) dengan bantuan Cataloc online atau Opac (Online Public Access Catalog) bertujuan agar mahasiswa dapat kreatif mencari dan mengembangkan sumber pengetahuan secara mandiri. Konsep ini sekali lagi merujuk kepada pusat sumber yang modern. Kemandirian dalam pencarian informasi merujuk pada pemberian hak setiap individu untuk bebas mencari informasi. Terlebih lagi hak ini di fasilitasi dengan penyediaan fasilitas pencarian informasi berbasiskan teknologi sehingga pencarian dapat lebih mudah. Oleh karena itu konsep open library selaras dengan pusat sumber yang modern.
Selain perubahan layanan dan penyediaan catalog online, disediakan pula beberapa fasilitas berbasiskan teknologi yaitu :
o Fasilitas hot spot yang dapat mengakses jaringan internet dalam radius 30 meter dari gedung MBRC
o Ruangan seminar berkapasitas 50 orang yang dapat digunakan secara gratis dengan pemesanan terlebih dahulu
o Fasilitas Multimedia sumbangan American Corner berupa
a. Audio Visual :CD/DVD player lengkap dengan TV 29 Inch
b. Komputer Mulitimedia
c. Scanner
d. Printer dan Fotocopy (untuk keperluan terbatas.
Perubahan sistem layanan dan penambahan beberapa fasilitas diatas semakin menegaskan pusat sumber merupakan pusat sumber informasi dan pengetahuan yang modern dengan berbasiskan teknologi yang mengikuti perkembngan zaman. Itu semua tetap di tujukan sebagai upaya untuk menarik minat civitas FISIP UI untuk datang dan memanfaatkan semua sumber informasi dan pengetahuan di FISIP UI.
” Masyarakat akan tertarik pada sesuatu apabila mereka tahu bahwa sesuatu itu akan memberikan manfaat atau paling tidak menarik perhatian. Kemudian timbul keinginan untuk mengetahui lebih jauh tentang sesuatu yang menarik perhatiannya itu. Orang akan tertarik dan menaruh perhatian apabila ia tahu bahwa perpustakaan tersebut dapat memberikan sesuatu yang berguna. Untuk dapat menarik perhatian dan keinginan nasyarakat berkunjung ke perpustakaan, maka penyelenggara perpustakaan memberikan dan menyajikan sesuatu yang bermanfaat sehingga segala sesuatu yang disediakan dapat diberdayakan secara optimal. Pemberdayaan informasi yang efektif termasuk upaya pemasyarakatan perpustakaan agar masyarakat yang diharapkan menjadi pemakai yang potensial dapat di capai. ” (Sutarno NS:2005:110)

Perubahan sistem pelayanan dan penambahan fasilitas tadi sudah tentu akan memberikan nilai manfaat bagi sivitas FISIP UI. Oleh karena ini dapat menarik minat civitas FISIP UI untuk datang dan memanfaatkan semua sumber informasi dan pengetahuan di FISIP UI. Pada akhirnya ketika perhatian sudah di dapatkan dengan demikian keberadaan dan eksistansi MBRC dapat diakui sepenuhnya.
5.5 Pengembangan Koleksi
Setelah perpustakaan FISIP UI berubah menjadi MBRC, terdapat perubahan terutama yang menyangkut mengenai koleksi. Perubahan tersebut salah satunya adalah berkaitan dengan dana alokasi untuk pengembangan koleksi yaitu

”...Mengenai pengembangan koleksi sendiri selain dapat dana rutin dari perpustakaan pusat, 2 tahun terakhir kami dapat 150 juta kemudian ditambah langganan jurnal itu 68 juta, itu diluar seminar,dll. Itu kita dapat dari RAT (Rencana Anggaran Tahunan) yang tadinya belum pernah, 150 juta itu dari jurusan, itu diluar AC,DLL. Jadi hanya buku, peningkatan SDM,langganan jurnal elektronik, dsb. Itu sudah cukup lumayan ...” (wawancara dengan Bpk. Purwanto tanggal 13 februari 2006)

Perubahan ini terjadi setelah perpustakaan FISIP UI berubah menjadi MBRC. Hal itu disebabkan karena meningkatnya perhatian departemen-departemen di FISIP UI kepada MBRC. Munculnya perhatian ini disebabkan karena perpustakaan FISIP UI telah berubah menjadi pusat sumber yang modern. Perubahan ini disambut positif oleh departemen-departemen di FISIP UI karena dengan perubahan ini dipercaya akan meningkatkan pemanfaatan pusat sumber sebagai sumber informasi di FISIP UI. Setelah perubahan nama, perubahan fisik terjadi dan hasilnya sangat memuaskan akhirnya kepercayaan dan perhatian departemen-departemen di FISIP UI meningkat dampaknya mereka mempercayakan dananya untuk pengembangan koleksi dan koleksi itu di percaya untuk di letakkan di MBRC bukan di tempat lain seperti di perpustakaan atau lab departemen. Ini menunjukkan pentingnya peranan propaganda terutama dalam menarik perhatian dan opini masyarakat tentang suatu hal yang dalam hal ini melalui propaganda pihak FISIP UI berhasil membangun kembali kepercayaan dan perhatian departemen-departemen di FISIP UI terhadap pusat sumber FISIP UI.
Menenai kebijakan pemilihan koleksi tidak ada yang berubah yaitu
”...Pemilihan koleksi melalui dosen jadi saya memberikan katalog, mungkin ke toko-toko minta katalog baru. Ini Cuma salah satu sarana, jadi dosen bisa mencari sendiri melalui internet, jadi sistem kita sudah tersedia jadi input, lalu kita mencari. Saya tidak berani kalau sendiri...Kita kalau bisa buku itu memang untuk di pelajari. Jadi, kalau dosen milih itu harus di rekomendasikan untuk dibaca karena kalau kita hanya mengumpulkan buku enggak cukup, nanti tempat kita sempit, Cuma kita berusaha proposional dan terwakili. Itu kalau bisa terwakilkan dan terpenuhi, tapi kayaknya semuanya ini agak terwakili. Semua ada gitu. Jadi kita juga berusaha adil dan proposional, dalam artian mahasiswa yang paling banyak apa. Dan untuk pengembangan koleksi sendiri jadi kita yang mengandalkan dana dari dia , makanya buku-buku itu saya cap sumbangan dari departemen administrasi karena dananya juga dari sana. Salah satu departemen yang perhatian memang administrasi ekstensi juga kemarin menyumbang, memang, kalu milih-milih buku saya pilih dari tahunnya...”(wawancara dengan Bpk. Purwanto tanggal 13 februari 2006)

Jadi pemilihan koleksi diserahkan pada dosen karena dosen yang mengetahui kebutuhan informasi yang di butuhkan dalam proses belajar mengajar namun kekurangannya disini yaitu kurangnya partisipasi dari mahasiswa dan peneliti padahal dalam pendidikan kedua pihak ini mempunyai kedudukan yang sejajar seperi yang diperlihatkan bagan ini






Bagan ini menggambarkan bahwa posisi pustakawan sangat penting dalam memenuhi kebutuhan pengajar dan mahasiswa dan dapat dilihat dalam bagan bahwa kedudukan mahasiswa atau peneliti dan pengajar disini adalah sejajar.
”Pengembangan koleksi haruslah selalu didasari asas tertentu yang dipegang teguh. Perpustakaan harus menjaga agar koleksinya berimbang sehingga mampu memenuhi kebutuhan dosen, mahasiswa dan peneliti” (Perpustakaan Perguruan Tinggi:Buku Pedoman:2005: 41)

Dengan demikian seharusnya pustakawan juga harus merespon kebutuhan informasi mahasiswa dan peneliti, terlebih lagi jika dikaitkan dengan UI sebagai Research University maka kebutuhan untuk merespon kebutuhan informasi pengajar, mahasiswa dan peneliti sangatlah penting.
5.6 Miriam Budiardjo Resource Center Dalam Pengertian Propaganda
Setelah di paparkan analisis mengenai perubahan tiap aspek pada MBRC akhirnya dicapai kesimpulan bahwa pihak FISIP UI telah menggunakan beberapa teknik propaganda untuk membujuk dan mempengaruhi sivitas UI agar mau berkunjung dan memanfaatkan sumber-sumber informasi di MBRC sekaligus berupaya mengubah opini civitas FISIP UI mengenai keberadaan eksistansi MBRC. Jika analisis 6 aspek perubahan di satukan lalu di kembalikan pada teori propaganda dan teori retorika karya Aristoteles maka kita dapat melihat keseluruhan prosesnya. Model retorik yang di pergunakan sangat tepat digunakan dalam analisis propaganda karena
Retorik dari Aristoteles merupakan kompilasi dari catatan kuliah, yang terbuka bagi macam-macam interpretasi. Retorik merupakan petunjuk untuk analisis propaganda (James E Combs dan Dan Nimmo:1994: 259) ”

Dengan demikian kita dapat langsung melihat prosesnya adalah sebagai berikut :





Pembicara dalam hal ini adalah pihak-pihak yang terlibat dalam proses perencanaan perubahan Perpustakaan FISIP UI menjadi MBRC. Pihak-pihak tersebut antara lain pihak FISIP UI yang terdiri atas jajaran dekanat FISIP UI dan Direktur serta kepala Perpustakaan FISIP UI. Pesan yang ingin di tampilkan yaitu Datanglah ke MBRC maka anda akan mendapatkan ilmu pengetahuan, manfaatkanlah dan ciptakanlah pengetahuan baru sebanyak-banyaknya agar dapat menjadi terkenal seperti Miriam Budiardjo. Pendengar atau sasaran yang menjadi tujuan pesan ini adalah sivitas akademika FISIP UI yang terdiri dari mahasiswa, pengajar, dan peneliti. Tujuan penyebaran pesan ini adalah untuk menarik minat civitas UI untuk datang dan memanfaatkan sumber-sumber informasi di MBRC sekaligus untuk memperbaiki citra perpustakaan FISIP UI dan membangun opini positif tentang perpustakaan FISIP UI.
Jika melihat bagan, dalam penyebaran pesan menggunakan setiing atau situasi yang dirancang agar pesan dapat sampai ke pendengar agar tujuan dapat tercapai. Setting dalam hal ini yaitu Miriam Budiardjo Resource Center sebagai pusat sumber yang modern dengan seluruh aspek yang melingkupiya. Proses pembangunan Pusat sumber informasi ini telah melalui proses yang direncanakan yang pada akhirnya menghasilkan sebuah bentuk baru pusat sumber informasi FISIP UI yang lebih modern dan lengkap dengan nama baru yang dapat menarik perhatian yaitu Miriam Budiardjo Resource Center. Ini merupakan suatu setting yang tidak jauh berbeda dengan setting yang dimaksud dengan model retoris. Menurut Aristoteles, persuasif dapat dicapai oleh Siapa Anda (ethos-kepercayaan Anda), Argumen Anda (logos-logika dalam pendapat Anda) dan dengan memainkan emosi khalayak (Rhatos-emosi khalayak). (Dedy Mulyana:2001:135-141). Dalam hal ini ethos di MBRC diterapkan dalam bentuk perubahan nama Perpustakaan FISIP UI menjadi Miriam Budiardjo Resource Center. Kata Resource Center telah menunjukkan bahwa ini adalah sebuah pusat sumber informasi pengetahuan dengan demikian nama tersebut dapat dijadikan jaminan bahwa di dalam MBRC terdapat berbagi macam sumber informasi dan pengetahuan yang dikemas dalam berbagai media baik tercetak, digital maupun elektronik. Selain itu untuk semakin memupuk kepercayaan pengguna bahwa MBRC adalah pusat sumber informasi dan pengetahuan, maka di adakanlah perubahan fisik dengan desain yang modern yang sejalan dengan tujuan MBRC yaitu menjadi pusat sumber ilmu pengetahuan dan informasi yang modern dan mengikuti perkembangan teknologi. Selain itu koleksinya lebih mutakhir, adanya perubahan layanan dari sistem pelayan tertutup (close library system) kepada sistem pelayanan terbuka (open libary system) dan adanya perubahan sistem penelusuran informasi yaitu dari manual dengan menggunakan katalog berubah menjadi sistem terintegrasi dengan menggunakan Online Public Access Catalog (OPAC) sebagai sarana penelusuran informasi. Logos yang diterapkan dalam MBRC ini adalah berupa argumen-argumen yang dikeluarkan berkaitan dengan perubahan ini dengan menjelaskan konsep resource center yang dikaitkan dengan kebutuhan informasi yang makin meningkat karena UI menjadi riset University. Rhatos dalam hal ini di terapkan pembuatan publikasi-publikasi MBRC dan penciptaan suasana yang nyaman di MBRC.
Dari penjelasan diatas didapatkan kesimpulan pihak FISIP UI telah melakukan upaya propaganda dan MBRC yang merupakan keseluruhan produk dari perubahan tidak lain merupakan sarana propaganda pihak FISIP UI.
5.7 Hubungan American Corner dengan Pemerintah Amerika Serikat
American Corner atau yang biasa disebut Amcor adalah salah satu media penyebaran informasi Amerika Serikat. Berdasarkan data yang saya dapatkan di website Amerika Serikat yaitu www.state.gov, Amcor dibawah kontrol Bureau of International Information Programs (IIP) di Washington DC. IIP sendiri berada dibawah kontrol Under Secretary for Public Diplomacy and Public Affairs yang berada dibawah naungan State Department (Departemen Luar Negeri Amerika Serikat). Hal ini dapat digambarkan melalui bagan berikut ini :

State Department - Secretary of State - Under Secretary for Public Diplomacy and Public Affairs - Bureau of International Information Programs – US Embassy – Public Affair Section – Information Resource Center – American Corner

Under Secretary for Public Diplomacy and Public Affairs beserta badan dibawahnya merupakan pusat informasi, hubungan publik dan penyebar diplomasi publik yang menyebarkan informasi dan diplomasi publik serta membina hubungan baik dengan publik di luar negeri. Badan ini telah mengalami perjalanan yang cukup pajang. Menurut sejarah yang saya dapatkan dari buku Nancy Snow yang berjudul Propaganda, Inc. (2003), pembentukan pusat informasi dan diplomasi public Amerika ini bermula dari pendirian Commite for Public Information (CPI) pada tahun 1917, pada saat Perang Dunia I. CPI ini bertugas sebagai kounter propaganda sekaligus sebagai media penyebar propaganda untuk kepentingan pemerintah AS. Pada perkembangannya CPI ternyata sangat berhasil dalam operasinya sehingga membawa pada pembentukkan United States Information Agency (USIA). USIA ini beroperasi ketika perang dingin di mulai.
USIA adalah suatu bisnis ekspor. Ia memberi suatu pandangan yang menyenangkan mengenai Amerika bagi orang asing, dengan maksud untuk memajukan kepentingan nasional pemerintah Amerika....motto USIA adalah “menceritakan kisah Amerika di dunia” di luar negeri. Itu dilakukan melalui berbagai sarana : jabatan pos-pos diplomatik yang terkenal di luar negeri sebagai United States Information Services (USIS), bertukar kegiatan seperti program fullbright dan kunjungan internasional, program informasi dan siaran internasional Voice of Amerika (VOA).
USIA menyebut cabang khususnya untuk luar negeri sebagai public diplomacy (diplomasi public), istilah pemanis untuk propaganda. Definisi propaganda menurut ensiklopedia ialah “instrumen perang psikologis yang bertujuan mempengaruhi tindakan manusia dalam cara-cara yang sesuai dengan tujuan kepentingan nasional dari negara yang melakukannya. USIA lebih menyukai istilah publik diplomasi ketimbang propaganda karena tidak menghendaki publik Amerika berfikir bahwa pemerintahnya terlibat perang psikologis, dan karena “propaganda di Amerika adalah suatu istilah ejekan bagi manipulasi negatif atau efensif dalam arena politik. ( Nancy Snow:2003:43-44)
Pada saat Perang dingin, Amerika memerlukan sebuah media untuk menyebarkan pengaruhnya di luar negeri. Cara yang di gunakan USIA salah satunya yaitu menyalurkan informasi dalam bentuk berbagai sumber-sumber informasi kepada United States Information Services (USIS) yang berada di pos-pos atau perwakilan diplomasi di luar negeri. Tujuan pelayanan informasi ini tentu saja mendukung kepentingan vital Amerika
Kepentingan vital didefinisikan sebagai menerangkan dan membela kebijakan luar negeri Amerika melalui penyebaran ”teks-teks otoratif dan penafsiran ahli, memfasilitasi arus informasi bebas, memperluas akses ke teknologi informasi, dan mempromosikan respek bagi hak-hak intelektual;mewakili ”nilai-nilai amerika yang langgeng terutama komitmen Amerika pada kebebasan dan persamaan” dan mempromosikan serta mendukung demikratisasi, hak-hak asasi manusia, pemerintahan berdasar hukum, ekonomi pasar dan penyelesaian sengketa secara damai. (Nancy Snow:2003:58)

Pada perkembangan selanjutnya, tepatnya setelah perang dingin berakhir sekitar 1998 ketika Amerika Serikat berhasil mendapatkan pengaruhnya di dunia Bill Clinton menganggap misi USIA ” menceritakan kisah Amerika kepada dunia” dianggap kurang relevan, bahkan ketinggalan zaman Dibawah doktrin Clinton USIA berubah fungsi menjadi America, Incorporated (PT Amerika) dengan misi utama yang baru yaitu mengabdikan diri pada kepentingan ekonomi antara Amerika dengan negara-negara lain. Semua sarana yang digunakan pada perang dingin seperti pusat informasi, pertukaran kebudayaan, pertukaran pelajar diarahkan untuk kepentingan bisnis Amerika. Pada masa ini terjadi perubahan nama pada USIS menjadi United State Commercial and Information Center atau yang disingkat menjadi USC&IC. Walaupun nama USIS telah berubah menjadi USC&IC namun masih tetap menggunakan lambang dan bendera USIS. Badan ini kemudian bergabung dengan Foreign Commercial Service. Fungsi USC&IC sebagai pusat informasi bidang perdagangan Amerika Serikat.
Tanggal 1 oktober 1999, USIA secara resmi kehilangan status tunggalnya sebagai badan independen pemerintah Amerika. USIA diintegrasikan dengan Departemen Luar negeri Amerika Serikat (State Department). Dengan bergabungnya Kementrian Luar Negeri dan USIA, maka dibentuklah Mentri Muda Luar Negeri untuk Diplomasi Publik dan Urusan Publik (Under Secretary for Public Diplomacy and Public Affairs). Dari sini dibentuk Bureau of International Information Programs (IIP) yaitu sebagai pusat informasi Amerika dengan memproduksi beragam informasi untuk di sebarluaskan ke luar negeri. Penyebaran informasi ini melalui pusat informasi Amerika (Information Resource Center) atau yang disingkat IRC di setiap kedutaan besar AS. IRC ini pengganti United State Commercial and Information Center (USC&IC )pada masa pasca Perang Dingin. Dari IRC kemudian di salurkan lagi ke Amcor di setiap daerah. Amcor Pertama kali berdiri di Rusia tahun 2000 (www.gatra.co.id) Lalu berkembang tidak hanya berkembang di negara-negara bekas Uni Soviet tetapi telah meluas ke negara-negara lain seperti Jepang, Kanada, dll. Tujuan penyebaran informasi ini tetap sebagai pendukung bisnis dan ekonomi Amerika
Barulah setelah terjadi persitiwa 11 september yaitu hancurnya menara kembar WTC, terjadi perubahan dalam diplomasi publik yaitu
Peristiwa 11 September 2001 telah mengubah pendekatan yang semakin berkurang dalam diplomasi publik era pasca Perang Dingin. Amerika telah di serang oleh kekuatan dari luar yang cukup membenci Amerika hingga mampu membunuh warga yang tak berdosa di dalam batas-batas wilayahnya sendiri. Pemerintahan Bush merespon secara terang-terangan tentang keterlibatan aktif dalam perang kata dan citra-suatu propaganda baru, pertama terhadap taliban dan organisasi yang pimpinan Oasama bin Laden, Al-Qaeda, lalu terhadap axis of evil (poros kejahatan), mantan ”rogue states (negara-negara rakal” seperti Iran, Irak, Korea Utara yang dikatakan mensponsori terorisme.
CEO Propaganda baru, Charlotte Beers yang memulai karirnya sebagai manajer produk bagi Uncle Bens Rice, sekarang mempunyai tugas untuk melakukan ”rebranding” pada Amerika dan melakukan revitalisasi kisah Amerika pada dunia. Tidak ada yang memprediksi bahwa hanya dua tahun setelah kematian USIA, Charlotte Beers akan mengepalai satu dari usaha pekerjaan yang paling penting dalam Perang Baru Amerika. Usaha-usaha diplomasi publik yang tidak lain adalah propaganda Amerika kini sedang aktif di promosikan. (Nancy Snow : 2003:33)

Perubahan kebijakan ini dikarenakan AS merasa telah mempunyai musuh baru dan ini akan mempengaruhi posisi AS sebagai negara ”super power” dan pemimpin dunia. Ketakutan ini sama dengan ketakutan pada masa Perang Dunia atau pada masa Perang Dingin yaitu ketakutan akan adanya ancaman pertahanan keamanan dan ketakutan akan adanya dis-informasi yang akan merusak reputasi AS seebagai ’negara super power’. Oleh karena itu AS ingin membersihkan namanya sekaligus menyebarkan informasi yang berguna untuk tujuan nasionalnya.
Perubahan kebijakan ini berpengaruh pada misi dan tujuan State Department terutama Under Secretary for Public Diplomacy and Public Affairs sebagai corong terdepan dalam diplomasi publik. Misi Under Secretary for Public Diplomacy and Public Affairs saat ini adalah
• Offer people throughout the world a positive vision of hope and opportunity that is rooted in America's belief in freedom, justice, opportunity and respect for all;
• Isolate and marginalize the violent extremists; confront their ideology of tyranny and hate. Undermine their efforts to portray the west as in conflict with Islam by empowering mainstream voices and demonstrating respect for Muslim cultures and contributions; and Foster a sense of common interests and common values between Americans and people of different countries, cultures and faiths throughout the world. (www.state.gov)
Jadi misi telah bergeser dari kegiatan promosi budaya untuk mendukung ekonomi menjadi misi pencitraan AS dimata dunia. Semuanya itu diarahkan agar kepercayaan dunia kembali AS dapatkan. Dengan bergantinya misi Under Secretary for Public Diplomacy and Public Affairs, secara otomatis misi dan tujuan IIP juga berubah yaitu
• Delivers America's message to the world, counteracting negative preconceptions, maintaining an open dialogue, and building bridges of understanding to help build a network of communication, promote American voices, and forge lasting relationships in international communities.

• Delivers clear and meaningful U.S. policy information and articles about U.S. society in the languages that attract the largest number of viewers -- English, Arabic, Chinese, French, Persian, Russian, and Spanish.

• Produces news articles, electronic and print publications, which provides context to U.S. policies, as well as products on U.S. values, culture, and daily life that serves as a window on positive American values.

• Engages audiences through lectures, workshops, and seminars to promote understanding of U.S. policies.

• Provides current and authoritative information on U.S. policy issues, legislation, business and trade issues, and U.S. political and social processes to local decision makers and opinion leaders. (www.state.gov)
Jadi semuanya kembali seperti pada saat perang dingin. namun yang beda adalah nama lembaga-lembaga yang berperan aktif dalam propaganda dan sasarannya.
Agar nyebaran pesan berjalan efektif maka di perlukannya sebuah media untuk menampung seluruh sumber-sumber informasi ini dimana semua orang dapat mengakses sumber-sumber informasi tadi melalui media ini. Media tersebut adalah American Corner. Hal ini seperti yang dikatakan Patricia S. Harrison , yaitu
“...One of our most visible and effective public diplomacy tools is American Corners. A visitor to an American Corner, which can be housed in a university or an office building, finds computers, books, magazines, and information about life in the United States, our government and our culture. More than 140 American Corners are now in operation around the world, and our goal is to establish another 60 this year, with an emphasis on the Muslim world. In South Asia and other regions, our missions continue to operate American Centers — significant community institutions that serve as platforms for public outreach and as models of shared commitments to models of educational excellence…” (Patricia S. Harrison : www.state.gov)
Alat yang digunakan dalam penyebaran pesan tersebut adalah
We have communicated our policy message through daily press briefings and public outreach by our missions around the world, as well as through our expanded web presence, speakers and publications. And, we communicate America's message through more than statements and speeches. In fact, one of the most powerful components of our public diplomacy programs are the 80,000 Americans who are reaching out to host our more than 30,000 academic, cultural and professional exchanges annually. We are working with 1,500 public-private organizations to improve lives in communities throughout the world. We know that one of our great assets in public diplomacy is the American people themselves, as they really are, not as they are caricatured. Programs that bring Americans and foreign citizens in direct contact can and do have tremendous positive impact. …”(Patricia S. Harrison : www.state.gov)
Audiens yang menjadi target propaganda adalah
“….After 9/11, we redirected funds to enable us to move quickly and reach beyond elites to strategic communities comprising young people, religious leaders, as well as the universe of people responsible for the education and development of young people — "youth influencers" from education ministers to classroom teachers to clerics, coaches and parents. We developed programs to reach people of good will, moderate groups working for the development of tolerant civil societies, journalists, women's groups, local leaders, clerics, community activists and more.
Jadi, menjadi audiens atau pendengar seperti dalam teori Aristoteles adalah para elit yang menjadi pemimpin opini seperti tokoh agama, orang-orang yang para pendidik dan akademisi, jurnalis komunitas perempuan, pemimpin dan tokoh masyarakat, dan para aktivis. Selain itu kalangan terdidik seperti pelajar dan mahasiswa juga menjadi sasaran hal tersebut karena orang yang berpendidikan membaca lebih banyak, sehingga mereka menerima lebih banyak propaganda (Nancy Snow:2003:59)
5.7.1 Kesimpulan : American Corner sebagai Media Propaganda Pemerintah AS
Dari penelusuran sejarah mengenai badan diplomasi Amerika sejak Perang Dunia hingga Pasca peritiwa 11 september, kita dapat melihat bahwa Amcor merupakan alat diplomasi pubik pemerintah AS. Diplomasi publik disini tidak lain adalah propaganda karena berupaya untuk mempengaruhi tidakan manusia dalam cara-cara yang sesuai dengan tujuan kepentingan Nasional dari negara yang melakukannya. Dalam hal ini publik diplomasi Amerika berupaya untuk menyebarkan pesan-pesan Amerika ke seluruh dunia. Pesan-pesan ini meliputi sejarah Amerika , nilai-nilai Amerika, Kebudayaan Amerika dalam segala aspek yang melibatkan seluruh dunia. Dalam proses diplomasi pesan-pesan tadi di kemas dalam bentuk sumber-sumber informasi seperti buku, jurnal, majalah, film , dll. Tujuan penyebaran pesan ini tidak lain untuk membentuk opini dan citra yang positif mengenai Amerika. Jika opini dan citra tadi telah terbentuk secara otomatis masyarakat akan mudah di bentuk dan diarahkan karena ini sesuai dengan tujuan propagnda yaitu untuk melunakkan masyarakat dan untuk mengendalikan tingkah laku sesuai dengan yang menjadi tujuan propagandis. Saya akan menggambarkan proses diplomasi ini dengan menggunakan bagan retorika Aristoteles.






Dalam proses ini yang di katakan sebagai pembicara adalah Pemerintah AS. Pemerintah AS yang di wakili oleh Under Secretary for Public Diplomacy and Public Affairs menyebarkan informasi yang berkaitan dengan Amerika. Dalam proses penyampaian informasi dari pembicara hingga ke pendengar, tidak terjadi begitu saja seperti halnya komunikasi alami tetapi sebelum informasi sampai ke pendengar terlebih dahulu di ciptakan sebuah setting. Setting adalah suatu keadaan yang diciptakaan dan di rencanakan yang dapat mendukung proses komunikasi sehingga pendengar dapat dengan mudah mengerti, memahami kemudian dapat bertingkah laku sesuai dengan pesan yang disampaikan oleh pembicara. Setting yang di ciptakan oleh pemerintah AS tidak lain adalah informasi mengenai Amerika yang telah terseleksi baik isi maupun bentuk. Kedua hal ini harus di rencanakan secara seksama agar pendengar dapat tertarik kemudian dapat mendengarkan, memahami dan bertingkahlaku sesuai yang diisaratkan pesan dalam informasi tersebut. Untuk menampung semua sumber-sumber informasi tadi di perlukan sebuah media. Media tersebut adalah sebuah pusat sumber yang di beri nama American Corner. Dengan demikian American Corner merupakan media propaganda Amerika Serikat.
5.8 American Corner di Indonesia Dalam Pengertian Propaganda
Setelah melihat sejarah badan public diplomasi Amerika Serikat terutama American Cornernya, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Amcor merupakan media propaganda Amerika serikat. Amcor di perlukan sebagai media penyebar pesan propaganda Amerika.ke seluruh dunia. Indonesia merupakan salah satu negara yang menjadi target pengembangan Amcor. Latar belakang Amcor di Indonesia adalah
”tahun 2003 Public Afair Section Jakarta memperoleh dana sebesar 1 juta dolar AS untuk memulai kerjasama bernama Amcor. Tujuan Amcor ini sama dengan tujuan IRC atau perpustakaan-perpustakaan sebelumnya (USIS), yakni menyediakan informasi yang akurat dan terpercaya tentang Amerika Serikat kepada khalayak indonesia ” (Meiling Simanjuntak:2005)
Dalam sejarah dikatakan bahwa setelah 11 September 2001 terjadi perubahan kebijakan dalam publik diplomasi terutama yang berkaitan dengan American corner. Amcor telah menjadi media propaganda yang difokuskan penyebarannya di negara-negara mayoritas muslim terutama negara-negara bekas Uni Soviet dan negara-negara timur tengah. Indonesia juga negara dengan penduduk mayoritas muslim namun pada tahun 2001 Indonesia belum menjadi fokus perluasan Amcor. Akan tetapi Amerika baru memberikan dananya pada tahun 2003. Jika AS menggunakan pola yang sama maka selalu ada hal yang mendorong itu semua. Salah satu hal mendorong pengembangan Amcor di Indonesia adalah terjadinya peristiwa Bom Bali tanggal 12 Oktober 2002. Dengan demikian pola yang dilakukan AS sama dengan yang telah dilakukan pasca 11 september 2001. Amerika mengucurkan dana untuk pengembangan Amcor karena adanya aksi terorisme di Indonesia, disamping itu Indonesia merupakan negara dengan penduduk mayoritas muslim, jadi sangat tepat sekali.
Lebih lanjut konsep Amcor di Indonesia adalah
”...awalnya Amcor itu di Rusia, awalnya hanya berupa ruang baca aja kemudian berkembang menjadi program, Cuma kalau di Indonesia hanya mengikuti apa yang telah ada di negara-negara lain. Koleksi di IRC dan Amcor relatif sama, ada beda-beda dikitlah, kita juga memberikan fasilitasnya sama yang membuatnya berbeda itu dengan information center lain yaitu kita mengadakan program rutin....sebagai ruang baca walaupun kecil itu dimana-mana supaya merata, menyebar di bandingkan satu tetapi dari tempat-tempat lain susah, seperti hanya ada di jakarta saja, nanti yang dari surabaya, sulawesi dan makasar itukan sulit jadi kita ciptakan konsep aksesnya itu mudah. Itu ruang-ruang baca yang kecil, kemudian di kembangkan program juga karena kalau ruang baca aja kalau enggak di up-date atau koleksinya itu-itu saja, itu tuh cepat matinya, ya jadi orang akan cepat bosan, sedangnya informasi yang bagus itukan sumbernya tidak hanya dari buku tetapi m.mm.. pengalaman seseorang tentang suatu topik atau suatu topik seperti ekonomi, politik, sosial, budaya atau pendidikan kemudian di ciptakan suatu konsep publik program, itu juga bisa membagi pengetahuan kepada masyarakat itu jadi intinya. Lalu di ciptakanlah Amcor di sini. Juga, akses untuk ke IRC aja orang males, mungkin harus melewati security, jadi pointnya jadi ga banyak jadi kita ciptakan American Corner supaya aksesnya lebih mudah terutama untuk untuk mahasiswa yang banyak riset seperti dosen, guru-guru juga. Kita juga mengharapkan dari masyarakatnya sendiri juga seperti profesional yang bergerak ke American Corner untuk memanfaatkan fasilitas yang ada tapi sejauh ini kendalanya di lokasinya. Kita pilih UI juga aksesnya bagus juga karena jumlah mahasiswanya juga banyak tapi lokasinya jauh. Di UIN juga begitu jadi mereka ada komunitas yang dari Ciputat kan banyak universitas, ada Muhamadiah, ada Ahmad Dahlan tuh kalau enggak salah kita harapkan dari sekitar-sekitar situ menggunakan American Corner...” (wawancara dengan Adeline Widjaya 21 Maret 2006)
Jadi konsep Amcor di Indonesia sama seperti pusat informasi yang bentuknya kecil namun menyebar. Tujuannya adalah agar setiap orang dapat dengan mudah mengakses Amcor dengan demikan informasi yang terdapat di dalam Amcor dapat tersebarluaskan. Ini merupakan salah satu metode propaganda yaitu ideakultura yang logikanya mirip dengan holtikultura yaitu
”Saya bekerja ibarat penabur Injil. Sebarkan benih kemana-mana. Beberapa diantaranya jatuh di tanah berbatu, beberapa diterbangkan angin kembali ke wajahmu, tetapi bagian terbannyak jatuh diatas permukaan yang subur dan berkembang biak. Dan benih yang berkembang biak tersebut cukup banyak jumlahnya dibandingkan dengan yang jatuh diatas bebatuan dan yang diterbangkan kembali oleh angin” (James E Combs dan Dan Nimmo:1994:12)
Jadi lebih baik menyebarkannya ke banyak tempat daripada hanya di satu tempat saja karena peluang untuk tumbuh tentu saja akan lebih besar. Begitu halnya juga dengan Amcor. Amcor di sebarkan ke semua tempat agar dapat lebih banyak lagi menjangkau masyarakat, semakin banyak masyarakat yang mengakses informasi maka semakin banyak pula peluang keberhasilan propaganda. Seperti yang di katakan Adeline Widjaya, Coordinator Amcor Indonesia, pada saat hanya ada IRC orang malas untuk datang dengan demikian peluang keberhasilan propaganda sedikit karena sedikit pula orang yang mengakses informasi melalui Amcor. Ini berkaitan dengan kata yang disebutkan Adeline yaitu ” pointnya jadi ga banyak” bahwa sebenarnya kata inilah yang menjadi kunci bahwa propaganda membutuhkan target atau berapa banyak orang yang mengakses informasi melalui Amcor. Keberhasilan propaganda di tentukan apabila telah mencapai target tertentu Oleh karena itu Amcor di ciptakan agar setiap orang dapat dengan mudah menjangkau Amcor. Semakin banyak masyarakat yang mengakses informasi maka semakin banyak pula peluang keberhasilan propaganda.
Lebih lanjut Amcor didirikan tidak hanya sebagai ruang baca tetapi sebagai
” Programing site dan comunity development dimana setiap orang bisa mendapatkan informasi mengenai Amerika secara tepat dan baik melalui sumber info maupun kegiatan-kegiatan yang telah di rancang oleh pihak pusat ”
Yang dimaksud dengan comunity development yang menjadi tujuan Amerika menurut Ibu Suzie Sudarman sebagai Dosen Kajian Wilayah Amerika UI adalah
“ Pengembangan komunittas yang sesuai dengan nilai-nilai Amerika, ya? Kan ga mungkin mereka mengembangkan komunitas sesuai dengan nilai-nilai Turkiatau Rusia. ? ya, enggak? Jadi sesuai dengan nilai-nilai Amerika
Jadi Amcor di kembangkan agar masyarakat pengguna dapat memahami Amerika beserta nilai-nilainya lalu dapat mengembangkan diri dan mengembangkan sosial kemasyarakatan yang berada di lingkungannya berdasarkan nilai-nilai itu. Inilah yang di sebut sebagai situasi yang di ciptakan oleh propaganda yaitu A melalui suatu metode atau metode lain yang berhubungan dengan B sehingga cendrung mempengaruhi tingkahlaku B James E.Combs dan Dan Nimmo (1994:23). A, dalam hal ini adalah Kedutuaan Amerika melalui Amcornya menyebarkan informasi mengenai Amerika dengan metode penyebarluasan informasi yang mengandung informasi berkaitan dengan nilai-nilai Amerika, informasi tersebut di pahami oleh pengguna yang mengakses informasi dengan demikian pengguna tersebut dapat memahami, mengerti bahkan mengikuti nilai-nilai Amerika tadi.
Sumber-sumber informasi yang di sediakan di Amcor adalah
”Amcor menyediakan informasi terutama mengenai Amerika serikat, politik, sosial, ekonomi dan budaya tetapi dari sumber yang akurat. Jadi orang lain bisa mendapatkan informasi yang sama tetapi siap sumbernya? kita belum tahu...Tapi (informasi) dari Amcor sendiri sifatnya selektif, jadi benar-benar pilihan. Kita punya subjek spesialis dari washington. Jadi bukan semata-mata dari sini. Jadi kita memang spesialisnya bukan Cuma dari IRC ada juga dari washington yang memang expertnya dalam memilih koleksi-koleksi itu jadi enggak semata-mata IRC request, kita jua melihat pengarangnya siapa, bisa di pertanggungjawabkan atau tidak, dan itu menjadi guide line Amcor di dunia, jadi memang Amcor itukan world wide kalau mau lihat ke websitenya...” (wawancara dengan Adeline Widjaya 21 Maret 2006)
Dari hasil wawancara dikatakan bahwa sumber-sumber informasi Amcor telah melalui proses seleksi yang di seleksi oleh sujek spesialis dari Amerika. Dalam metode propaganda yang di perlihatkan oleh model Retorika Aristotele bahwa inilah yang disebut setting. Setting adalah suatu keadaan yang diciptakaan dan di rencanakan yang dapat mendukung proses komunikasi sehingga pendengar dapat dengan mudah mengerti, memahami kemudian dapat bertingkah laku sesuai dengan pesan yang disampaikan oleh pembicara. Setting yang di ciptakan oleh pemerintah AS tidak lain adalah informasi mengenai Amerika yang telah terseleksi baik isi maupun bentuk. Kedua hal ini harus di rencanakan secara seksama agar pendengar dapat tertarik kemudian dapat mendengarkan, memahami dan bertingkahlaku sesuai yang diisaratkan pesan dalam informasi tersebut. Badan yang bertanggungjawab untuk memproduksi dan menyeleksi ini adalah IIP. Ketika pihak kedutaan besar dtanyakan mengenai IIP ini, mereka tidak mau memberikan banyak penjelasan mengenai ini
”IIP itu International information program, itu agak ngejelimet, untuk lebih jelasnya bisa melihat websitenya” (wawancara dengan Adeline Widjaya 21 Maret 2006)
IIP ini sebenarnya badan yang memproduksi dan menyeleksi informasi Amcor. Hal ini bisa dilihat dari tugasnya yaitu :
• Delivers America's message to the world, counteracting negative preconceptions, maintaining an open dialogue, and building bridges of understanding to help build a network of communication, promote American voices, and forge lasting relationships in international communities.

• Delivers clear and meaningful U.S. policy information and articles about U.S. society in the languages that attract the largest number of viewers -- English, Arabic, Chinese, French, Persian, Russian, and Spanish.

• Produces news articles, electronic and print publications, which provides context to U.S. policies, as well as products on U.S. values, culture, and daily life that serves as a window on positive American values.

• Engages audiences through lectures, workshops, and seminars to promote understanding of U.S. policies.

• Provides current and authoritative information on U.S. policy issues, legislation, business and trade issues, and U.S. political and social processes to local decision makers and opinion leaders.
Tujuannya yaitu untuk mempromosikan pesan-pesan Amerika, membangun hubungan dan pengertian dengan masyarakat luar negeri, membangun promosi dan pengertian masyarakat internasional terhadap kebijakan-kebijakan Amerika terutama berkaitan dengan kebijakan luar negerinya dan terutama untuk membangun opini dan citra yang baik mengenai Amerika. Oleh karena itu di katakan diatas bahwa untuk koleksi terdapat guide line untuk semua Amcor di dunia. Guide line ini tentu saja di selaraskan denagn tujuan-tujuan yang akan di capai. Selanjutnya di katakan bahwa koleksi di Amcor hamper semuanya sama
”…untuk koleksi kebanyakan sama, untuk 10 Amcor itu koleksinya sama, beda-beda dikitlah, jadi universitas islam itu dilebihkan dikit koleksi islamnya, kemudian, tetapi kebanyakan rata-rata sama, jumlah komputer beda-beda karena lingkup ruangnya lebih kecil jadi kita hanya ngasih 8, tapi semua fasilitas itu sama. Mungkin di bagi dua dulu ya. Equipment dan material, dari buku majalah relatif sama, data basenya juga sama, jadi kemanapun mahasiswa cari info entah ke UGM, ke UNAIR dia akan mendapatkan koleksi yang sama, kalau fasilitasnya tele conferensi, belajar bahasa inggris, dari Cdnya juga, semuanya sama...” (wawancara dengan Adeline Widjaya 21 Maret 2006)
Tentu saja semuanya sama karena subjek spesialisnya sama, telah terdapat gudeline yang telah di tentukan lagi pula Amcor di ciptakan sebagai pusat informasi Amerika yang menyebar dan merata. Saya tegaskan sekali lagi bahwa inilah yang dinamakan propaganda karena bertujuan mempengaruhi tindakan manusia dalam cara-cara yang sesuai dengan tujuan kepentingan nasional. Semua sumber-sumber informasi yang mengandung pesan-pesan tersebut adalah instrumen atau alat propaganda.
” Semua alat propaganda, “semua tangga nada ekspresi dari sebuah ide atau sebuah lembaga”, yang tidak hanya meliputi Koran dan “kisah nyata” tetapi juga “radio, gambar bergerak (film), artikel majalah, pidato, buku, pertemuan masyarakat dan fakta” (James E Combs dan Dan Nimmo:1994: 82) ”

Semua sumber informasi tadi di kemas dalam berbagai bentuk yang mengikuti perkembangan teknologi komunikasi modern. Tidak hanya berbentuk printed material saja tetapi dalam bentuk online esperti data base online dan bentuk –bentuk elektronik sepertoi bentuk CD, DVD atau CD ROOM. Berikut ini adalah sumber-sumber informasi yang di sediakan di Amcor :

a. Koleksi cetak terdiri dari referensi dan buku-buku di bidang karya fiksi, bisnis, ilmu sosial, politik, pendidikan dan kebudayaan
b. Majalah, jurnal dan laporan-laporan serta terbitan pemiran Amerika
c. EbcoHost, data base online yang menyajikan ringkasan dan artikel lengkap dari lebih 1000 terbitan berkala
d. Jurnal elektronik yang diterbitkan Biro Informasi Internasional pemerintah Amerika Serikat
e. Akses internet gratis ke situs-situs Amerika dan Internasional, non-pemerintah, lembaga riset dan lembaga akademis
f. Akses ke multimedia: produk-produk video dan audio seperti CD dan DVD koleksi musik dan film, dan CD-ROM untuk sumber informasi
g. Akses ke komputer, printer dan mesin fotokopi, serta fasilitas elektronik yang memudahkan pengiriman dan penerimaan dokumen melalui e-mail atau mesin fax.

James dan Dan Nimo menyebut propaganda dengan menggunakan alat-alat komunikasi modern ini di sebut dengan ”revolusi control” yaitu

”Di Dunia modern, kemampuan organiasi untuk mengembangkan control mereka terhadap sesuatu serta terhadap masyarakat telah di perkuat oleh kemajuan teknik…Kebutuhan informasi yang cepat dan akurat memberi dorongan bagi pembentukan dan penggunaan teknologi yang efisien , termasuk film, Radio, buku, dll. Semua penemuan tersebut mendorong pencapaian rasional mereka yang mencari control melalui surat elektronik, jaringan computer, bahkan computer mata-mata. Dunia “kabel” tempat kita hidup merupakan kepentingan organisasi, tetapi dalam skala konsekuensi yang luas bagi hidup kita termasuk potensi pemakaian control organisasi melalui komunikasi lebih dari yang kita fikirkan, rasakan dan lakukan. Golongan elit Machiaveli yang “sedikit” mengatur yang “banyak”, tetapi sdekarang mereka melakukannnya melalui organisasi serta keahlian dan teknik komunikasi modern (James E Combs dan Dan Nimmo:1994:.59)
Jadi sangat jelas bahwa tujuan dari penyebaran informasi dengan menggunakan alat komunikasi modern adalah agar pengguna dapat menemukan informasi secara cepat, tepat dan akurat. Tepat dan akurat disini diartikan sebagi informasi yang terseleksi yang sesuai dengan kepentingan pemerintah Amerika. Penggunaan alat komunikasi modern ini juga memudahkan pihak pemerintah Amerika untuk mengendalikan dan mengontrol informasi dari jarak jauh dan dapat mengetahui seberapa banyak masyarakat yang mengakses informasi tadi dengan demikian akibat atau dampak penyebaran informasi dapat di prediksi atau di ramalkan.
Selanjutnya di katakan bahwa hampir semua koleksinya di fokuskann pada ilmu-ilmu sosial
“...Kalau koleksinya hanya ilmu sosial itu mungkin karena dibawah public afair. Jadi membawa rambu-rambu. Jadi info mengenai kesehatan secara umum mungkin ada tetapi untuk spesifik tentang kesehatan itu tidak ada tapi kita mengcovernya dengan data base ebsco , tapi memang lebih di fokuskan kepada ilmu-ilmu sosial...” (wawancara dengan Adeline Widjaya 21 Maret 2006)
Dalam propaganda dikatakan bahwa tujuan propaganda adalah untuk mengubah sikap, pandangan, pendapat (opini) dan tingkah laku dari penerimanya/komunikan sesuai dengan pola yang ditentukan komunikator. Penggunaan ilmu-ilmu sosial dianggap sebagai cara yang efektif untuk mempengaruhi dan membangun opini tersebut karena sifat dari ilmu sosial sendiri yaitu ilmu yang mempelajari sosial kemasyarakatan. Dengan demikian ilmu sosial dapat berfungsi untuk membangun atau mengubah pemikiran seseorang dan ilmu sosial dapat juga di implementasikan untuk merubah atau membangun sosial kemasyarakatan sesuai dengan pola yang dianjurkan ilmu tersebut. Hal ini Edward Barnays dalam bukunya Crystalalizing Public Opinion yaitu
“Propaganda adalah suatu usaha yang bertujuan dan bersifat langsung untuk mengatasi kelembapan prasangka dan tradisi. Penerapan ilmu sosial dapat secara ilmiah mengevaluasi harapan, aspirasi, pengabaian, pengetahuan, apatisme serta prasangka masyarakat” (Edward Barnays :1923:11)
Tanggapan Ibu Suzie sendiri selaku dosen kajian Amerika berkaitan dengan hal ini adalah
“Karena orang-orang sosial adalah orang-orang yang paling meracuni dunia, kalu teknologikan mereka sibuk dengan dunianya sendiri, kan? Kalau ilmu sosial kan bisa membangun angan-angan, membangun cita-cita, perubahan, ya....” (wawancara dengan Suzie Sudarman, 6 November 2006)
Jadi ternyata memang ilmu sosial merupakan ilmu yang paling mempunyai potensi menciptakan perubahan baik pada sosial kemasyarakatan maupun pada individu yang mempelajari ilmu tersebut. Ilmu sosial yang terdapat di Amcor adalah ilmu-ilmu sosial yang mempunyai nilai-nilai atau berlandaskan pemikiran Amerika. Tujuannya adalah yang membujuk setiap orang untuk kepercayaan atau untuk suatu bentuk tindakan yang sesuai denagn pemikiran dan nilai-nilai Amerika.
Selanjutnya penjelasan mengenai kegiatan-kegiatan American orner untuk menuju programing site dan comunity development yang sesuai dengan nilai-nilai Amerika meliputi :

a. Ahli-ahli dari Amerika menapilkan pembicaraan mengenai berbagai aspek Amerika
b. Cendikiawan Amerika bersama cendikiawan Indonesia mengadakan seminar dan konferensi
c. Cendikiawan Indonesia memberikan ceramah dengan topik-topik Indonesia dan Amerika
d. Pameran yang mempertunjukkan keragaman budaya, masyarakat dan kegiatan sosial di Indonesia
e. Informasi pendidikan bagi yang ingin belajar di Amerika
f. Kegiatan belajar dan mengajar bahasa inggris dengan Regional English Language Office (RELO), English Language Fellow (ELF), atau pusat bahasa di universitas
g. Peserta program yang disponsori pemerintah Amerika Serikat berbagi pengalaman mereka selama di Amerika Serikat
h. Seminar jarak jauh menggunakan peralatan web conferencing atau digital video conferencing
i. Pemutaran film yang dilanjutkan dengan diskusi kelompok mengenai film tersebut
j. Kegiatan kebudayaan memperingati hari-hari besar Amerika dan Internasional
k. Pelatihan-pelatihan mengenai cara pencarian sumber informasi dan referensi melalui internet
l. Pertemuan dan diskusi berkala yang diikuti mahasiswa, staff pengajar dan masyarakat umum
Program-program itu ada yang bersifat insidental dan ada pula yang di rencanakan. Seperti yang dikatakan Adeline widjaya berikut ini
”... Kalau dari Amcornya sendiri memang sudah di jadwalkan merencanakan seperti selasa kamis itu movie, rabu jumat itu diskusi, tapi kalau dari kita itu programnya kita punya tiap tahun itu namanya congress Amcor, jadi kita berkumpul dan kita bicarakan programnya, listnya itu kia sesuaikan waktunya ada atau tidak pembicara yang sesuai dengan program tersebut. Insidental juga ada jadi kalau misalnya ada tamu dari luar dan itu berkunjung kesini kemudian mereka mau berbagi atau bertukkar pengalaman, mahasiswa, ya kita adakan discussion.Jadi pemberitahuannya mendadak, tetapi mahasiswa kadang-kadang juga seneng-seneng aja, diskusi seperti itu mereka selalu responsif...” (wawancara dengan Adeline Widjaya 21 Maret 2006)
Jadi tidak hanya mlalui sumber-sumber informasi saja tetapi penanaman nilai-nilai Amerika dalam bentuk program-program yang sebagian besar berupa pemutaran film, diskusi dan seminar. Semuanya mendatangkan tokoh-tokoh yang di pilih oleh kedutaan besar Amerika. Kegiatan-kegiatan ini termasuk bagian yang diciptakan oleh IIP yaitu “ Engages audiences through lectures, workshops, and seminars to promote understanding of U.S. policie” dengan tujuan yaitu agar pengguna yang datang ke program ini mendapatkan pemahaman dan pengertian mengenai kebijakan Amerika. Logikanya ketika masyarakat sudah memahami dan mengerti maka masyarakat akan menerima dengan demikian tidak ada halangan Amerika untuk merealisasikan kebijakan-kebijakan luar negerinya. Lebih lanjut James dan Nimo mengatakan ”Propaganda baru...tidak hanya dimanfaatkan untuk memfokuskan dan mencapai keinginan masyarakat, karena setiap keinginan bagaimanapun juga sangat luas sifatnya, dan tidak dapat diwujudkan dalam suatu tindakan kecuali bila di bicarakan ” (James E Combs dan Dan Nimmo:1994:.59). Jadi metode propaganda yang digunakan dalam program-program ini adalah metode perundingan dengan mendatangkan pembicara yang mempunyai keahlian untuk ini lalu duduk bersama lalu diajak berdiskusi dengan demikian dapat mencapai pengertian bersama. Ini adalah sebuah cara untuk melunakkan masyarakat tanpa kekerasan.
Sumber-sumber informasi dan kegiatan-kegiatan yang disebutkan diatas tentu saja merupakan pilihan bahkan produk dari IIP. Karena sudah menjadi tanggung jawab IIP untuk menghasilkan alat-alat diplomasi yang berisi pesan-pesan mengenai Amerika. Namun yang menyalurkan sumber-sumber informasi dan yang bertanggungjawab dalam mengelola progam-program yang telah di agendakan IIP adalah Public Afair Section (PAS) Kedutaan Besar Amerika. Oleh karena itu PAS lah yang bertanggungjawab terhadap IRC dan Amcor seperti yang dikatakan Adeline Widjaya berikut ini
”...public Afair sendiri ini artinya bukan sekedar humas, tetapi lebih luas lagi. Kita menangani lebih banyak program-program jadi Amcor itu salah satu program kita dan program yang berhubungan dengan penyaluran informasi, distribusi informasi ke berbagai daerah, itu di dukung oleh IRC juga...” (wawancara dengan Adeline Widjaya 21 Maret 2006)
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Amcor di Indonesia berada di bawah tanggung jawab PAS Kedutaan Amerika. Oleh karena itu tidak heran jika semua hal yang berhubungan dengan Amcor diarahkan untuk meningkatkan citra Amerika sekaligus untuk membangun pengertian mengenai kebijakan Amerika. Hal ini seperti yang di ungkapkan James E Comb dan Dan Nimo
”Hasil penelitian memperlihatkan bahwa diplomasi melalui hubungan masyarakat dapat meningkatkan citra sebuah bangsa paling tidak dalam liputan berita (James E Combs dan Dan Nimmo:1994:.180)...Hubungan masyarakat adalah fungsi komunikasi manajemen untuk mengadaptasi ataupun mempertahankan lingkungan mereka untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi ”(James E Combs dan Dan Nimmo:1994:.213)
Mengenai perkembangan Amcor di Indonesia hingga tahun 2005 telah terdapat 10 Amcor di Indonesia, yaitu :
Nama Perguruan Tinggi Lokasi Tanggal Peresmian American Corner
Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta
• 18 Maret 2004
Univeritas Muhamadiyah Yogyakarta (UMY) Yogyakarta
• 24 April 2004
Universitas Airlangga (Unair) • Surabaya 12 Mei 2004
Universitas. Gajah Mada

Yogyakarta 28 Juli 2004
Istitut Agama Islam Negeri Sumatera Utara (IAIN SU) Medan 22 September 2004
Istitut Agama Islam Negeri (IAIN Walisongo) Semarang
25 Januari 2004

Universitas Indonesia (UI) Jakarta
• 24 Februari 2005
Universitas Hasanudin (UNHAS) Makassar
• 10 September 2005
Universitas Sumatera Utara (USU) Medan • 19 Desember 2005
Jika dilihat secara seksama maka terlihat adanya kesamaan yaitu Amcor selau berada di Perpustakaan Perguruan Tinggi. Mengenai hal ini pihak kedutaan besar berpendapat bahwa
”...Kalau di perpustakannya memang ini menjadi suatu bagian dari American Section ya...Jadi pelayanan informasi publik fungsinya pada dasarnya sama dengan perpustakaan hanya kita Amcor tidak meminjamkan buku keluar, jadi sirkulasinya di dalam saja....kenapa di perguruan tinggi, itu juga alasan karena intelektualismenya di indonesia itukan masih di kalangan universitas dan public securiti-nya pun masih bagus di universitas, managemennya pun masih lebih bagus di bandingkan perpustakaan umum yang milik pemerintah yang belum terlalu bagus padahal di Amcor kita berusaha menampilkan suasana yang modern yang lebih baik dari perpustakaan... ” (wawancara dengan Adeline Widjaya 21 Maret 2006)
Jika di rinci mengapa pihak kedutaan lebih memilih perguruan tinggi karena (1) permasalahan target potensial bahwa pada dasarnya Amcor di tujukan untuk kalangan intelektual yang merupakan salah satu opinion leader di indonesia. (2) Permasalah tempat bahwa Amcor menginginkan tempat yang modern dengan manajemen dan keamanan yang tinggi. Kedua hal ini sangat berpengaruh dalam efektifitas penyebarluasan pesan. Sama seperti yang terdapat pada logika propaganda bahwa
”Tanah menyebarluaskan benih, manusia menyebarluaskan ide dan keduanya menyebarluaskan sejenis kultur yang kadang-kadang bersifat acak, dan kadang-kadang memiliki tujuan tertentu. Sebagaimana ditekankan oleh praktik seni komunikasi masa kini” (James E Combs dan Dan Nimmo:1994:12)

Jika dikaji menurut logika diatas berati keberhasilan propaganda terletak pada teknik yang digunakan yaitu bagaimana menemukan tanah yang subur sebagai ladang persemaian propaganda. Pemilihan tanah yang baik ini mutlak di perlukan karena jika tanahnya tidak subur maka bibit-bibit yang di tanam tidak akan tumbuh. Dalam kaitannya dengan Amcor di Indonesia, pihak kedutaan memilih perpustakaan perguruan tinggi sebagai lahan persemaian propaganda adalah amat tepat karena perpusatakaan perguruan tinggi mempunyai persamaan dengan Amcor yaitu sebagai sumber dan penyebar informasi. Disamping tingkat pencarian informasi di perpustakaan lebih tinggi daripada tempat-tempat lain. Orang yang menggunakan perpustakaan perguruan tinggi pun bukan orang sembarangan tetapi para akademisi dan intelektual yang berpengaruh dalam pembentukan opini di indonesia. Para intelektual dan orang-orang terdidik yang menentukan perubahan suatu bangsa karena fungsi mereka yang sangat krusial yaitu menjadi opinion leader
Satu alasan mengapa propaganda sering bekerja lebih baik pada kalangan terdidik ialah bahwa orang berpendidikan membaca lebih banyak, sehingga mereka menerima lebih banyak propaganda. Pada umunya mereka merupakan bagian dari elit yang memiliki hak istimewa dan ikut memiliki kepentingan dan persepsi terhadap orang-orang yang berkuasa (Nancy Snow:2003:59)
Disamping itu perpustakaan perguruan tinggi juga memiliki menejemen yang cukup baik sehingga pihak kedutaan tidak perlu terganggu dengan masalah-masalah managerial yang dapat menghambat pihak kedutaan untuk merealisasikan tujuan-tujuan propagandanya. Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa perpustakaan Perguruan tinggi merupakan ladang persemaian propaganda terbaik bagi Kedutaan Amerika untuk merealisasikan tujuan-tujuannya.
5.8 American Corner di Indonesia dalam pengertian Propaganda dan Evaluasinya
American Corner di resmikan di UI tanggal 24 februari 2005 bersamaan dengan diresmikannya MBRC. Proses penawaran kerjasama kali pertama hingga akhirnya mencapai kesepakatan untuk membangun Amcor di MBRC FISIP UI mempunyai proses yang cukup panjang. Berdasarkan hasil penelusuran saya bahwa pertama kali kedutaan Amerika mengajukan proposal ke UI itu terjadi sekitar tahun 2001. Kedutaan AS menawarkan Amcor di Perpustakaan Pusat (UPT) UI kepada Rektor UI. Hal itu diajukan pada waktu Ibu Liliy Roesma yang masih menjabat sebagai Kepala Perpustakaan UPT UI. Permintaan itu ditolak oleh Kepala Perpustakaan pada waktu itu. Kemudian Setelah Jabatan Kepala Perpustakaan UPT berganti kepada Ibu Luki Wijayanti, pihak Kedutaan AS kembali mengajukan proposal ke Rektor UI. Kemudian setelah berbagai pertimbangan Rektor UI menerima akan tetapi Ibu Luki Wijayanti menolak dengan alasan Amcor yang terlalu eksklusif karena di dalam MOU tertulis pihak Keduataan AS tidak memperbolehkan corner-corner lain ada di Perpustakaan UPT UI dan menurut Ibu Luki, hadirnya Amcor bertentangan dengan prinsip keadilan Perpustakaan Perguruan tinggi. Prinsip keadilan yang diartikan disini sesuai dengan hak kebebasan memperoleh informasi yaitu suatu hak untuk mencari, memakai, menggunakan, membuat, secara bebas informasi apapun yang diinginkan, dalam sebuah ruang publik yang terbuka dimana masing-masing kedudukan pihak-pihak adalah setara (Calhoun,1992; Hebermas,1993). Dengan konsep Amcor yang eksklusif dan tidak boleh ada corner lain selain Amcor dinilai itu bertentangan dengan prinsip hak kebebesan memperoleh informasi. Selain itu bentuk eksklusif dari Amcor dinilai Amcor sepertinya mengarahkan proses berpikir kepada pemikiran tertentu dan ini bertentangan dengan hak kebebasan tadi, bertentangan dengan kebebasan dalam akademik (freedom of academik) dan bertentangan dengan prinsip keadilan yang menekankan keragaman dalam sebuah perpustakaan.
Lalu dua tahun kemudian sekitar tahun 2004 Kedutaan Amerika kembali melakukan pendekatan kepada dosen-dosen FISIP yang sering menggunakan IRC.
“ Masuknya dulu karena Culter Atase-nya lagi seneng-senengnya dengan Husnul dan Reni. ... orang saya aja yang menggunakan IRC sebagai alat research, setiap saat kalau ketemu mereka diingatkan “iya, kamu kan yang sering datang ke situ”, supaya saya itu hutang budi jadi tidak ada yang gratis, gitu. Jadi mengingatkan kita yang sering-sering pake itu. Ya.. kamu kan sering saya bantu, gitu. Jadi ada multikalkulasi jadi sekarang ini tidak mudah untuk mendapatkan dana untuk melancarkan diplomasi publik. Jadi kalau ada orang yang sering pake diingatkan, kamu baik dong sama Amerika, dia kan sering membantu kamu, karena setiap kali saya datang selalu itu...eh...ini paling sering menggunkan IRC katanya gitu, terutama datang dari orang Indonesianya sendiri...ya..orang Indonesia lebih menjaga kepentingan orang Amerikanya daripada orang Amerika sendiri.... Akhirnya mereka mengupayakan Reni, Reni bawa ke Rektorat, dari Rektorat ke FISIP. Jadi sebenarnya Reni yang loby. Dari Internatioanal Office ke Ibu Eri karena direkturnya Ibu Eri...” (Wawancara dengan Ibu Suzie Sudarman, tanggal 6 November 2006)
Dari penelusuran tadi dapat dilihat adanya perubahan pendekatan dari tahun 2002 hingga tahun 2004. Tahun 2002 pendekatan yang di lakukan lebih bersifat formal dan terbukti itu tidak berhasil, sedangkan tahun 2004, pendekatan diawali dengan informal yaitu melakukan pendekatan dengan personal kepada dosen-dosen UI yang sering menggunakan IRC Kedutaan Amerika. Seperti yang dikatakan Ibu Suzie bahwa ” tidak ada yang gratis”, maka dalam hal ini Kedutaan Amerika menggunakan IRC sebagai sarana bujukan (persuasif) dalam merealisasikan proyek Amcor di UI.
Bujukan merupakan akar pengertian bagi proses komunikasi sosial tentang bagaimana kita di pengaruhi melalui sosialisasi. Dalam bujukan, kita dapat mengatakan bahwa bagaimana seseorang memperhatikan, memainkan menginterpretasikan), dan bereaksi terhadap sebuah ide, bergantung kepada gambaran individual tersebut mengenai apa yang disarankan sebuah ide. (James E Comb dan Dan Nimmo:1994:16)
Dalam komunikasi bujukan ini, idenya yang di tonjolkan adalah balas budi, seperti yang dikatakan ”kamu baik dong sama Amerika, dia kan sering membantu kamu” oleh karena dosen-dosen FISIP yang menggunakan IRC merasa terbujuk dengan demikian mereka bertindak sesuai dengan yang disarankan ide tersebut yaitu membalas budi tersebut dengan cara memudahkan akses Kedutaan Amerika untuk membangun Amcor di FISIP UI.
Setelah Kedutaan Amerika berhasil mendapatkan akses untuk masuk, prosesnya berlanjut seperti yang dikatakan Pak Purwono selaku Kepala MBRC
” Pada saat Amcor belum ada MOU, Pak bambang WDI waktu itu saya ajak ke UIN, saya temukan dengan Pak Udjang, diskusi mengenai Amcor Amcor, kan UIN itu Islam terus Amerika gitu ya, terus gimana gitu? Pak Udjang menjawab, ya, dulu sempat protas, demo gitu karena Amerika, khawatir adanya transfer budaya, dll ternyata tujuannya ternyata inilah Amerika seperti ini, buku-buku Islam itu banyak dari Amerika, terus tujuannya Cuma ini loh sebenarnya, Amerika tidak seperti yang anda nilai, gitu loh. Sebenarnya cuma mau bilang ”aku tuh tidak sejelek yang orang bilang”, gitu loh. Kami juga muslim ada, tujuan sebenarnya cuma itu loh, enggak ada agenda politik, katanya. Terus di UIN, lama-lama mahasiswa itu menikmati fasilitas-fasilitas itu toh, kalau internet, saya enggak harus ke situs Amerika, mau lihat E book toh yang saya baca yang sesuai jadi Cuma sekedar kami bisa memanfaatkan fasilitas. Jadi lama-lama tidak ada yang protes, terus saya kedua bersama WD I, dengan manajer kemahasiswaan dan senat. Jadi komentarnya apa? Kata saya, tetapi mahasiswa belum bisa jawab, yah itukan proses kata mahasiswa. Terus WD I keliling ke Amcor ke Jogya dan dimana-mana. Waktu itu saya nawar mereka maunya bukunya di sendirikan, saya bilang enggak mau, saya bilang buku text akan saya gabungkan. Saya bilang begitu, lagi pula ini enggak lama kok. Setelah MOU selesai, Pak pur terserah. Oke kalau gitu hanya sampai MOU. Jadi pas buku datang, saya inginnyasaya gabung, enggak misah gitu. Bolak-balik wong cilik, mbak...selalu kalah. Hahaha.ya udah lah...okeh...gitu! (Wawancara dengan Pak Purwono, tanggal 13 Februari 2006)
Jadi setelah Kedutaan Amerika berhasil mendapatkan akses untuk masuk, kemudian baik WD I, Kepala MBRC beserta mahasiswa melakukan studi banding ke UIN dan ternyata mendapati bahwa pada akhirnya mahasiswa juga memanfaatkan fasilitas tersebut. Fasilitas merupakan salah satu strategi dari propaganda dengan tujuan untuk melunakkan target agar mau menerima ide-ide yang di propagandakan. Lebih tepatnya adalah fasilitas sebagai sarana membujuk karena fasilitas merupakan salah satu elemen yang sangat di butuhkan di universitas. Penggunaan fasilitas sebagai sarana membujuk inilah yang disebut James E Comb dan Dan Nimmo sebagai strategi penggunaan propaganda yang hati-hati dengan cara menyesuaikan elemen propaganda dengan mentalitas masyarakat.(James E Comb dan Dan Nimmo:1994:90). Oleh karena itu tujuan propaganda menjadi bias karena pemberian fasilitas tadi. Namun demikian, sebenarnya tujuan propaganda Amerika yaitu untuk meningkatkan citra dan opini mengenai Amerika tadi telah di sadari oleh semua pihak ”aku tuh tidak sejelek yang orang bilang”, tetapi tidak ada orang yang bereaksi mengenai tujuan tadi karena adanya pemberian fasilitas yang dapat melunakkan mentalitas dan kesadaran masyarakat. Ketidakberdayaan dan rendahnya mentalitas ini di tunjukkan dengan kepasrahan untuk menerima permintaan dari Kedutaan Besar Amerika untuk menempatkan buku-buku Amcor tersendiri tidak digabungkan dengan koleksi lainnya yang sejenis. Dari sini bisa dilihat juga rendahnya daya tawar pustakawan dalam penentuan kebijakan terhadap perpustakaan yang ia kelola. Semestinya dalam menjalankan profesinya, pustakawan dapat berpegang teguh pada prinsip dan tanggung jawab perpustakaan khususnya prinsip dan tanggungjawab perpustakaan perguruan tinggi.
Kemudian setelah studi banding dan dirapatkan akhirnya di setujui dengan alasan
” Jadi kita menyadari bahwa kerjasama dengan kedutaan dalam arti kita menyebarkan kedutaan Amerika itu ada sisi politiknya begitu ya...menyebarkan kebudayaan, tetapi dari sisi kita , dari FISIP ini berpendapat bahwa ada mutual benefitnya, ok, kita kasih kamu tempat untuk penyebarluasan kebudayaan, tetapi saya mendapat untuk dari situ seperti 2000 buku yang diberikan ke kita, lalu hampir setiap bulan mereka mengirimkan lecturer, lalu mengirimkan jurnal-jurnal dan majalah. Tetapi jika diukur secara amount, jadi kecillah bantuan Amerika kepada kita, tapi mungkin untuk universitas di daerah itu cukup besar , tapi buat UI itu sangat kecil, tetapi yang kita harapkan adalah jaringan internasional bisa kita dapatkan. Jadi orang mengenal FISIP UI dari Amcornya, gitu loh. Jadi kalau dilihat dari fisiknya bantuan fisik itu kecil, amat kecil. Setiap tahun pun kita dapat menganggarkan 50 juta untuk buku. Sekitar 200 buku. Jadi Amcor menyumbangkan 2000 buku, selama 10 semester pun kita mampu membeli itu, gitu loh, gitu kan? Jadi yang kita lihat lebih jauh, Jaringan Internasional itu bisa kita dapatkan....Sebetulnya kalau dilihat dari dampak penyebaran kebudayaan Amerika itu kan sangat panjang barangkali 50 tahun, jadi kalau di covert ke uang itu sangat besar sekali, bisa sampai kepada investasi kepada politik, itu sangat besar kalau di covert ke uang tetapi kita melihat keuntungan yang kita peroleh adalah Internasionalnya. Itu saja. Promosi dari FISIP UI keluar...tapi ya...kalau di bandingkan dengan keuntungan Amerikanya sih itu tidak seberapa. Hahaha... (Wawancara dengan Ibu Iriani tanggal 24 Maret 2006)
Jadi sebenarnya pihak FISIP UI sudah menyadari bahwa Amcor merupakan media propaganda Amerika namun tetap saja Amcor di terima karena FISIP UI mempunyai tujuan yaitu ingin mendapatkan jaringan internasional. FISIP UI dapat di kenal di seluruh dunia melalui Amcor. Jadi secara tidak langsung FISIP UI telah melakukan propaganda yaitu Usaha yang disengaja dan sistematis...untuk mencapai respon yang lebih jauh lagi merupakan tujuan yang diinginkan oleh ahli propaganda (James E.Combs dan Dan Nimmo:1994:23). Respon yang diinginkan yaitu agar FISIP UI dapat dikenal dengan demikian diakui keberadaannya di dunia internasional. Dalam proses propaganda ini pihak FISIP UI menggunankan Amcor sebagai media propaganda dan memanfaatkan MBRC sebagai alat propaganda. Dengan demikian pihak FISIP UI telah menjadikan perpustakaan sebagai alat propaganda.
Berkaitan dengan MOU pihak FISIP UI memberikatan keterangan sebagai berikut
” MOUnya 3 tahun, bisa di perpanjang bisa tidak, kalau tidak ya berhenti tidak di tarik, itu punya hak kita (Wawancara dengan Pak Purwono, tanggal 13 Februari 2006)
Namun pihak Amcor memberikan keterangan sebagai berikut :
” untuk pertama itu 2 tahun, tapi bisa di perpanjang. Kalau mereka tidak memenuhi syarat atau gagal dalam aktivitas mereka, itu dengan sangat terpaksa kita ambil kembali dan kita limpahkan ke tempat lain yang sanggup, tapi sampai saat ini belum ada dan jangan sampai. Semuanya sudah bagus....mengenai penilaian,tidak ada penilaian secara pasti, tetapi saya selalu kontaknya setiap Amcor untuk memastikan bagaimana kegunaannya terutama programnya juga, cara mereka menjalankan Amcor itu, dan tiap bulan mereka ada report, jadi kita ketahuan penggunaan koleksi Amcor itu kita ada, untuk program juga kita ada reportnya sampai fotonya juga ada. Jadi ketahuan gitu keaktivan mereka itu seperti apa. Jadi memang tidak bisa dibohongi dan kita juga di tiap wilayah ada konsulat office yang juga staffnya sering datang ke Amcor atau sidang ke Amcornya itu sendiri. Kalau dari kita enggak sebulan sekali datang ke Amcornya ya...karena kita ada konsulat” (wawancara dengan Adeline Widjaya 21 Maret 2006)
Disini terdapat ketidaksesuaian yaitu persepsi kedutaan Amerika dan persepsi pihak FISIP ini sendiri yaitu mengenai perpanjangan MOU. Menurut persepsi pihak FISIP UI, jika MOU sudah selesai maka semuanya menjadi hak milik FISIP UI namun persepsi pihak kedutaan Amerika itu semua tergantung penilaian jika penilaiannya bagus maka dapat di perpanjang, jika tidak maka semuanya dapat ditarik kembali. Ini berhubungan dengan target dalam propaganda. Jika tempat atau ladang persemaian propaganda dinilai tidak cukup subur dan propaganda tidak dapat tumbuh subur maka propaganda tidak berjalan efektif oleh karena itu harus mencari ladang subur lainnya untuk persemaian propaganda.
5.8.1 Tujuan Amcor di MBRC dan Evaluasinya
Setelah melihat proses Amcor datang, pada bagian ini saya akan menguraikan tujuan Amcor. Pemahaman mengenai tujuan ini akan membawa pemahaman yang lebih mendalam mengenai Amcor berikut evaluasinya apakah Amcor cocok di tempatkan di perguruan tinggi. Tujuan Amcor ini saya ambil dari pidato Lewis Emselem sebagai Deputy Chief of Mission US Embassy pada saat pembukaan Amcor di MBRC FISIP UI.
Tujuan Amcor yang pertama adalah
”Menghadirkan perspektif yang berbeda mengenai Amerika Serikat”
dengan penjelasan sebagai berikut :
First of All, it is cooperative effort between yaour University and our Embassy to provide a place where students can have access to realiable, up-to date, information about United States. I want to stress the cooperative nature of this effort. We have provided books, online databases, computers and other equipment. But while the “hardwere of the corner is important, an equally crucial factor is the “software”. And by “software”, I mean the people who will use the corner as a place to meet exchange views.
Dari penelusuran sejarah kita mengetahui bahwa alat-alat yang tersedia di Amcor telah melalui proses “setting” yaitu telah melalui proses perencanaan dan seleksi terlebih dahulu yang disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai dan hal tersebut merupakan salah satu bentuk “Revolusi Kontrol” yaitu penyebaran pesan dengan menggunakan alat komunikasi modern. Teks pidato diatas mempertegas bahwa sebenarnya bukan bentuk-bentuk sumber informasi tadi yang penting tetapi adalah pesan yang terkandung didalamnya yang dalam teks ini disebut “software” tujuannya yaitu “people who will use the corner as a place to meet exchange views”. Perubahan pandangan inilah yang menjadi intinya tentunya perubahan pandangan yang diinginkan pihak Amerika yaitu pandangan yang positif karena inilah yang menjadi tujuan propaganda yaitu perubahan pandangan sesuai yang di tentukan propagandis. Dengan demikian informasi yang disediakan disini sifatnya tidak seimbang yaitu hanya informasi yang memihak. Salah satu karakteristik propaganda adalah
ia biasanya merupakan informasi satu arah berlawanan dengan pendidikan yang mempunyai dua arah dan interaktif. Jika pendidikan bersifat dua arah, propaganda merupakan komunikasi satu arah. Dalam sudut pandang, jika pembelaan dari apa yang kita percaya adalah pendidikan, maka pembelaan dari apa yang kita jangan percaya adalah Propaganda”(Nancy Snow:2003:50)
Informasi yang memihak bersifat satu arah karena hanya melalui sumber-sumber yang berasal dari Kedutaan Amerika. Tentu saja ini berlawanan dengan informasi yang dibutuhkan dunia pendidikan. Informasi yang dibutuhkan dalam dunia pendidikan adalah informasi yang netral dan tidak memihak dan berasal dari berbagai sumber dengan demikian proses pembelajaran dalam pendidikan dapat terjadi. Ini juga bertentangan hadirnya prinsip keadilan Perpustakaan Perguruan tinggi. Prinsip keadilan yang diartikan disini sesuai dengan hak kebebasan memperoleh informasi yaitu suatu hak untuk mencari, memakai, menggunakan, membuat, secara bebas informasi apapun yang diinginkan, dalam sebuah ruang publik yang terbuka dimana masing-masing kedudukan pihak-pihak adalah setara (lihat Calhoun,1992; Hebermas,1993)
Tujuan yang kedua adalah
“Memperbaiki citra dan steriotipe yang negatif tentang Amerika Serikat”
Dengan penjelasan sebagai berikut :
We live in a world where negative stereotypes and superficial views of each other are too common. Since I have been in Indonesia, I sometimes meet people who “know”quite a lot about America. The Problem is that much of what they “know” is absolutely wrong. Seeing a country through the lens of movies, television and ften sensationalistic reporting in the media is not always the best way to learn about a nation and its people. And that is as true for Americans who learn about Indonesia as it is for Indonesians who learn about America,
Yang menjadi kalimat kunci adalah “ The Problem is that much of what they “know” is absolutely wrong” . Maksud dari kalimat diatas adalah bahwa sumber-sumber informasi di luar Amcor belum tentu benar, tetapi di Amcor sudah pasti benar. Dalam Propaganda kebenaran propaganda adalah
Kebenaran propaganda adalah sebuah kebenaran yang nilai kebenarannya terletak pada kemampuan untuk meyakinkan seseorang melalui bujukan lebih dari sekedar penelitian nyata ataupun analisis kritik yang dapat kita lakukan ” (James E Combs dan Dan Nimmo:1994:117)
Kebenaran yang dimaksud adalah kebenaran yang sesuai dengan tujuan-tujuan propagandis dan kebenaran yang dimaksud disini bertujuan untuk menghindari steriotype yang negatif mengenai Amerika. Jika tujuan ini dievaluasi dan dikaitkan dengan tujuan perpustakaan perguruan tinggi yaitu informasi yang sesuai dengan kebutuhan dimana kebenaran dan kesalahan informasi tidak menjadi ukuran, maka ini akan membatasi kebebasan informasi sivitas akademika
Tujuan yang ketiga adalah
” Menghadirkan perspektif Internasional untuk dapat saling menghargai satu dengan yang lainnya ” Dengan penjelasan sebagai berikut :
” The first and most important reason for American Corner is our Shared belief that we need to nurture an international perspective among our students. Not only so that we can understand other cultures, but so that we can better understand ourselves. The problems and challenges that any nation and society deal with their problems and challenges; but to do that we need to know more about each other”
Yang menjadi kata kunci disini adalah International Perspektif, bahwa untuk berperspektif internasional kita harus mengerti budaya negara lain. Permasalahan dan tantangan yang sebuah bangsa hadapi kemungkinan sama dengan bangsa lain dan kita dapat belajar dari bagaimana bangsa lain bisa menyelesaikan masalah itu. Dari sini Amerika menyarankan agar budaya Amerika dapat menjadi pijakan dan landasan bagi kita untuk menyelesaikan masalah bangsa kita. Sekali lagi saya katakan inilah tujuan propaganda yaitu untuk mempengaruhi tingkah laku agar sesuai dengannilai-nilai yang di sarankan propagandis. Nilai-nilai yang ditanamkan disini adalah nilai-nilai Amerika. Hubungannya dengan universitas sebagai sumber ”agent of change” adalah bahwa dalam proses perubahan diharapkan menggunakan nilai-nilai Amerika
Tujuan yang ke empat adalah
”Sebagai bentuk kerjasama diplomatis antara Indonesia dengan Amerika Serikat untuk menumbuhkan saling pengertian di kedua negara”
Dengan Penjelasan sebagai berikut
” The point is to offer a more complete understanding of the US-the history that formed us, the values that shape us, the social context in which our policies are formed. A half century ago, U.S Senator J. Wiliam Fulbright described the goals of educational exchange program that he set up. Senator Fulbright wrote “ The simple purpose of the exchange program…is to erode the culturally rooted mistrust that sets nations agains one another”. And the way to do that is through knowledge.
For in the end, what is most important is that we understand one another better : Understanding is a precondition for dialogue and ignorance is the gratest thread to peace”

Inilah yang sebenarnya menjadi inti pendirian Amcor yaitu agar masyarakat mendapatkan pengertian yang lengkap mengenai Amerika yang meliputi sejarah yang mempunyai nilai-nilai yang membentuk Amerika yang seluruh kebijakannya. Pengertian yang lengkap ini dapat membangun hubungan bersahabat, simpatik dan damai antara Amerika dengan masyarakat yang mengerti nilai-nilai Amerika.
Kesimpulan yang dapat diambil dari interpretasi tujuan dan alasan pendirian Amcor di MBRC yaitu bahwa tujuan tersebut tidak dapat terlepas dari propaganda, sedangkan perpustakaan sebagai fasilitator lembaga pendidikan harus bisa melepaskan diri dari propaganda kepentingan yang dapat menggangu kebebasan dalam memperoleh informasi. Oleh karena itu menurut saya tidak terlalu tepat Amcor berada di perpustakaan perguraun tinggi.
5.8.2 Pengembangan koleksi Amcor di MBRC dan Evaluasinya
Koleksi Amcor di MBRC terdiri dari :
 Buku-buku tentang Amerika 2000 eksemplar
 Majalah ilmiah dan popular dalam aneka subjek, CD dan DVD dengan topic-topik politik, sosial, ekonomi dan budaya. Termasuk isu global, demokrasi, HAM, ekonomi, perdagangan, kebudayaan, sampai kepada musik dan film
 Jurnal online Ebscohost
Dari penelusuran sejarah dan proses wawancara kita mengetahui bahwa sumber-sumber informasi di Amcor melalui proses seleksi yang di seleksi oleh subject spesialis dari Amerika. Badan yang bertanggungjawab untuk memproduksi dan menyeleksi ini adalah IIP. Amcor berada di perpustakaan perguruan tinggi dengan demikian Amcor harus menyesuaikan diri dengan lingkungan perguruan tinggi dan peraturan dan pedoman perpustakaan perguruan tinggi terutama dalam pengembangan koleksi ini.Kegiatan pengembangan koleksi adalah
“Perpustakaan perguruan tinggi bertugas mengelola koleksi perpustakaan. Pengelolaan koleksi ini mencakup kegiatan survey kebutuhan pengguna, penyusunan kebijakan pengembangan koleksi, pemilihan dan pengadaan bahan perpustakaan, pengolahan, pelayanan, perawatan bahan perpustakaan serta evaluasi koleksi. Pengelolaan koleksi harus selaras dengan visi dan misi perguruan tinggi terkait” (Perpustakaan Perguruan Tinggi:Buku Pedoman, 2005 : 14)
Hal utama yang menjadi prinsip pengembangan koleksi perpustakaan perguruan tinggi adalah pengembangan koleksi harus sesuai dengan kebutuhan pengguna. Dari penelusuran sejarah dan proses wawancara kita mengetahui bahwa sumber-sumber informasi di Amcor melalui proses seleksi yang di seleksi oleh subject spesialis dari Amerika. Bagaimana mungkin Amcor dapat memenuhi kebutuhan pengguna seperti di MBRC ini jika subject spesialisnya bukan orang yang terlibat dalam kegiatan akademis di tempat ini. Padahal seharusnya subject spesialis adalah orang yang benar-benar mengerti mengenai subjek tertentu dan mengerti bahwa bahan-bahan yang dipihnya berguna dalam kegiatan belajar mengajar di universitas (Thomson&Carr:1987:173). Akhirnya permasalahan ini akan berdampak pada kurangnya pemanfaatan koleksi Amcor karena koleksi tersebut memang tidak berdasarkan kebutuhan sivitas Akademikia. Hasil penelitian melalui kuesioner yang saya sebar kepada 80 orang pengunjung MBRC menyebutkan bahwa fasilitas yang sering digunakan di Amcor adalah koleksi tercetak (buku, majalah, jurnal, review) sebanyak 27,5%, penggunaan CD dan DVD sebanyak 1,25 % dan penggunaan Internet gratis sebanyak 63,75 % dan 7,5 % menggunakan Jurnal online Ebscohost. Dari sini kita bisa melihat bahwa pemanfaatan fasilitas yang tertinggi adalah internet gratis dengan perincian membuka Friendster sebanyak 5 %, membuka email sebanyak 50 %, melakukan penelusuran informasi sebanyak 27,5 % dan lain-lain 17,5%. Tingkat kepuasan terhadap koleksi pun sangat rendah yaitu 70 % menyatakan koleksi Amcor tidak dapat memenuhi kebutuhan informasi dan hanya 22% yang menyatakan telah terpenuhi. Alasan yang diberikan yaitu karena informasinya yang tersedia kurang lengkap sebanyak 22,5 % responden yang menjawab, informasinya kurang akurat sebanyak 16,25 %, sebanyak 23,75 % menyatakan tidak menemukan informasi yang dibutuhkan, dan sebanyak 8,75 % mempunyai alasan lain seperti informasi tidak berimbang, karena intervensi Amerika dan informasi hanya berasal dari satu sisi.
Dari hasil kuesioner diatas kita mendapatkan kesimpulan bahwa tingkat pemanfaatan koleksi sangat rendah khususnya koleksi tercetak hal itu disebabkan koleksi doi Amcor kurang dapat memenuhi kebutuhan pengguna MBRC. Dalam menyelesaikan masalah ini seharusnya pihak FISIP UI harus proaktif dalam pengembangan koleksi ini. Pihak FISIP UI terutama direktur dan kepala perpustakaannya seharusnya lebih proaktif dalam control terutama mengajukan permintaan koleksi yang benar-benar di butuhkan dalam kegiatan belajar-mengajar dan penelitian . Namun sangat disayangkan sikap proaktif pihak FISIP UI sangat kurang. Berikut ini pernyataan beberapa pihak FISIP UI MBRC
“oh, enggak, itu suka-suka dia..dia ngasih kita enggak control. Dia ngasih jadi kita enggak bisa nolak . Jadi memang buku-bukunya mengenai Amerika dari orang Amerika” (wawancara dengan Pak Purwanto, 13 februari 2006)
“Kelihatannya memang kalau saya tangkap adalah bukan apa yang di pesan tetapi apa yang dikirim, kita cuma bisa mengusulkan tentang tema kedepan. Jadi begini kira-kira 1500 koleksi dasar itu kita tidak bisa menawar, tetapi kedepan kita diminta istilahnya untuk memberikan usulan sesuai dengan bidang kita. Kita lebih banyak pada referensi-referensi komunikasi, pemerintahan, kebijakan public, untuk sekarang mestinya lebih bervariatif dari sebelumnya” (wawancara dengan Pak Bambang, 23 maret 2006)
Jadi dapat disimpulkan bahwa sikap proaktif terutama dalam mengedepankan kebutuhan pengguna terhadap informasi tentang Amerika itu sangat kurang. Pihak FISIP UI hanya bisa menerima kalaupun memberi usulan, hanya berupa tema saja tidak langsung spesifik kepada judul yang benar-benar dibutuhkan.
Selain itu tingkat control terhadap pengembangan koleksi juaga sanagt rendah. Berikut ini hasil wawancara dengan Ibu Iriani selaku Direktur MBRC
”Oh, tidak, sepanjang itu buku, tidak ada masalah. Karena semua orang disini harus mempunyai wawasan. Jadi semua buku, buku komunis, buku cina, semua saya pajang disini. Bahkan ketika zaman Soeharto, buku-buku komunis disini tetap beredar, beredar di dalam kampus. Ya...kampus kan freedom of academic itu dijamin oleh negeri. Jadi tadi wilayah kita itu apapun boleh” (wawancara denganIbu Iriani tanggal 24 Maret 2006)
Jadi buku apapun boleh dipajang termasuk buku-buku yang berasal dari luar. Oleh karena itu sebenarnya pengembangan koleksi yang tidak tegas akan menyebabkan terbuka luas bagi propaganda dari luar. Pengembangan koleksi seharusnya harus tegas dan ketegasan itu ditiberatkan untuk memenuhi kebutuhan pengguna
”Pengembangan koleksi haruslah selalu didasari asas tertentu yang dipegang teguh. Perpustakaan harus menjaga agar koleksinya berimbang sehingga mampu memenuhi kebutuhan dosen, mahasiswa dan peneliti” (Perpustakaan Perguruan Tinggi:Buku Pedoman:2005: 41)
Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan realitas pengembangan koleksi Amcor di MBRC menyebutkan bahwa koleksi tersebut kurang bermanfaat karena tidak dapat memenuhi kebutuhan pengguna. Oleh karena itu jika Amcor ingin tetap di pertahankan semestinya pihak FISIP UI harus lebih proaktif dalam merespon kebutuhan pengguna dan fungsi kontrol harus lebih di tekankan minimal menjaga agar koleksi agar tetap berimbang. Hal ini menjadi prioritas utama dalam kebijakan pengembangan koleksi agar perpustakaan tidak dijadikan alat propaganda kepentingan.
5.8.1 Tata Ruang di Amcor di MBRC dan Evaluasinya
Tata ruang disesuaikan dengan disain interior MBRC, tujuannya agar terlihat Amcor menjadi bagian yang menyatu dengan MBRC. Namun Amcor tetap terlihat eksklusif karena terlihat tersendiri dan berada di pojok MBRC. Ketika ditanyakan permasalah ini, dari pihak FISIP UI menjelaskan
“...kami perlu nama dan penjelas bahwa tempat itu adalah Amcor karena merujuk pada tujuan kami yaitu Programing site dan Community Development karena semuanya harus jelas dan ada batasannya antara institusi tersebut dengan Amcor seperti Amcor di MBRC. Setiap orang harus mengetahui batasannya antara MBRC dan Amcor dan setiap orang harus bisa membedakan kegiatan yang diadakan Amcor dan MBRC...” (wawancara dengan Melling Simanjuntak, 14 Februari 2006)


Sedangkan dari pihak kedutaan menjelaskan
“ itu permintaan....Waktu itu saya nawar mereka maunya bukunya di sendirikan, saya bilang enggak mau, saya bilang buku text akan saya gabungkan. Saya bilang begitu, lagi pula ini enggak lama kok. Setelah MOU selesai, Pak pur terserah. Oke kalau gitu hanya sampai MOU. Jadi pas buku datang, saya inginnya saya gabung, enggak misah gitu. Bolak-balik wong cilik, mbak...selalu kalah. Hahaha...ya udah lah...okeh...gitu!..” (Wawancara dengan Pak Purwono, tanggal 13 Februari 2006)
Jadi, hadirnya Amcor dalam bentuk eksklusif adalah permintaan dari Kedutaan Amerika sendiri dengan alasan untuk memperjelas fungsi programming site dan Comunity Development tadi sekaligus untuk memperjelas batasan antara Amcor dengan perpustakaan yang di tempati. Jika kita melihat kembali yang dimaksud programing site dan comunity development adalah

” Programing site dan comunity development dimana setiap orang bisa mendapatkan informasi mengenai Amerika secara tepat dan baik melalui sumber info maupun kegiatan-kegiatan yang telah di rancang oleh pihak pusat ”
Yang dimaksud dengan comunity development menurut Ibu Suzie Sudarman sebagai Dosen Kajian Wilayah Amerika UI adalah
“ Pengembangan komunittas yang sesuai dengan nilai-nilai Amerika, ya? Kan ga mungkin mereka mengembangkan komunitas sesuai dengan nilai-nilai Turkiatau Rusia. ? ya, enggak? Jadi sesuai dengan nilai-nilai Amerika (wawancara dengan Suzie Sudarman, 6 November 2006)
Jadi Amcor di kembangkan agar masyarakat pengguna dapat memahami Amerika beserta nilai-nilainya lalu dapat mengembangkan diri dan mengembangkan sosial kemasyarakatan yang berada di lingkungannya berdasarkan nilai-nilai itu. Inilah yang di sebut sebagai situasi yang diciptakan oleh propaganda yaitu A melalui suatu metode atau metode lain yang berhubungan dengan B sehingga cendrung mempengaruhi tingkahlaku B (James E.Combs dan Dan Nimmo 1994:23). A dalam hal ini adalah Kedutuaan Amerika melalui Amcornya menyebarkan informasi mengenai Amerika dengan metode penyebarluasan informasi yang mengandung informasi berkitan dengan nilai-nilai Amerika, informasi tersebut di pahami oleh pengguna yang mengakses informasi dengan demikian pengguna tersebut dapat memahami, mengerti bahkan mengikuti nilai-nilai Amerika tadi. Fungsi eksklusifitas tempat berkaitan dengan programing site dan comunity development tadi adalah untuk semakin menguatkan dan menegaskan bahwa ini adalah pusat informasi Amerika yang resmi dari Amerika. Disamping itu penempatan ini juga terkait sebagai sarana untuk menarik perhatian masyarakat terhadap Amcor karena itulah tujuan propaganda yaitu Usaha yang disengaja dan sistematis...untuk mencapai respon yang lebih jauh lagi merupakan tujuan yang diinginkan oleh ahli propaganda (James E.Combs dan Dan Nimmo1994:23), respon yang lebih jauh yang dimaksudkan disini sudah tentu respon ingin mengunjungi dan melihat apa yang ada di sana. Hal ini di buktikan dalam hasil kuesioner yang di bagikan ke 80 pengunjung MBRC bahwa yang mendorong keinginan pengguna untuk mengujungi Amcor pertama kali adalah 60% responden yang menjawab karena corner yang terlihat eksklusif dan “eye catching” di pojok MBRC, lalu sebanyak 13,75 % responden menjawab karena, promosi mengenai Amcor dan yang terakhir sebanyak 10 %responden menjawab karena papan nama Amcor yang terletak di depan pintu masuk. Dengan demikian penciptaan Amcor di tempat yang eksklusif di pojok perpustakaan universitas adalah sebagai metode bujukan untuk membujuk dan menarik orang agar mau mengunjungi Amcor.
Di dalam Amcor terdapat beberapa rak buku dan majalah, meja baca lengkap dengan kursinya, poster-poster, bendera Amerika dengan ukuran cukup besar serta dua buah bendera Indonesia-Amerika ukuran kecil. Terdapat 5 buah poster dari Kedutaan besar AS yang pemasangannya telah melalui proses seleksi oleh Kepala Perpustakaan MBRC. Kelima poster tersebut bertuliskan (1) Books Come In all Colors, (2) Mosque in America, (3) Global Reach, Local Toouch, Conect@library, (4) Read, Open Learn, Close, never quite, (5) Library Change Lives, Bill Gates, America’s Libraries. Berkaitan dengan hal ini Kepala MBRC memberikan keterangan
“...Kalau gambar-gambar di Amcor seperti poster-poster library, terus mosque, saya itu pilih yang umum-umum. Sebenarnya gambar banyak tetapi Amerika banget, Cuma saya piolih yang umum-umum saja. Kayak di UIN tuh isinya gambar semua. Kalau saya milih juga jadi enggak semua, yang kira-kira umum aja gitu. Mereka suruh tolong di pajang, tetapi saya tidak pasang. Tekanan itu dari kedutaan... “ (Wawancara dengan Pak Purwono, tanggal 13 Februari 2006)

Jadi poster-poster tersebut berasal dari kedutaan Amerika dan mereka meminta poster-poster tersebut untuk di pajang. Jika dilihat secara seksama poster-poster itu mempunyai pesan dan pesan-pesan tersebut tetap berkaitan dengan gambaran positif mengenai Amerika dengan kata lain poster-poster tersebut adalah salah satu alat propaganda Amerika. Alat propaganda adalah

” Semua alat propaganda, “semua tangga nada ekspresi dari sebuah ide atau sebuah lembaga”, yang tidak hanya meliputi Koran dan “kisah nyata” tetapi juga “radio, gambar bergerak (film), artikel majalah, pidato, buku, pertemuan masyarakat dan fakta” (James E Combs dan Dan Nimmo:1994: 82) ”

Penjelasan mengenai isi pesan yang terdapat dalam alat propaganda tadi dapat diketahui dengan cara menganalisisnya yaitu dengan menggunakan analisis teknik isi. Poster yang pertama bertuliskan ”Books Come In all Colors” ini bisa diartikan bahwa buku berasal dari beragam pemikiran dan dari beragam bangsa. Pesan yang di tonjolkan disini adalah perbedaan dan demokrasi. Ini adalah nilai-nilai yang dimiliki oleh Amerika, dengan demikian penempatan poster ini di Amcor adalah sebagai promosi nilai-nilai Amerika yang menonjol. Poster yang kedua bertuliskan ”Mosque in America” ini mengandung pesan bahwa di Amerika juga terdapat mesjid. Mesjid adalah tempat ibadah umat muslim. Dengan demikian penampilan kata-kata ini berikut gambar mesjid di dalam poster ini mengandung pesan bahwa Amerika menghormati kebebasan beragama terutama umat muslim di Amerika. Ini sekaligus menghilangkan opini yang negatif mengenai Amerika yang berkaitan dengan peranannya dalam konflik di timur tengah yang menewaskan banyak umat muslim. Poster yang ketiga bertuliskan ”Global Reach, Local Toouch, Conect@library” poster ini mengandung pesan bahwa untuk mendapatkan pengetahuan sedunia, cukup hanya mengunjungi perpustakaan dan Amcor sebagai pusat sumber informasi adalah tempat yang tepat untuk mendapatkan pengetahuan tadi. Kata global dan tanda @ juga mengingatkan kita pada jaringan internet yang mengandung informasi tak terbatas. Amcor di lengkapi juga dengan fasilitas internet gratis yang dapat digunakan untuk mengakses informasi tak terbatas. Dengan demikian maksud dari poster ini adalah untuk membujuk kita supaya tidak lupa menggunakan internet di Amcor terutama jika ingin mengkases informasi yang tak terbatas.Poster yang ketiga bertuliskan ”Read, Open Learn, Close, never quite”. Ini juga merupakan kalimat bujukan agar kita tidak pernah berhenti untuk membaca buku tentu saja bujukan ini dimaksudkan agar kita selalu menggunakan koleksi Amcor ini. Poster yang kelima bertuliskan Library Change Lives, Bill Gates .Pesan dari poster ini adalah bahwa perpustakaan dapat merubah kehidupan karena perpustakaan adalah sumber ilmu pengetahuan, dengan memanfaatkan perpustakaan maka kita dapat berhasil seperti Bill Gates. Dalam poster ini seolah-olah Bill gates yang berbicara kepada kita. Penonjolan tokoh Bill Gates ini terkait karena beliau adalah simbol dari keberhasilan orang Amerika. Ini adalah salah satu teknik membujuk dalam propaganda yaitu Pinjam Ketenaran (Transfer ) dengan menggunakan pengaruh dari seseorang tokoh yang terkenal.
Setelah melihat arti pesan yang terdapat dalam poster denagn demikian dapat di simpulkan bahwa poster merupakan alat propaganda Amerika untuk mempromosikan nilai-nilai Amerika sekaligus sebagai sarana bujkan agar pengguna terdorong untuk memanfaatkan koleksi di Amcor. Sikap pak Purwanto dengan memilih poster-poster yang sifatnya umum saya rasa itu sangat baik setidaknya dapat meminimalisir propaganda di perpustakaan
Selanjutnya di American Corner terdapa juga Bendera America ukuran besar terdapat di meja pustakawan di depan corner sedangkan 2 bendera kecil Amerika-Indonesia terletak di meja pustakawan Amcor dan terdapat di rak amcor yang terletak di dalam corner. Pejelasan pihak kedutaan mengenai bendera adalah sebagai berikut :
”....Untuk bendera Amerika, kami tidak mewajibkan setiap amcor untuk memasangnya...Hanya saja kami perlu nama dan penjelas bahwa tempat itu dalah Amcor karena merujuk pada tujuan kami yaitu Programing site dan community development....” (wawancara dengan Melling Simanjuntak, 14 Februari 2006)

Jadi penggunaan bendera disini adalah untuk menunjukkan bahwa tempat ini adalah pusat informasi mengenai Amerika. Ini bertujuan agar pengguna dapat mengetahui bahwa tempat adalah pusat informasi mengenai Amerika jadi jika ingin mencari sumber informasi yang tepat mengenai Amerika disinilah tempatnya. Selain itu penggunaan bendera juga untuk menunjukkan kedaulatan dan kekuasaan suatu negara. Seperti halnya penggunaan bendera di pos-pos diplomatik di luar negeri contohnya di kedutaan besar Amerika. Penggunaan bendera di Kedutaan Besar Amerika menunjukkan bahwa wilayah itu wilayah resmi Amerika yang berdaulat dan kebal hukum indonesia. Begitu juga penggunaan bender Indonesia di Kedutaan Besar Indonesia di Amerika. Dengan demikian Bendera dapat sebagi simbol kedaulatan suatu negara. Kedaulatan menurut kamus Bahasa Indonesia artinya kekuasaan tertinggi atas pemerintahan negara, daerah. Dengan demikian penggunaan bendera di Amcor dapat diartikan sebagai tanda bahwa wilayah Amcor ini adalah wilayah yang dibawah pengawasan dan di kelola secara resmi oleh Amerika yang dalam hal ini diwakili oleh Kedutaan Besar Amerika. Penggunaan bendera Amerika dalam ukuran besar di depan pintu masuk Amcor dan penggunaan bendera indonesia Amerika dalam bentuk kecil untuk menunjukkan bahwa inilah Amerika, bangsa besar yang telah menyumbangkan bantuan besar kepada Indonesia yang salah satunya adalah Amcor ini.
Dari interpretasi tanda-tanda yang mencolok di Amcor ini berupa poster-poster dan bendera dengan demikian dapat di simpulkan bahwa tanda-tanda ini merupakan alat yang tidak hanya menunjukkan bahwa ini adalah pusat informasi Amerika tetapi lebih jauh lagi bahwa ini adalah Amerika dengan seluruh nilai-nilai dan kedaulatannya.
5.8.1 Kegiatan di Amcor di MBRC dan Evaluasinya
Amcor bukan hanya di ciptakan sebagai ruang baca tetapi juga sebagai programing site dan comunity development dimana setiap orang bisa mendapatkan informasi mengenai Amerika secara tepat baik melalui sumber-sumber informasi maupun kegiatan-kegiatan yang telah di rancang. Kegiatan-kegiatan yang telah di selenggarakan berupa workhop, seminar, diskusi yang mendatangkan pembicara-pembicara dari Amerika yang dipilih Kedutaan Amerika. Kegiatan-kegiatan ini merupakan bagian dari tugas dan tanggung jawab IIP yaitu “Engages audiences through lectures, workshops, and seminars to promote understanding of U.S. policies” yaitu dengan tujuan agar pengguna yang dating ke kegiatan ini mendapatkan pemahaman dan pengertian mengenai kebijakan Amerika.
Propaganda baru...tidak hanya di manfaatkan untuk memfokuskan dan mencapai keinginan masyarakat “karena setiap keinginan” bagaimanapun juga sangat luas sifatnya, dan tidak dapat diwujudkan dalam suatu tindakan keculai bila dibicarakan (James E Combs dan Dan Nimmo:1994: 88)

Jadi tujuan dari kegiatan-kegiatan ini tidak lain untuk mempengaruhi pendengar agar mau mengerti dan simpati terhadap Amerika terutama terhadap kebijakan luar negerinya dengan cara mendatangkan pembicara yang mempunyai keahlian untuk ini lalu duduk bersama dala kegiatan-kegiatan diskusi dan seminar dengan demikian dapat di capai pengertian bersama.
Beberapa kegiatan di selenggarakan secara teratur sedangkan hampir semuanya bersifat insidental.
” waktu itu pernah ada pelatihan gitu, yang ngadain dari sana. Pihak sana ngefax ke sini ”Pak kami akan mengadakan Penelusuran Informasi” gitu. Jadi kayak gitu. Paling dikasih tahu aja dari sana sebelum kegiatan di mulai. Kemarin mengenai Islam (US Intelligence and the International Terrorism) itu banyak juga yang dating. Orang sastra, orang-oorang sini banyak juga yang datang” (Wawancara dengan Pak Purwono, tanggal 13 Februari 2006)
Beberapa kegiatan yang diselenggarakan juga bersifat ritual untuk merayakan hari-hari besar Amerika. Contohnya perayaan kemerdekaan Amerika serikat, Thanks Giving, Martin Luther Day, dll. Ritual dalam propaganda intinya agar mengerti dan memahami nilai-nilai dan pesan-pesan yang menjadi latar ritual tersebut dengan demikian dapat menjadi masyarakat yang mengenali nilai-nilai itu (James E Combs dan Dan Nimmo:1994: 281). Di Amcor MBRC salah satu kegiatan yang berhubungan dengan ritual propaganda ini di tolak kehadirannya yaitu
” tentang 4 juli (perayaan kemerdekaan Amerika) itu kami tolak karena nilai politiknya sangat besar. Karena saya orang politik jadi bisa membaca politik. Ee..terlalu besar bagi kita, berarti kalu ada 4th of July berarti kita ikut peringatan hari kemerdekaan China, kemerdekaan Rusia, kita tidak mau e..e.. adanya cap atau merk bahwa FISIP itu kaki tangan. (wawancara dengan Ibu Iriani tanggal 24 Maret 2006)
Jadi ternyata pihak FISIP UI juga mengerti mengenai ritual propaganda ini terutama aspek-aspek politik yang menyertainya. Hal ini dilarang karena dapat merusak citra dunia akademik sebagai wilayah bebas kepentingan atau freedom of academic.
Sejak Amcor diresmikan hingga april 2006, setidaknya telah terdapat 7 kegiatan yang telah di selenggarakan, yaitu :

1. Judul Acara : Prosecuting Corruption In US
Bentuk Kegiatan : Diskusi Besar
Tanggal & Tempat : 27 Februari 2006
Aditorium AJB Bumiputra, FISIP UI
Pembicara : Benjamin B Wagner
Peserta : 60 orang

2. Judul Kegiatan : Open House American Corner
Bentuk Kegiatan : Pameran American Corner dengan mengundang tamu-
tamu dari luar UI
Tanggal & Tempat : MBRC FISIP UI

3. Judul Kegiatan : US Intelligence and the International Terrorism
Bentuk Kegiatan : Diskusi Besar
Tanggal & Tempat : 14 November 2005
Aditorium AJB Bumiputra, FISIP UI
Pembicara : Peter Bergen (The Author of “Inside The Secret World of
Bin Laden”, senior jurnaliston CNN and Times)
Peserta : 60-80 orang

4. Judul Kegiatan : Plan to Study in USA, After graduated From S1/
Desperate for Scholarship.
Bentuk Kegiatan : Diskusi Besar
Tanggal & Tempat : 18 April 2006
Aditorium AJB Bumiputra, FISIP UI
Pembicara : Aminef
Peserta : 60-80 orang

5. Judul Kegiatan : Penelusuran Informasi
Bentuk Kegiatan : Seminar dan peragaan
Tanggal & Tempat : 8 Desember 2005
Ruang Seminar MBRC FISIP UI
Pembicara : Perwakilan dari Kedutaan
Drs. Purwono SS, Mhum
Dra. F. Iriani Sophian Yodoko, M. Si
Peserta : 35 orang

6. Judul Kegiatan : US Foregn Policies, American Politics, US Embassies
Function
Bentuk Kegiatan : Diskusi besar
Tanggal & Tempat : ...Januari 2006
Ruang Seminar MBRC FISIP UI
Pembicara : Tom Skiper (Deputy Director for Office of Public
Diplomacy , Department Of State)
Peserta : 40 orang

7. Judul Kegiatan : Diskusi dan Pemutaran Film
Bentuk Kegiatan : Diskusi kecil
Tanggal & Tempat : Sebulan sekali (tidak teratur)
Ruang Seminar MBRC FISIP UI
Pembicara : Dra. F. Iriani Sophian Yodoko, M. Si
Peserta : 10-20 orang
Beberapa kegiatan yang pernah saya datangi, hampir semunya berisi mengenai promosi Amerika Serikat. Seperti kegiatan yang bertema “Prosecuting Corruption In US” ini yaitu berkisah tentang pembasmian korupsi di Amerika serikat. Dikatakan oleh Benjamin B Wagner bahwa Amerika Serikat juga tidak terlepas dari korupsi namun kerjasama beberapa badan kehakiman dan penyelidikan di Departmen of Justice seperti FBI, IRS, ATF,dll dapat membuktikan dan menahan pelaku kejahatan. Kegiatan yang kedua yaitu “Open House American Corner” ini hanya promosi Amcor bahwa Amcor sekarang juga terdapat Universitas Indonesia Depok. Dalam open house ini mengundang tamu dari luar UI seperti misalnya perwakilan pelajar dari beberapa SMU di Jakarta dan perwakilan mahasiswa dari universitas lain. Ibu Iriani selaku Direktur MBRC memanfaatkan moment ini untuk mempromosikan MBRC dan FISIP UI. Kegiatan yang ketiga adalah “US Intelligence and the International Terrorism” ini lebih mempromosikan US Inteligent sebagai badan yang hebat falam membasmi terorisme. Kegiatan yang ke empat bertema “Plan to Study in USA, After graduated From S1” sebenarnya ini acara promosi program fullbright tetapi yang di tekankan adalah bahwa kehidupan akademik di universitas-universitas di Amerika Serikat adalah yang paling baik. Kegiatan yang kelima yaitu Penelusuran Informasi. Kegiatan ini berupa seminar dan peragaan untuk memperkenalkan situs-situs pencari informasi (search engine) dan situs-situs yang mengandung free e-book, e-journal, artikel gratis, dll. Namun pada kegiatan ini diperkenalkan juga beberapa situs yang di kelola badan-badan informasi pemerintah Amerika. Kegiatan yang kelima bertema “US Foregn Policies, American Politics, US Embassies” ini menjelaskan fungsi Departemen Publik Diplomasi Amerika Serikat dan fungsikebijakan luar negeri Amerka Serikat yang dihubungkan dengan permasalahan global.
Bill Perdana, staff Amcor MBRC mengatakan bahwa pemberitahuan akan adanya kegiatan-kegiatan ini sebagian besar insidental dan di dalam undangan yang dikirim langsung dari pihak Kedutaan Amerika menyatakan ”no lecturer, please”, jadi diharapkan yang datang ke kegiatan-kegiatan tersebut adalah mahasiswa-mahasiswa bukan pengajar. Ini semakin menekankan bahwa kegiatan-kegiatan ini sebenarnya bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai dan mempromosikan Amerika. Tujuannya yaitu agar mendapatkan pandangan yang positif mengenai Amerika dan kebijakan-kebijakannya. Target audiens adalah mahasiswa bukan pengajar adalah karena mahasiswa adalah ”kaum elit terpelajar yang berada di dalam posisi terbaik untuk membentuk dan mempengaruhi kebijakan pro-Amerika di negara masing-masing. Mereka disebut ’bewidered herd’ yang berarti kawanan domba bingung” (Nancy Snow:2003:59) oleh karena itu Amerika memanfaatkan kebingungan kaum terpelajar tersebut dengan memberikan arahan-arahan melalui kegiatan-kegiatan ini.
Berkaitan dengan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan, saya menyakan evaluasi dari kegiatan-kegiatan kepada Direktur MBRC Ibu Iriani
”Banyak...pernah ada perburuhan, tentang hukum, jadi kita modifkan tentang law trus kita modif jadi korupsi. Jadi kebanyakan tentang Amerika dan hukum di Amerika. Cuma yang kita sesalkan, pebicaranya itu bukan pembicara kelas UI gitu. Bukan kelas yang dituntut oleh UI gitu. Kita kan maunya dari well known broad lecturer, tapi dikasihnya orang-orang kedutaan. Jadi isinya kebanyakan promotion Amerika Serikat yang sebenarnya bukan itu yang kita harapkan dari kerjasama ini. Itu juga saya sebutkan dalam rapat tahunan bahwa bukan ini yang UI harapkan. Kita inginnya lecturer yang internasional tapi mereka bilangnya ”sorry, we don’t have budget for it”. Sebenarnya dari awal saya sudah mengatakan bahwa FISIP UI tidak butuh yang sepeti ini tetapi kemudian itu tertutupi oleh kepentingan internasional tadi” (wawancara dengan Ibu Iriani tanggal 24 Maret 2006)
Jadi ternyata pelaksanaan kegiatan ini sebenarnya telah melenceng dengan kesepakatan yang telah di sepakati sebelumnya yaitu mengenai janji pihak Kedutaan Amerika yang akan mendatangkan lecturer dari luar negeri yang bekualitas sehingga bisa mendapatkan pengetahuan dan informasi dari tokoh tersebut.
Kesimpulan yang dapat diambil dari pelaksanaan kegiatan-kegiatan Amcor di MBRC yaitu bahwa kegiatan-kegiatan ini tidak lain adalah propaganda Amerika untuk mempromosikan Amerika kepada dunia. Ini terkait fungsi IIP yaitu “delivers America's message to the world, counteracting negative preconceptions, maintaining an open dialogue, and building bridges of understanding to help build a network of communication, promote American voices, and forge lasting relationships in international communities”. Kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan propaganda ini seharusnya di hilangkan atau setidaknya diminimalisir keberadaannya karena akan merusak citra dunia akademik yaitu freedom of academic dan citra perpustakaan perguruan tinggi yaitu freedom of information.
5.9 Pola Hubungan FISIP UI, Kedutaan Besar Amerika Serikat, MBRC dan American Corner







Hubungan yang pertama adalah FISIP UI melakukan propaganda dengan cara merubah MBRC menjadi perpustakaan modern dengan tujuan agar civitas akademika UI tertarik untuk mengunjungi MBRC dengan demikian sumber-sumber informasi yang terdapat di MBRC dapat termanfaatkan. Strategi FISIP UI ini dapat dinilai berhasil karena data statistik menunjukkan bahwa telah terjadi kenaikan drastis pengunjung sejak perpustakaan FISIP UI berubah menjadi MBRC. Data statistik pengunjung perpustakaan FISIP UI pada tahun 2000 menunjukkan rata-rata pengunjung perhari adalah 118 orang dengan jumlah keseluruhan mahasiswa FISIP adalah 7.813 orang dan jumlah anggota 2250 orang. Dari data tersebut menunjukan bahwa anggota perpustakaan FISIP UI hanya 28,8 %. Data statistik pengunjung MBRC pada tahun 2005 menunjukkan rata-rata jumlah pengunjung perhari adalah 406 orang dengan jumlah populasi warga FISIP UI 6.901 orang dan jumlah anggota 4.291 orang. Data tersebut menunjukkan bahwa anggota MBRC adalah 62,18 % dari jumlah populasi warga FISIP. Data ini menunjukkan terjadi kenaikan drastis kenaikan rata-rata yaitu 34 % dari jumlah kunjungan perhari dan jumlah anggota sejak Perpustakaan FISIP UI menjadi MBRC.
Hubungan yang kedua adalah Kedutaan Amerika Ssrikat melakukan propaganda dengan menempatkan Amcor sebagai media propaganda di MBRC. Dengan demikian Kedutaan Amerika menggunakan MBRC sebagai alat propaganda untuk menyebarkan pesan-pesan Amerika kepada sivitas akademika FISIP UI pada khususnya dan sivitas UI pada umumnya. Strategi Kedutaan Amerika ini bisa dinilai berhasil. Sejak di resmikannya Amcor tanggal 24 Februari 2005 hingga april 2006 tercatat pengguna Amcor berjumlah 5200 orang dengan rata-rata pengunjung berarti sekitar 20 hingga 30 orang perharinya. Itu belum termasuk pengguna yang menggunakan layanan internet gratis. Namun demikian tingkat penggunaan koleksi di Amcor sangat rendah. Hasil penelitian melalui kuesioner yang saya sebar kepada 80 orang pengunjung MBRC menyebutkan bahwa fasilitas yang sering digunakan di Amcor adalah koleksi tercetak (buku, majalah, jurnal, review) sebanyak 27,5%, penggunaan CD dan DVD sebanyak 1,25 % dan penggunaan Internet gratis sebanyak 63,75 % dengan perincian dan 7,5 % menggunakan Jurnal online Ebscohost. Dari sini kita bisa melihat bahwa pemanfaatan fasilitas yang tertinggi adalah internet gratis dengan perincian membuka Friendster sebanyak 5 %, membuka email sebanyak 50 %, melakukan penelusuran informasi sebanyak 27,5 % dan lain-lain 17,5%. Tingkat kepuasan terhadap koleksi pun sangat rendah yaitu 70 % menyatakan koleksi Amcor tidak dapat memenuhi kebutuhan informasi dan hanya 22% yang menyatakan telah terpenuhi kebutuhan informasinya melalui Amcor. Alasan yang diberikan responden yaitu karena informasinya yang tersedia kurang lengkap sebanyak 22,5 %, informasinya kurang akurat sebanyak 16,25 %, sebanyak 23,75 % menyatakan tidak menemukan informasi yang dibutuhkan, dan sebanyak 8,75 % mempunyai alasan lain seperti informasi tidak berimbang, karena intervensi Amerika dan informasi hanya berasal dari satu sisi. Adanya ketidakpuasan terhadap koleksi Amcor sanagt di mungkinkan karena koleksi tersebut memang tidak berdasarkan kebutuhan sivitas Akademika. Dari penelusuran sejarah dan proses wawancara kita mengetahui bahwa sumber-sumber informasi di Amcor melalui proses seleksi yang di seleksi oleh subject spesialis dari Amerika. Padahal seharusnya subject spesialis adalah orang yang benar-benar mengerti mengenai subjek tertentu dan mengerti bahwa bahan-bahan yang dipihnya berguna dalam kegiatan belajar mengajar di universitas (Thomson&Carr:1987:173). Akhirnya permasalahan ini akan berdampak pada kurangnya pemanfaatan koleksi Amcor.
Hubungan yang ketiga adalah FISIP UI memanfaatkan Amcor sebagai alat propaganda agar FISIP UI melalui MBRC-nya dapat di kenal ke seluruh dunia. Dengan demikian FISIP UI menggunakan MBRC sebagai alat propaganda untuk mendapatkan jaringan internasional.
Dari pemaparan hubungan-hubungan yang terjadi antara FSIP UI, MBRC, Amcor dan Kedutaan Amerika Serikat, dapat disimpulkan bahwa FISIP UI dan Kedutaan Amerika telah menggunakan perpustakaan sebagai alat propaganda. Perpustakaan yang dimaksud disini adalah MBRC, sebuah perpustakaan perguruan tinggi. Saya akan mulai mengkaji hubungan ini satu-persatu.
Hubungan yang pertama yaitu FISIP UI melakukan propaganda dengan cara merubah MBRC menjadi perpustakaan modern dengan tujuan agar civitas akademika UI tertarik untuk mengunjungi MBRC dengan demikian sumber-sumber informasi yang terdapat di MBRC dapat termanfaatkan. Hal ini menimbulkan akibat yang positif terbukti dengan kenaikan drastis kenaikan rata-rata yaitu 34 % dari jumlah kunjungan perhari dan jumlah anggota sejak Perpustakaan FISIP UI menjadi MBRC. Ini menunjukkan perhatian civitas FISIP UI terhadap MBRC menjadi meningkat. Perhatian departemen-departemen FISIP UI pun menjadi semakin meningkat, hal ini ditunjukkan dengan adanya penambahan anggaran melalui RAKT FISIP UI sebanyak 150 juta pertahun untuk pengembangan koleksi, dana tersebut digunakan untuk membeli koleksi yang mutakhir, selain itu MBRC juga mendapatkan tambahan dana 68 Juta untuk pembelian jurnal-jurnal baik tercetak mapun elektronik. Munculnya ketertarikan civitas FISIP UI terhadap MBRC yang paling utama karena di dorong oleh kedaan fisik MBRC dengan tampilan modernnya yang membuat pengunjung nyaman berada di MBRC, lalu nama MBRC yang semakin memperjelas eksistansi MBRC sebagai pusat sumber ilmu pengetahuan, ditambah lagi karena hadirnya beberapa fasilitas yang memang di butuhkan oleh civitas FISIP UI seperti penambahan koleksi menjadi lebih mutakhir, sistem keamanan elektronik untuk menghindari pencurian buku, sistem informasi yang terintegrasi, internet gratis, pelayanan dalam kumpulan soal-soal ujian dan silabus mata kuliah dari setiap jurusan yang ada di FISIP UI, fasilitas Hot Spot, ruang seminar yang dilengkapi dengan perangkat Audio Visual. Aspek-aspek tersebut menjadi pendorong semakin diakuinya keberadaan dan eksistansi MBRC di lingkungan FISIP UI.
Namun demikian keberhasilan ini menjadikan MBRC tidak hanya sebagai pusat sumber informasi tetapi mempunyai fungsi lainnya yaitu menjadi ikon FISIP UI. Ikon adalah suatu benda fisik (dua atau tiga dimensi) yang menyerupai apa yang direpresentasikannya. Representasi ini ditandai dengan kemiripan (Dedy Mulyana:2001:84). MBRC yang modern merepresentasikan FISIP UI sebagai institusi pendidikan yang modern. Dengan bertambahnya fungsi MBRC yaitu menjadi ikon FISIP UI dengan demikian MBRC tidak hanya sebagai pusat sumber informasi dan pengetahuan tetapi menjadi sebuah ikon yang di gunakan untuk berbagai kepentingan salah satunya menjadi alat propaganda FISIP UI. Oleh karena itu ketika pihak kedutaan Amerika menawarkan Amcor di MBRC, FISIP UI menerimanya. Padahal, dalam pembinaan kerjasama perpustakaan dengan pihak luar (International cooperation) yang menjadi pertimbangan utama adalah kebutuhan (Stella Keenan:1991:15). Ibu Iriani sebagai Direktur MBRC memberi keterangan

”...Jadi, kalau dilihat dari fisiknya bantuan seperti itu amat kecil. Setiap tahun pun kita dapat menganggarkan 50 juta untuk buku. Sekitar 200 buku. Jadi, Amcor menyumbangkan 200 buku, selama 10 semester pun kita sudah mampu membeli itu, gitu loh! Gitu kan ? jadi yang kita lihat lebih jauh lagi, jaringan internasional itu yang kita bisa dapatkan...” (wawancara tanggal 24 Maret 2006)

Jadi sebenarnya FISIP UI tidak begitu membutuhkan koleksi yang terdapat di Amcor. Dengan kemampuannya yang FISIP UI miliki, FISIP UI telah mampu memenuhi kebutuhannya tanpa harus bekerjasama dengan Amcor. Bahkan jika FISIP UI sendiri yang melakukannya mungkin koleksinya lebih berdaya guna karena proses penseleksian dilakukan oleh FISIPUI sendiri dengan rekomendasi para pengajar dan mahasiswa FISIP UI. Namun demikian pertimbangan tertutupi oleh kepentingan propaganda FISIP UI yang tidak berhubungan dengan tujuan dan fungsi FISIP UI maupun MBRC.
MBRC menerima Amcor dengan tujuan untuk mendapatkan jaringan internasional, padahal sudah jelas bahwa Amcor merupakan media propaganda Amerika Serikat. Sumber-sumber informasi yang terdapat di Amcor merupakan sumber-sumber informasi telah melalui proses seleksi. Penseleksian informasi didasarkan pada kepentingan dan tujuan pemerintah Amerika tanpa ada diskusi dengan pihak MBRC. Pihak MBRC hanya menerima saja apa yang diberikan oleh pihak kedutaan Amerika. Disini dapat dilihat peranan MBRC sebagi pihak yang pasif sementara pihak Kedutaan Amerika menjadi pihak yang aktif dan memegang kendali. Hadirnya Amcor di FISIP UI tidak sesuai dengan freedom of academic dan netralitas yang menjadi prinsip dan di junjung tinggi lembaga pendidikan. Hadirnya Amcor di MBRC tidak sesuai dengan prinsip keadilan Perpustakaan Perguruan tinggi. Prinsip keadilan yang diartikan disini sesuai dengan hak kebebasan memperoleh informasi yaitu suatu hak untuk mencari, memakai, menggunakan, membuat, secara bebas informasi apapun yang diinginkan, dalam sebuah ruang publik yang terbuka dimana masing-masing kedudukan pihak-pihak adalah setara (lihat Calhoun,1992; Hebermas,1993). Konsep Amcor yang eksklusif dinilai sebagai upaya untuk mengarahkan proses berpikir kepada pemikiran tertentu dan ini bertentangan dengan hak kebebasan tadi, bertentangan dengan kebebasan dalam akademik (freedom of academik) dan bertentangan dengan prinsip keadilan yang menekankan keragaman dalam sebuah perpustakaan.
Dalam menghadapi persoalan ini semestinya pustakawan harus bertindak tegas dengan mengembalikan perpustakaan perguruan tinggi sesuai dengan tanggung jawabnya yaitu bertanggung jawab mengumpulkan, mengatur dan menyediakan untuk dipakai oleh mahasiswa dan pengajar, serta mengawetkan semua informasi yang relevan atau berhubungan dengan program pendidikan tinggi lembaga bersangkutan (Poole, 1981:9). Orientasi yang menjadi fokus utama sudah tentu adalah pengguna yang dalam hal ini adalah ciivitas FISIP UI.

Pemakai sebuah perpustakaan merupakan faktor primer, permintannya sedapat mungkin harus dipenuhi. Subjek, bahasa dan gaya pemaparan buku yang dipilih sedapat mungkin berkolerasi dengan permintaan pemakai. Ini berarti bahwa pustakawan harus mengetahui pemakai dan kebutuhannya sehingga pustakawan dapat menyediakan buku/informasi yang tepat bagi setiap pemakai.(Sulisto-Basuki:2004-2005 : Bab 6, hal.11-12)

Jadi jika Amcor tetap ingin di pertahankan di MBRC FISIP UI, sudah selayaknya pustakawan harus bertindak proaktif dengan memberikan usulan-usulan kepada Kedutaan Amerika mengenai sumber-sumber informasi dan kegiatan yang memang benar-benar di butuhkan oleh FISIP UI. Pustakawan hendaknya menemukan siapa yang memperoleh manfaat terbesar dari sebuah buku (Sulisto-Basuki:2004-2005:Bab6,hal.11). Jadi kontrol mengenai pengembangan koleksi harus ada di tangan pustakawan. Dalam kebijakan pengembangan koleksi ini harus tegas dengan berperinsip pada kerelevanan, berorientasi dengan kebutuhan pengguna, kelengkapan, kemutakhiran dan kerjasama dalam proses penyeleksian. Kerjasama dalam proses penyeleksian ini harus melibatkan semua pihak yaitu pustakawan, tenaga pengajar dan mahasiswa. Dengan kerjasama, diharapkan pengembangan koleksi dapat berdayaguna dan berhasil guna.

.

BAB VI
Kesimpulan dan Saran

5.1 Kesimpulan
Penelitian dengan judul Miriam Budiardjo Resource Center dan American Corner Dalam Pengertian Propaganda ini mengangkat permasalahan mengenai pola hubungan yang terjadi antara Miriam Budiardjo Resource Center (MBRC) dan American Corner (Amcor). Penelitian ini menggunakan propaganda sebagai alat untuk membedah pola hubungan MBRC dan Amcor. Dalam pengambilan data di lapangan, saya menggunakan pendekatan grounded theory yaitu memungkinkan teori dibangun berdasarkan data yang ditemukan di lapangan dengan tetap berpedoman pada masalah penelitian. Oleh karena itu elemen-elemen yang membentuk realitas sosial tersebut akan terlihat secara alami dan ini akan menjadi bahan untuk memahami realitas sosial .Dalam menganalisis data untuk mengerti pola hubungan tadi saya menggunakan paradigma interpretativ konstruktif.
Hipotesis awal saya mengenai permasalahan ini adalah FISIP UI merubah Perpustakaan FISIP UI menjadi MBRC dengan tujuan agar sumber-sumber informasi di dalam perpustakaan tersebut dapat dimanfaatkan dan tersebarluaskan. Kedutaan Besar AS meletakkan Amcor di MBRC FISIP UI dengan tujuan agar Informasi-informasi yang disampaikan melalaui Amcor dapat dimanfaatkan oleh sivitas UI pada umumnya dan sivitas FISIP UI pada khususnya dengan demikian informasi-informasi tersebut dapat tersebarluaskan. DEngna demikian keduanya menjadikan MBRC sebagai alat propaganda
Hasil penelitian ini adalah bahwa terdapat 3 hubungan antara MBRC, Amcor, FISIP UI dan Kedutaan Amerika Serikat.
a. Hubungan yang pertama adalah FISIP UI melakukan propaganda dengan cara merubah MBRC menjadi perpustakaan modern dengan tujuan agar civitas akademika UI tertarik untuk mengunjungi MBRC dengan demikian sumber-sumber informasi yang terdapat di MBRC dapat termanfaatkan. Strategi FISIP UI ini dapat dinilai berhasil karena data statistik menunjukkan bahwa telah terjadi kenaikan drastis pengunjung sejak perpustakaan FISIP UI berubah menjadi MBRC. Data statistik pengunjung perpustakaan FISIP UI pada tahun 2000 menunjukkan rata-rata pengunjung perhari adalah 118 orang dengan jumlah keseluruhan mahasiswa FISIP adalah 7.813 orang dan jumlah anggota 2250 orang. Dari data tersebut menunjukan bahwa anggota perpustakaan FISIP UI hanya 28,8 %. Data statistik pengunjung MBRC pada tahun 2005 menunjukkan rata-rata jumlah pengunjung perhari adalah 406 orang dengan jumlah populasi warga FISIP UI 6.901 orang dan jumlah anggota 4.291 orang. Data tersebut menunjukkan bahwa anggota MBRC adalah 62,18 % dari jumlah populasi warga FISIP. Data ini menunjukkan terjadi kenaikan drastis kenaikan rata-rata yaitu 34 % dari jumlah kunjungan perhari dan jumlah anggota sejak Perpustakaan FISIP UI menjadi MBRC. Ini menunjukkan perhatian civitas FISIP UI terhadap MBRC menjadi meningkat. Munculnya ketertarikan civitas FISIP UI terhadap MBRC yang paling utama karena di dorong oleh kedaan fisik MBRC dengan tampilan modernnya yang membuat pengunjung nyaman berada di MBRC, lalu nama MBRC yang semakin memperjelas eksistansi MBRC sebagai pusat sumber ilmu pengetahuan, ditambah lagi karena hadirnya beberapa fasilitas yang memang di butuhkan oleh civitas FISIP UI seperti penambahan koleksi menjadi lebih mutakhir, sistem keamanan elektronik untuk menghindari pencurian buku, sistem informasi yang terintegrasi, internet gratis, pelayanan dalam kumpulan soal-soal ujian dan silabus mata kuliah dari setiap jurusan yang ada di FISIP UI, fasilitas Hot Spot, ruang seminar yang dilengkapi dengan perangkat Audio Visual. Aspek-aspek tersebut menjadi pendorong semakin diakuinya keberadaan dan eksistansi MBRC di lingkungan FISIP UI.
b. Hubungan yang kedua adalah Kedutaan Amerika Ssrikat melakukan propaganda dengan menempatkan Amcor sebagai media propaganda di MBRC. Dengan demikian Kedutaan Amerika menggunakan MBRC sebagai alat propaganda untuk menyebarkan pesan-pesan Amerika kepada sivitas akademika FISIP UI pada khususnya dan sivitas UI pada umumnya. Strategi Kedutaan Amerika ini bisa dinilai berhasil. Sejak di resmikannya Amcor tanggal 24 Februari 2005 hingga april 2006 tercatat pengguna Amcor berjumlah 5200 orang dengan rata-rata pengunjung berarti sekitar 20 hingga 30 orang perharinya. Itu belum termasuk pengguna yang menggunakan layanan internet gratis. Namun demikian tingkat penggunaan koleksi di Amcor sangat rendah. Hasil penelitian melalui kuesioner yang saya sebar kepada 80 orang pengunjung MBRC menyebutkan bahwa fasilitas yang sering digunakan di Amcor adalah koleksi tercetak (buku, majalah, jurnal, review) sebanyak 27,5%, penggunaan CD dan DVD sebanyak 1,25 % dan penggunaan Internet gratis sebanyak 63,75 % dengan perincian dan 7,5 % menggunakan Jurnal online Ebscohost. Dari sini kita bisa melihat bahwa pemanfaatan fasilitas yang tertinggi adalah internet gratis dengan perincian membuka Friendster sebanyak 5 %, membuka email sebanyak 50 %, melakukan penelusuran informasi sebanyak 27,5 % dan lain-lain 17,5%. Tingkat kepuasan terhadap koleksi pun sangat rendah yaitu 70 % menyatakan koleksi Amcor tidak dapat memenuhi kebutuhan informasi dan hanya 22% yang menyatakan telah terpenuhi kebutuhan informasinya melalui Amcor. Alasan yang diberikan responden yaitu karena informasinya yang tersedia kurang lengkap sebanyak 22,5 %, informasinya kurang akurat sebanyak 16,25 %, sebanyak 23,75 % menyatakan tidak menemukan informasi yang dibutuhkan, dan sebanyak 8,75 % mempunyai alasan lain seperti informasi tidak berimbang, karena intervensi Amerika dan informasi hanya berasal dari satu sisi. Adanya ketidakpuasan terhadap koleksi Amcor sanagt di mungkinkan karena koleksi tersebut memang tidak berdasarkan kebutuhan sivitas Akademika. Dari penelusuran sejarah dan proses wawancara kita mengetahui bahwa sumber-sumber informasi di Amcor melalui proses seleksi yang di seleksi oleh subject spesialis dari Amerika. Padahal seharusnya subject spesialis adalah orang yang benar-benar mengerti mengenai subjek tertentu dan mengerti bahwa bahan-bahan yang dipihnya berguna dalam kegiatan belajar mengajar di universitas (Thomson&Carr:1987:173). Akhirnya permasalahan ini akan berdampak pada kurangnya pemanfaatan koleksi Amcor.
c. Hubungan yang ketiga adalah FISIP UI memanfaatkan Amcor sebagai alat propaganda agar FISIP UI melalui MBRC-nya dapat di kenal ke seluruh dunia. Dengan demikian FISIP UI menggunakan MBRC sebagai alat propaganda untuk mendapatkan jaringan internasional. MBRC menerima Amcor dengan tujuan untuk mendapatkan jaringan internasional, padahal sudah jelas bahwa Amcor merupakan media propaganda Amerika Serikat. Sumber-sumber informasi yang terdapat di Amcor merupakan sumber-sumber informasi telah melalui proses seleksi. Penseleksian informasi didasarkan pada kepentingan dan tujuan pemerintah Amerika tanpa ada diskusi dengan pihak MBRC. Pihak MBRC hanya menerima saja apa yang diberikan oleh pihak kedutaan Amerika. Disini dapat dilihat peranan MBRC sebagi pihak yang pasif sementara pihak Kedutaan Amerika menjadi pihak yang aktif dan memegang kendali. Hadirnya Amcor di FISIP UI tidak sesuai dengan freedom of academic dan netralitas yang menjadi prinsip dan di junjung tinggi lembaga pendidikan. Hadirnya Amcor di MBRC tidak sesuai dengan prinsip keadilan Perpustakaan Perguruan tinggi. Prinsip keadilan yang diartikan disini sesuai dengan hak kebebasan memperoleh informasi yaitu suatu hak untuk mencari, memakai, menggunakan, membuat, secara bebas informasi apapun yang diinginkan, dalam sebuah ruang publik yang terbuka dimana masing-masing kedudukan pihak-pihak adalah setara (lihat Calhoun,1992; Hebermas,1993). Konsep Amcor yang eksklusif dinilai sebagai upaya untuk mengarahkan proses berpikir kepada pemikiran tertentu dan ini bertentangan dengan hak kebebasan tadi, bertentangan dengan kebebasan dalam akademik (freedom of academik) dan bertentangan dengan prinsip keadilan yang menekankan keragaman dalam sebuah perpustakaan.


5.2 Saran-Saran
1. Adanya peningkatan jumlah pengunjung sebanyak 34 % semestinya tidak membuat MBRC untuk berhenti meningkatkan pelayanan bagi anggota. Semua pelayanan hendaknya diorientasikan untuk memenuhi kebutuhan pengguna MBRC. Peningkatan mutu pelayanan dan penegasan kembali kebijakan-kebijakan khususnya kebijakan pengembangan koleksi ditujukan agar MBRC tidak hanya eksist di FISIP UI tetapi juga dapat menjadi pusat sumber informasi yang benar-benar dibutuhkan dan dimanfaatkan oleh seluruh civitas FISIP UI.
2. Fungsi dan tujuan MBRC hendaknya di kembalikan kepada fungsi dan tujuan Perpustakaan Perguruan Tinggi tanpa kepentingan politik atau propaganda yang menyertainya. Semua itu harus di lakukan agar MBRC sebagai perpustakaan perguruan tinggi dapat menjalankan tugasnya secara optimal terutama dalam memenuhi kebutuhan informasi civitas FISIP UI.
3. Pihak pustakawan harus lebih tegas dan waspada terutama untuk melindungi perpustakannya dari ancaman kepentingan pihak luar yang dapat merusak citra perpustakaan perguruan tinggi yang menjunjung tinggi freedom of academic, freedom of information, netralitas, dan prinsip keadilan serta keseimbangan dalam perpustakaan perguruan tinggi.
4. Pihak pustakawan harus memegang kendali penuh terhadap perpustakannya. Upaya kontrol ini tidak hanya dilakukan di internal perpustakaan tetapi juga berhubungan dengan eksternal perpustakaan. Dalam hal ini pihak pustakawan juga harus lebih proaktif dalam mengajukan usulan-usulan yang berkaitan dengan pengembangan perpustakannya dalam setiap penentuan kebijaksanaan yang berhubungan dengan perpustakannya. Sikap proaktif ini di perlukan untuk melindungi kepentingan pengguna bukan kepentingan pihak luar.

-------------
Tulisan ini adalah Skripsi saya yang diajukan untuk memperoleh gelar Sarjana Humaniora, FIB, UI pada tanggal 15 Januari 2007

Indah Survyana

PROPAGANDA

PROPAGANDA

Pengantar
“ Propaganda”, sebuah kata yang popular namun kini telah kehilangan maknanya karena tertutupi oleh stigma-stigma negatif yang melingkupi dirinya. Suatu hal yang umum ketika kata ”propaganda” terdengar atau terlihat maka kata tersebut tidak terlepas dari stigma negatif yang berkaitan dengan propaganda tersebut atau dipaksakan berkaitan karena pada suatu massa kata-kata tersebut sangat bertalian erat dengan propaganda, misalnya kata perang dunia, konspirasi politik, media, pemerintah, pembodohan masal, informasi yang salah, hingga mengacu ke kata fasisme, nazi bahkan sosialisme. Sulit rasanya menyandingkan propaganda dengan demokrasi, padahal diakui oleh pakar public relation, Edward L.Bernays bahwa propaganda adalah tujuan komunikasi dalam masyarakat yang berdemokrasi
Stigma yang negatif tentang propaganda tidak akan terbentuk tanpa adanya suatu rekayasa sosial, dan rekayasa sosial tanpa melanggar hak asasi manusia tidak akan terwujud tanpa adanya komunikasi persuasif untuk mempengaruhi masyarakat (audiens) yang menjadi targetnya. Inti dari komunikasi persuasif adalah propaganda, dengan demikian dapat dimungkinkan bahwa stigma negatif tentang propaganda merupakan produk dari propaganda itu sendiri.
Terlepas dari stigma negatif tersebut, makalah ini mencoba mengupas propaganda dari sisi ilmiah dengan berpijak pada literatur dan sejarah mengenai propaganda. Harapan penulis agar pembaca mendapatkan perspektif yang baru dari propaganda dengan demikian dapat menjadi bahan evaluasi dan pemberdayaan bagi pembaca dalam merefleksikan propaganda.

Definisi Propaganda

Apa itu propaganda ? secara umum propaganda di definisikan sebagai skema untuk mempropagandakan suatu doktrin atau tindakan kepada seseorang atau sekelompok orang yang disebarkan melalui kata-kata, suara, iklan komersil, musik, gambar dan simbol-simbol lainnya. Definisi lainnya yang dapat menjelaskan mengenai propaganda, dejelaskan secara rinci oleh James E.Combs dan Don Nimmo sebagai berikut :
1. ”Usaha yang disengaja dan sistematis...untuk mencapai respon yang lebih jauh lagi merupakan tujuan yang diinginkan oleh ahli propaganda”
2. ”Sebuah usaha untuk mempengaruhi opini dan tingkah laku”
3. ”Situasi propaganda yang tipikal adalah A melalui suatu metode atau metode lain yang berhubungan dengan B sehingga cendrung mempengaruhi tingkahlaku B”
4. ”Semua usaha yang membujuk setiap orang untuk kepercayaan atau untuk suatu bentuk tindakan”.
5. ”Usaha untuk mempengaruhi personalitas dan mengontrol tingkah laku individual menuju tujuan akhir yang dianggap tidak ilmiah atau nilainya meragukan dalam masyarakat pada waktu yang ditentukan”
R.A. Santoso yang telah mengutip lebih dari 10 pakar propaganda menyimpulkan bahwa propaganda merupakan suatu penyebaran pesan yang telah terencanakan secara seksama untuk mengubah sikap, pandangan, pendapat (opini) dan tingkah laku dari penerimanya/komunikan sesuai dengan pola yang ditentukan komunikator .
Dari definisi-definisi yang telah disebutkan diatas penulis mengambil beberapa kata sebagai kata kunci (key word) dalam propaganda yaitu penyebarluasan, pesan, mempengaruhi, pendapat, dan sesuatu yang telah direncanakan.
Kata menyebarluaskan atau penyebarluasan dalam definisi tersebut dapat mengandung pengertian ”menumbuhkembangkan”. Kata menyebarluaskan dapat juga berarti ”menyiarkan” atau ”mempublikasikan” yang merupakan sesuatu yang disengaja. Suatu kegiatan yang disengaja memerlukan suatu perencanaan dalam bentuk suatu pola atau skema yang sistematis. Sesuatu yang disebarluaskan disini adalah informasi yang mengandung suatu pesan dengan tujuan untuk mengubah pendapat (opini) orang yang menerimanya. Proses propaganda dapat digambarkan sebagai berikut :

----------------------Setting-------------------------
Pembicara ---> Pesan --> Pendengar
-----------------------Setting-------------------------

Proses propaganda diatas diambil dari teori propaganda paling klasik yang disebut juga model retoris (rhetorical model) karya filusuf Aristoteles. Disini terdapat Pembicara (speker), pesan (message)dan pendengar (listener). Fokus propaganda yang ditelaah Aristoteles adalah model retorika yang lebih dikenal dengan seni berpidato.Setting dalam seni berpidato sebagai sarana persuasif untuk mempengaruhi pendengar.
Proses ini tidak jauh berbeda dengan teori komunikasi model schramm yang dapat digambarkan sebagai berikut :

Encoder -> Message ->Encoder
Interpreter Interpreter
Decoder-> Message - >Decoder


Dari bagan proses tersebut terdapat kesamaan antara propaganda dan komunikasi yaitu adanya pemberi pesan (pembicara/encoder),pesan (message) dan penerima pesan (pendengar/decoder) akan tetapi ada perbedannya jika dilihat dari tanda panah bahwa propaganda bersifat satu arah sedangkan komunikasi bersifat dua arah. Propaganda menggunakan settinguntuk mempengaruhi pendengar sedangkan komunikasi terjadi secara alami. Namun demikian tidak ada komunikasi tanpa tujuan. Edward L Barnays mengatakan bahwa komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang dapat mempengaruhi pendengarnya sehingga pendengar dapat mengerti bahkan menyetujui pendapat pemberi komunikasi tersebut, menurut beliau dengan demikian dapat dikatakan bahwa propaganda merupakan tujuan dari komunikasi
Akhirnya terdapat 3 kekhususan/karakteristik yang khas dari propaganda yaitu (1)ia merupakan komunikasi yang disengaja dan dirancang untuk mengubah sikap orang yang menjadi sasaran.(2) ia menguntungkan bagi si pelakupropaganda untuk memajukan kepentingan orang yang dituju (inilah alasannya mengapa periklanan, humas, dan kampanye politik merupakan bentuk propaganda) dan (3) ia biasanya merupakan informasi satu arah berlawanan dengan pendidikanyang mempunyai dua arah dan interaktif.
Jika pendidikan bersifat dua arah, propaganda merupakan komunikasi satu arah. Dalam sudut pandang, jika pembelaan dari apa yang kita percaya adalah pendidikan, maka pembelaan dari apa yang kita jangan percaya adalah Propaganda.

Sejarah Propaganda
Propaganda secara essensi (komunikasi persuasif) mempunyai sejarah yang cukup panjang seiring dengan sejarah tulisan.Pada peradaban mesir kuno, para raja menciptakan piramida, sejarah mengenai, perkembangan kerajaan hingga kematian raja dituliskannya dengan menggunakan aksara hiroglif di dalam piramida tersebut. Tujuan pendirian dari pendirian piramida adalah untuk menunjukkan kekuasaan mereka.
Plato (429-347 SM) dalam filsafat Republica menyatakan bahwa penguasa berwenang untuk memberikan peraturan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dikatakan penduduknyaagar penduduk tidak mendengar pandangan atau pendapat lain kecuali oandangan pemerintahnya
Aristoteles (384-322 SM) dalam Rhetorical mengkaji tata cara berretorika untuk mempengaruhi pendapat target yang ditujunya , Menurut Aristoteles, persuasif dapat dicapai oleh Siapa Anda (ethos-kepercayaan Anda), Argumen Anda (logos-logika dalam pendapat Anda) dan dengan memainkan emosi khalayak (Rhatos-emosi khalayak).
Propaganda dalam bahasa latin berarti ”berbagai hal untuk disebarkan”. Di tahun 1922, tak lama setelah perang 30 tahun, untuk pertama kalinya kata propaganda pertama kali digunakan. Sri Paus Gregory menggunakan istilah propaganda untuk menamakan panitia khusus tuk menyebarkan keyakinan. Panitia tersebut bernama Congregatio de Propaganda Fide (kelompok penyebar keyakinan). Tugas utama kelompok ini adalah menyebarkan doktrinasi katolik ke dalam negara-negara non-katolik ( wilayah misi).
Semenjak itu propaganda digunakan sebagai kata umum untuk menandakan suatu aktivitas menyebarkan sesuatu. Alasan Propaganda ada dan menjadi tersebar luas adalah karena propaganda melayani berbagai tujuan sosial, orang-orang yang membutuhkan, propaganda pada saat itu sangat populer namun berpotensi merusak. Banyak institusi seperti pemerintah dan medianya sendiri (propaganda-addicts),sangat bergantung satu dengan yang lainnya (co-dependent) dan saling mempengaruhi dalam suatu sistem propaganda yang mereka ciptakan dan pelihara. Propagandis mempunyai suatu keuntungan untuk terus mengetahui apa yang mereka inginkan untuk mempromosikan dan untuk siapa.
Richard Alan Nelson (1996) berpendapat, propaganda "secara netral digambarkan sebagai suatu format bujukan yang sistematis mencoba untuk mempengaruhi emosi, sikap, pendapat, dan tindakan pendengar yang ditetapkan untuk tujuan ideologis, yang komersil atau politis melalui transmisi yang yang dikendalikan dari pesan yang berat sebelah (mungkin tidak berdasarkan fakta) berkumpul dan mengarahkan saluruan media (media chanel). Suatu organisasi propaganda mempekerjakan propagandis -Orang yang terlibat dalam propaganda—dalam mendistribusikan dan menciptakan tujuan ke dalam format bujukan."
Pada masa Perang baik Perang Dunia I maupun Perang Dunia ke II hingga Perang dingin, baik blok barat maupun blok timur menggunakan propaganda sebagai sarana persuasif bernuansa sangat politis untuk melumpuhkan lawan hingga membangkitkan semangat juang bangsa mereka. Setiap negara peserta perang dunia mendirikan departemen informasi, tujuannya tidak lain adalah untuk menyebarkan informasi yang salah untuk menakut-nakuti atau mengelabui musuh, mensensor informasi untuk warga negaranya, dan sebagai sarana untuk membangkitkan semangat warganya untuk beperang. Media yang digunakan adalam media massa, film, televisi, radio, selebaran-selebaran tidak resmi (pamflet, poster,dll), majalah dan buku. Inggris mendirikan Britain’s Foreign Office ) Information Research Department) dan BBC. Jerman menyebarkan propagandanya melalui radio nasionalnya. Mereka memperdengarkan pidato-pidato Hitler yang dengan pidato yang berapi-api mempengaruhi warganya untuk ikut berperang. Jepang dengan semboyan Fokoku Kyohei (Negara Kaya, Militer Kuat) sangat bersemangat untuk memenangkan perang dunia, Kaisar Mutshito melalui titahnya yang disebarkan melalui sebaran-sebaran resmi kenegaraan maupun melalui pejabat-pejabat kenegaraan, menyerukan seluruh rakyat Jepang untuk ikut berperang demi kejayaan negara. Rusia menggunakan istilah агитация (Agitasi) dan пропаганда (propaganda) untuk menyebarkan paham marxisnya. Amerika Serikat, negara yang mempunyai pengalaman propaganda puluhan tahun (hingga sekarang) mendirikan Institut for Propaganda Analysis, sebuah institusi untuk mempelajari propaganda dan mengembangkan propaganda. Untuk kebutuhan perang Amerika Serikat membentuk Office of War Information (OWI) untuk menyebarkan propaganda ke dalam negeri maupun luar negeri. OWI dibawah koordinasi Public Affair Department of United Stated yang berpusat di Washington DC. Untuk menghadapi Jerman, Amerika membentuk CPI (Committee for Public Information). CPI inilah yang kemudian menjadi embrio USIA (United Stated Information Agency) yang beroperasi dari tahun1947-2003. USIA banyak menghasilkan produk propaganda yang dikirim ke luar negeri dalam bentuk pos-pos diplomatik seperti United States Information Service (USIS) yang tersebar di seluruh Keduataan Besar AS di seluruh dunia, Fulbright Scholarship, Kunjungan Internasional dan siaran international Voice of America. Saat ini USIA telah bermetamorfosis menjadi International Information Program (IIP) dan USIS menjadi Information Resouce Center (IRC) yang berada di setiap Kedutaan Besar Amerika Serikat. IRC semakin mengembangkan sayapnya hingga ke wilayah-wilayah terpencil yaitu dengan mendirikan American Corner sebagai cabangnya.
Saat ini kata propaganda tidak lagi digunakan, kalaupun digunakan akan menimbulkan stigma yang negatif. Stigma-stigma negatif tersebut diciptakan agar propaganda terlupakan dan tidak lagi digunakan akan tetapi negara-negara pelopor propaganda tetap menggunakan propaganda secara essensi dan teknik. Amerika serikat contohnya, setelah berakhirnya Perang Dunia II dan menandai dimulainya perang dingin, USIA mengganti istilah propaganda dengan ”Public Diplomacy” (Diplomasi Publik)

Jenis-Jenis Propaganda
Propaganda dapat digolongkan menurut kealamiahan dan menurut sumber pesan yaitu White Propaganda, Grey Propaganda dan Black Propaganda.White Propaganda biasanya datang dari suatu sumber yang dikenali, dan ditandai oleh metoda bujukan lebih lemah lembut, seperti standar dan teknik Publik Relation dan presentasi berat sebelah dari suatu argumentasi . Tahun 1995, Amerika mempunyai lebih banyak profesional dalam humas (150.000) dibanding wartawan (130.000). Akademisi seperti Mark Dowie menaksir bahwa 40% atas apa yang kita anggap ”berita”dibuat oleh kantor humas.
Black Propaganda terkadang bersal dari sumber-sumber yang bersahabat, tetapi benar-benar dari suatu musuh. Black Propaganda ditandai oleh presentasinya tentang informasi sumbang/palsu untuk menimbulkan suatu tanggapan diinginkan, dan sering digunakan di dalam rahasia militer atau tempat berlindung operasi psikologis dan oleh jaringan organisasi besar seperti pemerintah atau jaringan teroris. Black Propaganda menggunakan berbagai macam media sebagai instrumennya mulai dari suat kabal, selebaran resmi atau tidak resmi, siaran radio hingga film produksi Holywood.
Grey Propaganda mungkin datang dari suatu iklan sumber menyatakan dirinya netral atau ramah, dan menghadirkan banyak informasi yang menyesatkan dalam suatu cara yang lebih tersembunyi/membahayakan dibanding white propaganda. Kalimat dari pgrey propaganda ini terkadang tidak logis atau tidak rasional. Tujuannya adalah sebagai upaya persuasif untuk menimbulkan efek emosional bagi target audiensnya.
Propaganda tidak berati informasi yang salah.Dalam skala, ini jenis propaganda yang berbeda dapat juga digambarkan sebagai kebenaran dan informasi yang akurat untuk bersaing dengan propaganda dengan propaganda yang menyesatkan. Sebagai contoh, oposisi White propaganda adalah sering ditemukan dan sering mendeskriditkan sumber propaganda. Oposisi Grey propaganda ketika diungkapkan dalam suatu sumber, menciptakan level tertentu dalam hingar bingar publik. Oposisi Black propaganda adalah sering tak tersedia dan mungkin berbahaya untuk mengungkapkan, sebab publik mengenal taktik dan sumber Black propaganda akan mengikis atau menyerang balik seluruh kampanye yang Blackpropagandis.


Teknik-Teknik Propaganda
Sejumlah teknik yang didasarkan pada riset psikologi sosial digunakan untuk menghasilkan propaganda. Mengidentifikasi pesan adalah suatu prasyarat yang perlu untuk belajar metode dan dengan cara apa pesan itu tersebar. Oleh karena itu sangat penting untuk mempunyai pengetahuan mendasar mengenai beberapa teknik yang digunakan untuk menciptakan propaganda:
1. Appeal to fear: Sebagai upaya untuk menimbulkan rasa takut. Tujuannya untuk membangun dukungan dengan menanamkan ketakutan di dalam populasi yang umum, sebagai contoh, Joseph Goebbels memanfaatkan Theodore Kaufman'S dari Jerman untuk mengakui bahwa Sekutu akan membasmi orang-orang Jerman
2. Appeal to Authority: Memperlihatkan kekuasaan dengan mengutip figur terkemuka untuk mendukung suatu gagasan posisi, argumentasi, atau tindakan.
3. Argumentum ad nauseam : menggunakan pengulangan (repetisi). Penyebaran suatu gagasan yang diulang-ulang sepanjang waktu, dan gagasan tersebut dinyatakan sebagai suatu kebenaran. media penyebaran terbaik ketika media lainnya sangat sedikit/terbatas dan dikontrol oleh propagator.
4. Black - and - white - fallacy Memperkenalkan hanya dua pilihan, dengan produk atau ide yang di sebarkan sebagai pilihan yang terbaik.(co: pilih mana, mesin yang tidak sehat atau menggunakan oli merek X)
5. Bandwagon (ikut-ikutan): Bandwagon dan inevitable-victory pendekatan usaha untuk membujuk target pendengar untuk mengambil keadaan tindakan yang " everyone else is taking"
a. Join the crowd: Teknik ini menguatkan keinginan masyarakat secara alami untuk memengkan satu sisi. Teknik ini digunakan untuk meyakinkan pendengar bahwa suatu program adalah suatu ungkapan dari suatu gerakan massa yang tidak dapat bertahan dan yang terbaik bagi mereka adalah menggabungkan diri dengan gerakan tersebut.
b. Inevitable victory: mempengaruhi masyrakat untuk berpihak pada hal tertentu dan menegaskan itulah yang terbaik bagi mereka
6. Direct Order (pengarahan): teknik ini bertujuan untuk menyederhanakan proses pengambilan keputusan. Propagandis menggunakan kata-kata dan gambaran untuk menceritakan kepada pendengar mengenai tindakan apa yang harus diambil, menghapuskan berbagai pilihan yang memungkinkan. otoritas figur dapat digunakan untuk membantu mengarahkan, terlihat sedikit overlapping dengan yang terdapat dalam "Authority Technique", tetapi ityu tidak penting. Paman Sam mengatakan" Aku ingin kamu" merupakan suatu contoh gambaran dari teknik ini.
7. Obtain disapproval (memperoleh penolakan): Teknik ini digunakan untuk membujuk suatu target pendengar untuk menyalahkan suatu gagasan atau tindakan dengan mengusulkan bahwa gagasan tersebut sangat terkenal untuk dibenci, menakutkan, atau menyimpan penghinaan terhadap target pendengar tersebut.Dengan begitu jika suatu kelompok mendukung suatu kebijakan tertentu didorong ke arah percaya bahwa yang tidak diinginkan, bersifat subversif, atau orang-orang tercela mendukung kebijakan yang sama, kemudian anggota kelompok boleh memutuskan untuk berubah posisi asli mereka.
8. Glittering generalities (sebutan yang muluk-muluk):Teknik ini merupakan kebalikan dari umpatan (name-calling) kalau dalam teknik umpatan digunakan kata-kata kasar dan berkonotasi negatif, maka dalam teknik sebutanmuluk-muluk kata-kata “gagah” berupa sanjungan-sanjungan yang berkonotasi positif. Kata-kata yang menyarankan kebajikan dan keagungan digunakan propagandis.
9. Rasionalization: kelompok atau Individu boleh menggunakan keadaan umum baik untuk merasionalkan kepercayaan atau tindakan yang diragukan. ungkapan menyenangkan yang samar-samar sering digunakan untuk membenarkan kepercayaan atau tindakan tersebut.
10. Intentional vagueness(Ketidakjelasan yang disengaja): Keadaan umum yang dengan bebas di samar-samar sedemikian rupa sehingga pendengar dapat menafsirkan sendiri. Intentional bermaksud untuk menggerakkan pendengar dengan menggunakan ungkapan tak tergambarkan, tanpa meneliti mencoba atau membenarkan mereka untuk menentukan aplikasi atau bebijaksanaan mereka. Tujuannya adalah untuk menyebabkan orang-orang untuk menggambarkan penafsiran mereka sendiri daripada hanya diberikan suatu gagasan tegas/eksplisit.Dalam usaha untuk " menggambarkan" propaganda ini, pendengar membatalkan pertimbangan yang menyangkut gagasan yang dipresentasikan. Kebenaran mereka, aplikasi dan ketidakbijaksanaan tidaklah dipertimbangkan.
11. Transfer (Penyampaian): Juga dikenal sebagai asosiasi, ini adalah suatu teknik memproyeksikan suatu hal secara negatif atau positif atau negatif ( memuji atau menyalahkan) tentang seseorang, kesatuan, menolak, atau menghargai ( perorangan, kelompok, organisasi, bangsa, patriotisme, dll.) kepada kelompok lainnya dalam rangka membuat yang kedua menjadi lebih diterima atau untuk meragukan kelompok yang kedua itu.Hal tersebut menimbulkan suatu tanggapan emosional, yang merangsang target ke sama dengan mengenali otoritas.Terkadang intensitas penggammbarannya sangat tinggi, teknik ini sering menggunakan lambang ( sebagai contoh, Swastika digunakan di dalam Nazi Negara Jerman, yang semula suatu lambang untuk kemakmuran dan kesehatan) yang digambarkan dalam gambaran visual. Suatu contoh dari penggunaan yang umum dari teknik ini di dalam Amerika adalah untuk Presiden untuk difilmkan atau dipotret di depan bendera Amerika.
12. Penyederhanaan berlebih: Keadaan umum baik yang digunakan untuk menyediakan jawaban sederhana ke sosial, ekonomi yang kompleks, atau permasalahan militer.
13. Common man:"plain folks(pura-pura orang kecil)"atau common man adalah usaha pendekatan untuk meyakinkan pendengar bahwa posisi propagandis mencerminkan akal sehat menyangkut orang-orang. Hal tersebut dirancang untuk memenangkan kepercayaan dari pendengar dengan berkomunikasi di dalam gaya dan cara umum target pendengar. Propagandis menggunakan lagak dan bahasa biasa ( dan merekayasa pesan mereka ke dalam face-to-face (bahasa dua arah) dan komunikasi audiovisual) di dalam mencoba untuk mengidentifikasi segi pandangan mereka dengan apa yang menyangkut pada orang kebanyakan.
14. Testimonial (kesaksian): Kesaksian adalah kutipan, di dalam atau di luar dari konteks, terutama dikutip untuk mendukung atau menolak kebijakan tertentu, tindakan, program, atau kepribadian. Reputasi atau peran ( ahli, menghormati figur publik, dll.) tentang individu memberi sebagai statemen sangat dimanfaatkan. Kesaksian menempatkan sanksi pejabat seorang otoritas atau orang terhormat pada suatu pesan propaganda. Ini dilakukan dalam suatu usaha untuk menyebabkan target pendengar untuk mengidentifikasi sendiri dengan otoritas atau untuk menerima dan mempercayai opini dari otoritas.
15. Name-Calling (umpatan) adalah menjuluki atau menjelek-jelekkan seseorang atau gagasan. Pernyataan yang bernada menjelek-jelekkan atau menyerang lawan dengan cara memberikan sebutan-sebutan yang berkonotasi negatif dapat mengindentifikasi adnya penggunaan teknik ini.
16. Scapegoating(Kambing hitam):memberikan kesalahan kepada seseorang atau sekelompok orang yang tidak bersalah (bukan seseorang yang seharusnya bertanggungjawab)
17. Virtue Words (kebaikan Kata-Kata): Ini adalah kata-kata di dalam sistem nilai dari target pendengar yang cenderung untuk menghasilkan suatu bayangan positip ketika terkait dengan seseorang atau isu tertentu. Damai, kebahagiaan, keamanan, kepemimpinan bijaksana, kebebasan, dan lain lain adalah kata-kata kebaikan
18. Semboyan: Suatu semboyan adalah kalimat untuk memberikan suatu ungkapan meliputi pemberian label dan atau steriotipe.
19. (Unstated Assumption) Asumsi yang tidak dinyatakan: Teknik ini digunakan dalam konsep propaganda ketika propagandis ingin menyebarkan akan nampak kurang nampak terpercaya jika secara terang-terangan dinyatakan. Hal tersebut akan berulangkali dijelaskan dan diperlihatkan. pasar Populasi kebanyakan disebarkan dengan jalan ini.beberapa orang datang dan mengatakan pasar harus demokrasi, tetapi sebagian besar berkata tentang seberapa besar keefektifan pasar tersebut bagaimana hal tersebut kemudian mengurangi cara lama, dll.
20. Falsifing informasi (kesalahan informasi): pemusnahan atau penciptaan informasi dari arsip publik, dengan tujuan pembuatan suatu record/ catatan yang salah/palsu dari suatu peristiwa atau tindakan seseorang selama sesi pengadilan, atau mungkin dalam suatu pertempuran.
21. Euphoria: Penggunaan dari suatu peristiwa yang menghasilkan euforia atau kebahagiaan berlebihan sebagai pengganti penyebaran kesedihan berlebihan, atau penggunaan suatu peristiwa yang baik untuk mencoba menutupi yang lain. Atau menciptakan suatu peristiwa perayaan dengan harapan dapat mendorong moril. Euforia dapat digunakan untuk mengambil pikiran seseorang dari suatu perasaan lebih buruk. contohnya suatu liburan atau pawai.

Penutup
Menurut filsafat Eksistensialis Jean Jaques Sartre, dalam hubungan antar personal tidak terlepas dari hubungan kekuasaan dimana salah satunya menjadi subjek dan yang lainnya menjadi objek. Begitu pula dalam komunikasi, tidak terlepas dari unsur kekuasaan (power). Di alam demokrasi ini Derida, seorang filusuf multikulturalisme mengatakan bahwa ketika tulisan dipublikasikan hal tersebut menjadi wacana yang bebas untuk ditafsirkan. Kekuasaan memegang peranan yang digunakan dalam mengrahkan perspektif seseorang atau sekelompok orang untuk menyetujui, menerima atau menolak wacana dari suatu penafsiran tertentu. Cara yang paling efektif digunakan untuk mencapai hal tersebut adalah propaganda, suatu cara yang disetujui oleh masyarakat demokrasi karena propaganda tak lain adalan senjata demokrasi.

Depok, 2006

Indah Survyana

-------------------
1. Disampaikan dalam Training Sospol Senat FIK UI, 13 mei 2006
2. Combs, James Eden dan Don Nimmo. Propaganda Baru : Kediktaktoran perundingan masa kini. Bandung : PT Remaja Rosdakarja, 1994.
3. Sastropoetro, R A Santoso. Propaganda : Salah satu bentuk komunikasi massa. (cet.III).Bandung: alumni,1991)
4. Mulyana, Dedy. Ilmu Komunikasi : Suatu Pengantar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2001.hal.135-141
5. www.wikipedia.com, di download tanggal 16 April 2006
6. Snow, Nancy. Propaganda,Inc. Jakarta : opini, 2003. hal.50
7. Snow, Nancy. Propaganda,Inc. Jakarta : opini, 2003. hal.44
8. www.wikipedia.com, di download tanggal 16 April 2006

EKOFEMINISME

EKOFEMINISME

Ekofeminisme salah satu cabang feminis gelombang ketiga yang mencoba menjelaskan keterkaitan alam dan perempuan terutama yang menjadi titik fokusnya adalah kerusakan alam yang mempunyai keterkaitan langsung dengan penindasan perempuan. Dalam Ekofeminisme perempuan ditempatkan sebagai “sosok yang lain” sejajar dengan sosok yang lainnya yang diabaikan dalam patriarkhi seperti kelompok ras berwarna, anak-anak, kelompok miskin dan alam.[1] Budaya Patriarkhi menyebabkan adanya dominasi terhadap perempuan, kelompok ras berwarna, anak-anak, kelompok miskin dan alam, dan menempatkan mereka sebagai subordinate dibawah laki-laki yang mempunyai sifat yang unggul, netral, pengelola “sah” bumi dan seisinya.

Dalam menggali keterkaitan antara penindasan “sosok yang lain” (perempuan, kelompok ras berwarna, anak-anak, kelompok miskin), kerusakan alam dan dominasi patrarkhi, ekofeminisme menggunakan pendekatan analisis gender dan lebih memfokuskan keterkaitan ini pada penindasan perempuan, kerusakan alam serta dominasi patriarki sebagai penyebabnya. Hal tersebut disebabkan Pertama, Ekofeminis melihat yang paling dirugikan dari kerusakan alam adalah perempuan. Kedua, Peranan gender perempuan (sebagai pengatur dari economi domestik) bertindihan (overlap) dengan permasalahan kerusakan alam dan lingkungan. Ketiga, beberapa ideologi barat berisikan konsep-konsep pendominasian alam oleh gender laki-laki.[2]

Pergerakan ekofeminis yang pertama dimulai sekitar tahun 1974 oleh sekelompok perempuan di utara India, mereka menamakan dirinya ”chipko Movement”. Mereka memprotes penebangan hutan yang dilakukan oleh kolonial Inggris. Gerakan Chipko merupakan manivestasi dari filsafat Gandhian Satyagrahas yang mencoba menyelamatkan dan melestarikan hutan tradisional atau ”forest culture”. Hutan tradisional menjadi begitu penting bagi masyarakat india karena dari dalamnya mengandung tanah, air dan oksigen[3] yang sangat diperlukan bagi keberlangsungan hidup seluruh makhluk hidup terutama sangat berkaitan erat dengan keberlangsungan hidup perempuan, mengapa? Alasan yang pertama karena sebagian besar perempuan timur dalam kehidupannya sangat bergantung pada pohon-pohonan dan hasil hutan. Tingkat ketergantungan mereka terhadap alam sangat tinggi yaitu tercatat 60 % di 32 negara di Afrika, 80% di 18 negara di Asia dan 40% di Amerika Latin dan kepulauan Karibia.[4] Ketika para laki-laki menghabiskan waktunya di ladang atau berburu, para perempuan tinggal bersama anak-anaknya di hutan, mereka mengandalkan pohon-pohonan serta hasil hutan untuk keberlangsungan hidup mereka. Pohon-pohonan dan hasil hutan tidak hanya berguna untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka tetapi dapat memenuhi hampir semua kebutuhan di ranah domestik. Yang kedua, Ada sejumlah kebiasaan, hal yang tabu dan sah dan waktu yang menghambat yang dihadapi perempuan sedang kan laki-laki tidak menghadapinya. Hal tersebut seperti perempuan dan laki-laki memiliki akses yang berbeda atas sebidang tanah. Di Tanzania, perempuan tidak memiliki hak sama sekali untuk mendiami sebidang tanah, mereka harus meminta izin kepada suami mereka atau laki-laki lain untuk mengolah sebidang tanah. Perempuan di sebagian besar negara berkembang tidak memiliki dukungan hukum untuk berpartisipasi dan ikut mengelola lingkungan lokal mereka.

”Di daerah rural (pedesaan), perempuan sebagai buruh upah yang sangat miskin-menyiangi, mengangkut air dan kayu, dan melakukan pekerjaan rumah tangganya. Mereka hidup tanpa pendidikan, status, organisasi untuk melindungi atau hak kepemilikan tanah yang dapat menjadikan mereka turut serta dalam pengontrolan lingkungan.”[5]



Yang ketiga, pendapat dari pendatang khususnya pengelola hutan dari barat mengenai ketidak beruntungan perempuan di dunia ketiga, sangat berbeda.mereka menganjurkan beberapa teknik untuk menghadapi kekurangan pohon-pohonan. Akan tetapi hal tersebut tidaklah benar sebab mereka hanyalah pendatang, perempuan-perempuan itu sendiri yang mengetahui bagaimana cara mempertahankan hidupnya dalam alam dan lingkungan yang sudah ia kenal dengan baik.[6] Sejak produksi berskala kecil yang menjadi prioritas lokal banyak dilakukan, peranan perempuan sangatlah penting untuk menyokong itu semua, namun jika kehidupan alam terancam akibat munculnya komersialisasi perambahan hutan, maka dengan demikian kehidupan perempuan akan terganggu dan implikasinya juga akan mengakibatkan punahnya perempuan secara tidak langsung

Selain berkonsentrasi pada penyelamatan hutan, ekofeminis juga peduli pada kondisi air tanah dan berbagai bencana yang berkaitan dengan itu seperti kekeringan dan banjir yang dapat merusak suatu ekosistem. Di negara-negara dunia ketiga, air sangat penting artinya bagi perempuan dan anak-anak. Di Afrika dan Asia tercatat perempuan dan anak-anak dapat menghabiskan sekitar 4-3 jam perminggu untuk mengangkut air dalam memenuhi kebutuhan keseharian keluarganya.[7] Semakin langkanya air akibat semakin berkurangnya sumber air tanah maka kerja dari perempuan dan anak-anak semakin berat.

” jumlah perempuan yang hidup di daerah rural yang menjadi akibat kelangkaan air mencapai 55% di Afrika, 32 percent di Asia, dan 45% di Amerika Latin. Walaupun air terlihat berlimpahan banyaknya di seluruh dunia, namun demikian masih ada di daerah tertentu di beberapa negara yang memiliki musim kering teramat panjang yang mengakibatkan banyak peempuan menghabiskan banyak waktu untuk mengangkut dan mengumpulkan air.”[8]



Kualitas air yang semakin menurun akibat polusi air oleh limbah pabrik atau zat kimia juga menjadi masalah tersendiri. Menurut Joni Seager, sekitar setengah populasi dunia ketiga tanpa air yang tidak sehat.Terdapat sekitar 250 juta kasus dari air yang menyebabkan penyakit, menyebabkan 10 juta orang meninggal, dan hal ini dapat terjadi setiap tahun.[9] Air yang terkontaminasi menjadi masalah yang cukup rumit terutama bagi perempuan yang miskin yang terpaksa harus memasak dari air yang terkontaminasi tersebut. Akibatnya, dirinya dan keluarganya terjangkit beberapa penyakit, hewan-hewan, ternak tidak dapat hidup, tanaman tidak dapat subur. Situasi tersebut menyebabkan semakin banyaknya perempuan atau anak-anak yang sakit lalu meninggal ataupun jika mereka hidup, mereka hidup dengan berbagai penyakit. Akibatnya fungsi reproduksi akan semakin berkurang dan pada akhirnya akan menyebabkan menurunnnya jumlah populasi manusia di daerah ini.

Permasalahan lainnya yang mengancam kehidupan perempuan, adalah kekeringan atau kebanjiran. Kekeringan dan banjir merupakan bencana alam (natural disaster) yang dapat terjadi secara alami ataupun merupakan dampak atas kerusakan alam oleh manusia. Seperti kekeringan diakibatkan tidak adanya cadangan air tanah atau pemerintah yang tidak membuat bendungan sebagai sarana untuk menapung air hujan agar dapat dimanfaatkan pada musim kemarau. Banjir dapat disebabakan karena penebangan hutan secara liar yang mengakibatkan semakin berkurangnya tanaman yang berfungsi untuk menyerap air dan menyimpannya dalam waktu tertentu. Dampak dari dua jenis bencana ini sangat fatal yaitu dapat merusak ekosistem dan dapat memusnahkan seluruh makhluk hidup, tak terkecuali manusia terutama masyarakat yang miskin yang sebagian besarnya adalah perempuan dan anak-anak. Hal demikian dapat terjadi karena sebagian besar perempuan tdi dunia ketiga menjadi buruh dengan penghasilan sangat kecil bahkan sebagian besar diantaranya tidak memiliki penghasilan sama sekali, hidupnya digantungkan pada suami dan alam. Oleh karena itu tidak heran bahwa telah terjadi fenomena yaitu 80%-90% keluarga miskin di dunia merupakan keluarga yang dikepalai oleh perempuan.[10] Terjadinya fenomena yang demikian disebabkan karena sulitnya perempuan memiliki akses ekonomi yang lebih luas, jika alam saja yang akrab oleh keseharian perempuan di kelola dan diatur oleh laki-laki hingga menimbulkan berbagai bencana alam, apalagi ranah publik yang semuanya di dominasi oleh laki-laki ?

Perempuan tidak hanya mendapat dampak dari bencana alam, kerusakan hutan atau polusi air saja, tetapi penderitaan perempuan khususnya perempuan di dunia ketiga terus berlangsung terutama para perempuan yang mempunyai mata pencaharian sebagai petani baik petani ladang maupun petani di sawah.

” Pada kenyataannya, petani perempuan jam bekerja lebih lama, mempunyai lebih sedikit aset dan upah yang lebih rendah daripada petani laki-laki, dan mempunyai ketergantungan yang paling tinggi. sebagian besar mereka tidak memiliki pendidikan dan kompetensi yang cukup. Petani perempuan sangat miskin sebab akses untuk memperoleh kredit usaha sangat terbatas. Tanpa adanya kredit perempuan tidak dapat membeli ternak, pupuk atau bibit untuk meningkatkan produksi.”[11]



Petani perempuan bekerja lebih keras dalam hidupnya disamping ia harus mengatasi persoalan pekerjaannya di sawah atau diladang, bebannya semakin bertambah karena ia tidak dapat terlepas dari pekerjaan domestiknya. Terkadang para terkadang para perempuan melakukan keduanya tanpa upah sama sekali karena beberapa masyarakat menganggapnya bahwa kedua hal tersebut merupakan suatu kewajiban perempuan sebagai yang bertanggungjawab dalam rumah tangga.

Masalah yang terakhir yang harus dihadapi perempuan di dunia ketiga adalah masalah sampah. Sampah merupakan bagian yang tak terhindarkan dalam kehidupan, semakin besar konsumsi masyarakat maka semakin banyak pula sampah yang dihasilkan. Di beberapa negara maju, sampah diolah sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan bagi suatu ekosistem, namun di negara-negara dunia ketiga sampah menjadi masalah yang sangat rumit hingga masalah sampah tidak terselesaikan akibatnya sampah semakin menumpuk dan menjadi racun . Dalam hal ini sebenarnya perempuan mempunyai peranan penting untuk menanggulangi permasalahan sampah ini. Sebagian besar sampah tersebut di produksi dari kegiatan rumahtangga seperti sampah sisa konsumsi, sampah pembungkus makanan, dll. Perempuan dapat membantu menaggulangi ini dengan membantu memilah-milah sampah kering dan sampah basah, untuk di daur ulang. Akan tetapi hal ini tidak akan terjadi tanpa adanya dukungan dari pemerintah. Di negara-negara dunia ketiga yang sebagaian besar memiliki masalah sampah, pemerintahnya tidak mempunyai kebijakan yang jelas mengenai sampah.

” tercatat 26 juta penduduk di Afrika, 8 juta penduduk di kepulauan Hispanic Amerika dan setengah dari populasi penduduk di kepulauan Asia Pasifik hidup dalam komunitas yang tidak mempunyai pengaturan terhadap sampah.”[12]



Akibatnya penduduknya hidup dengan sampah. Yang paling menderita dari ini semua adalah penduduk miskin yang tinggal di pemukiman dekat pembuangan sampah. Sebagian besar diantara penduduk yang miskin tersebut adalah perempuan dan anak-anak dan yang paling mendapatkan dampak dari sampah tersebut seperti penyaki pes, diari, dll adalah perempuan dan anak-anak karena merekalah yang paling banyak menghabiskan waktunya di daerah tersebut



KESIMPULAN

Alam sangat erat kaitannya terhadap kehidupan perempuan. Rusaknya alam menyebabkan peluang terhadap perempuan untuk melanjutkan kehidupannya semakin berkurang. Hal tersebut berkaitan dengan fungsi reproduksi perempuan yang dikaitkan dengan fungsi produksinya untuk mempertahankan hidup. Dengan demikian perempuan memegang kunci yang paling utama dalam siklus kehidupan. Oleh karena itu penyelamatan terhadap alam dan lingkungan menjadi teramat penting karena secara tidak langsung dapat menyelamatkan kehidupan keseluruhan. Peranan penyelamatan ini penting dilakukan oleh perempuan itu sendiri karena merekalah yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi diri mereka. Namun disamping itu semua, peranan negara juga teramat penting dalam menciptakan kebijakan-kebijakan untuk mendorong aktivitas penyelamatan alam dan lingkungan.


***

-Indah Survyana-
Depok, 2006


--------------------------------------------------------------------------------

[1] Nature is Feminist Isu. Hal.1

[2] ibid hal.2

[3] ibid hal.3





[4] Nature is Feminist Isu. Hal.4

[5] ibid hal.5

[6] ibid hal 5





[7] Nature is Feminist Isu. Hal.7

[8] ibid hal.7

[9] Ibid hal.7



[10] Nature is Feminist Isu. Hal. 9

[11] ibid hal.10



[12] Nature is Feminist Isu. Hal. 13

THE FAILED OF REFORMATION

INTRODUCTION

A. Background of studies

Reformation a days has become a common word in politics in this country now. The supporter of reformation in politics and economics extend not only student movements and intellectual criticisms but also government. It was begun from House of Representation, Military, and all people who live in Indonesia. The purpose of government or House of Representation in supporting the reformation is not clear. They just follow the trend to safe they profession. They just want get profit from this tragedy or they really want
Indonesiato change to be better.
The reformation period, as one of history phenomenon that replaces Orde Baru. Orde Baru has made Indonesians suffer as long as 32 years with all the policies from The King who hold the authority. Reformation has hold important part in replacing Orde baru.

The reformation period has run as long as 5 years but Indonesia still does not change. There are progresses in some aspects in Indonesians life, like democratization, open mind, or freedom to speak your mind but it is not enough to make Indonesia becomes stabile in economics or politics like before. All people knew that Soeharto has left debt about 100 trillion rupias and because of that we can see the effect from that. Now Indonesian is controlled by organization that has lent us the money. They are IMF, World Bank, etc.

As long as the formation period, Indonesia has changed the president for three times. Every president owns “unique” story when he/she holds the authority. First example is Habibie. He was third the president after Soeharto. In his authority period, he succeeds in selling Timor-Timor. Let’s forget about his background, whether he came from economic community that all things are counted by money or whether he came from military that all things are expected by winning or losing. However, he succeeds making new Indonesia history. He made Indonesia lost one of its “children”. The readers maybe knew that to have Timor-Timor in the past we needed sacrifice and not few people had killed. The fourth president after Habibie is KH. Abdulrahman Wahid or usually we called him Gusdur. In his authority period, he spent it with going around the world. The purpose of why he did it is not clear. He did it to get support from other countries or to get support that related to him self and his authority, but one thing that the readers have to know that the vocation is not free. He used exchequer for his vocation. The fifth president of Indonesia is Megawati Soekarno Putri. She is Soekarno’s daughter and she inherits Soekarno’s talent in speech. Her mistake in her authority period is that she sold some major state’s asset like Indosat Pertamina (only half of share) and now she will sell PLN and Telkom share. She does not know that Indosat and Telkom are important because they are relating with information. If foreigners have taken information that easily, our country can be controlled. Information can be used as tools to make propaganda and it creates war, crime, and other negative things will be happened


THEORY

In this chapter, we talk about the things that in connected with Reformation. The things like Politic, Democracy, Authority and Reformation it self. Politic is The art of living together, despite differences (Seery,John Evan. 1990. 340) Politic is so connected with all revolution and all change it’s include Orde Baru fall, Reformation period, student and people movement, etc.
Politic reformation period realized because of democracy in Indonesia is disappearing. Now, let’s talk about Democracy Definition. In much-quoted statement, Abraham Lincoln described democracy as government of the people, by the people and for the people. The statement is good, thought it is not as sharp as it might be in distinguishing democracy from other forms of government. All governments are “of the people” in the sense that they rule over people, all governments have people as their subjects. Most or all governments claim to be “for the people “ in the sense that they serve the interest of the people, if not their desires.
Lincoln’s control phrase is thus the key one: Democratic government is government “by the people” democracy provides for self-government (Dyke, Vernon Van. 1992. 9)


The criteria and ideal standard to value democracy process is:

1. Enlightened understanding

Democracy as government by people, it means People can get all things that they want to have, They want to do and what they see that is better for them. However people must be enlightened and must be educated in order to decided what they want. Government must give people freedom like Freedom to talking and writing, Freedom to expression and freedom to speak their mind.

2. Effective Participation

There are two steps to taking over decision. The first is appointment plan and appointment result. Before go to final decision in democracy nation, People must active in appointment policy, influence and decide the result process.

3. Controlling in planing decision.

People must have exclusive opportunity to decide steps and priority in that planning. People hold ended word or the last control in everything policy.

4. Equality in taking over decision.

a. Everybody have equality in taking over. Individual as Autonomous agent who has ability in rational thinking to developing them self.

b. There are choices to be chosen

5. Economic development must be done with democratization because of possessor production factor must be done with fair and spread. Nation holds authority in authorizing the important branches of the Nation that influence to Indonesian life in order to losing monopolist. (Panggabean, Samsu Rizal. 1996. 3 - 7)

Power is a relationship in which one person or groups are able to determine the action of another in direction of the farmer is own ends (Laswell and Kapian. Op.cit. 74) It is thread of sanctions which differentiates power from influence in general. Power is a special case of exercise of influence: It is the process affecting policies of others with help of actual or threatened severe deprivation on non- – comfornity with the policies intended (Lasswell and kaplan. Op.Cit. 76)

Reformation period is also called resurrection democracy period. President B.J Habibie on August 15th 1999 said that reformation is correction that institutional and continuously in all deviations in economics, politics, and laws, in order to Indonesian get up again in open situation and democracy situation. (Budiyanto.2000. 165)

ANALYSIS

A. The Reformation Background
Reformation now becomes a common word that the most people said and write. That word actually has simple meaning but now it keeps complex problem and contains the biggest energy to change nation destiny to be better (Maruto and Arwani. 2002.vii). Reformation appears because of the long crisis. Start from monetary crisis and it becomes expansion. That crisis because of system that is made by Orde Baru government but in the end, Orde Baru Authority can not hold on and fall in the middle of 1998.

Orde Baru has been able to stand up for so long because it has ability in organizing it self and in public controlling (Wahid, salahudin. 2003. 2). The system that has been created by Orde Baru has been growing and become public culture in Indonesian. Most system has been created to make easy government and people to do Corruption, Collusion and Nepotism (CCN). One of reformation aimS is to make CCN disappear from our government political system. However, it is not easy because it has become a culture in Indonesia. It impossible to make CCN disappeared only in short time but since reformation begun it can decrease. CCN can disturb reformation process.

Orde Baru produces the big disparity in economy, politic, social and culture. Disparity between the authorize and unauthorized. The difference expansion between element nation, and ethnic (SARA).
Because of that situation, reformation movement has larger room to fought and appeared.

B. The Obstacles Democratization Process in Indonesia

The Indonesian now look up upon many difficult choices in coordinating and running the strategic direction to bring up people’s life in all aspects in their life. One of the progress that can be decreased the totality of broken is changed in politic. In politic, Indonesian has succeed in doing some corrections that are very useful.

Politic process that happened for 2 years since 1998 to 1999 has made democratic in Indonesia growing up and standing up far enough. We can see the progress like the change House of Representation structure, freedom in press, freedom to speak their mind and correction in general election system. That means democratization process in
Indonesia has run far enough from 1998 to 1999. People can see and feel some effects from democracy in Indonesia in of nation or out nation. Although some corrections have happened, one question should be answered. The question is, did Indonesia have done the real democratization? To answer that question we can look democratization problem in Indonesia

Democratization problem in Indonesia is:
1. Democracy in Indonesia is not widely spread, democracy appears only in big cities and some area. We can see the observation from laboratory political science in University of Indonesia cooperate with Ohio State said that more than 86% elector does not know who is their representation to sit down in house of representation. Democracy becomes sustainable only in some area and some element in this nation that means that democracy in Indonesia so far from sustainable.

2. Many people use Democracy to do anything to get profit, to conquer their rival in competition and conflict. Even at the same moment, some democracy elements appear decline to some other elements like crime and anarchism.

3. The fall of Orde Baru and economic crisis that have been caused unstabile politic since 1998 to 1999 that cause acceleration of democracy in Indonesia. That means democracy since 1998 to 1999 is not happen because people have full knowledge about democracy but it is “compulsory democracy”. With that condition like that we can see after 1999 democracy decline and even come the anti democracy element.

C. The Obstacles of Reformation that Cause the Failed of Reformation

Reformation that has happened in Indonesia is not following reformation concept and principles. Reformation in
Indonesia is:

1. Reformation in Indonesiais not able to discriminate between old bad value and new value that can change old bad value to be better. Other means that reformation in Indonesia does not have clear concept.

2. Reformation in

Indonesia

is not able to identify what system that must be changed and tred to make alternative system. New System usually is old system that is packed by new way without clear alternative.


3. Reformation in

Indonesia

not changes old behavior and old mind set with new behavior and new mind set. “Old people” with old behavior and old mind set exist more because they are very smart in put theim self as “servant” and “the king”


4. Reformation in

Indonesia

is not able to separate between old power and new power. Because of that there are not clear rules to punish them and we can not “wash” all the old power


5. Reformation in

Indonesia

is walking on the power share and power shift and is not walking on the power change. This is proved that fact after conflict is general election (PEMILU) and not reconciliation and clearing


6. Reformation is not lead by reformation and revolution leader who the leaders really want to do systematic correction and in the right reformation ideology. Most of leader is people who want to get authority. They are marginal group in old authority system and not opposition group.



By that, social change means that reformation that is happened in

Indonesia

is pseudo reformation. Reformation like that can not fulfil reformation aim that has systematic in makes disappear CCN (KKN), politic and economic democratization and stand up the rules.


All dynamic and social problems now can read in some context in the failed of reformation get all aim and targets. Salahudin Wahid in

Indonesia

conference student in Balai sidang BNI University of Indonesia said that the important things that causes of failure of reformation is:


1. Social distrust



Social distrust is general phenomenon, which we can see easily in non-formal or formal situation. This social distrust can be categorized in three kinds:






a. The leader distrust



The cause of leader distrust are:



- Objective causes



The crisis of leadership in every level in local or national. The new CCN (KKN), economic and political crisis that makes people distrust to government



- Subject causes



Indonesian misses the strong leader like in Orde baru this is like anomaly in the unpredictable situation, people misses old way that give them save.



b. Distrust to system



This distrust because of the failed of old system that give certain in arrangement in nation life.



c. Distrust to fellow man



This distrust comes from the marginalisasi people process since Orde baru. People always be object by the authorize in Orde baru. The opportunity that had been given a number of people makes the distrust fellow man.



2. Social Violence



Radical effect from social distrust is violence in social community. Most of people like right action by violence when they feel disturbed or have a problem. That causes people become distrust system.









3. Instability politic



Another effect from social distrust in elite politic level is character assassination culture between politician. Character assassination is the most donator instability in politic that is included political life today. Instability comes from unclear all rules and priority their self and their group.



4. The economy crisis



Until now, the rehabilitation of economic nation so far from people hopes. The economy growth is so difficult to predicted and more consumption that production or invitation in this nation. Pure people are the major sacrifice from economy crisis and the fact of this is there are more unemployment in

Indonesia

today.


5. The disintegration Threat



a. Social disintegration



Disintegration causes from unfair from criminal cases to humanism in the past.



b. National disintegration



National disintegration is the separated nation that is caused the difference between center and town as ten years and until now, we can not found the solution.









CONCLUSION AND SUGGESTION







CONCLUSION

Reformation in

Indonesia

starts since Orde Baru authority fall that has authorized as long as 32 years. Until today reformation run about 5 years, but it is not produce real things, the great things and it so far from Indonesian’s hope. Some President after Orde Baru fall is not producing the rational leaders but dictator leaders. Dictator leaders or bad condition now is better than Orde Baru


Many scandals have been done to defend their authority. From the out side,

Indonesia

is seen stabile than in transition period but it is not true the fact say that it is not full stabile but just “like stabile”. Political Party as formal institution is not useful like democracy symbol. They are not hear people’s hope, they are only to get authority and than they get opportunity to do Corruption, Collusion and Nepotism. Situation in
Indonesia

become worst, to corrects all, that is needed cooperate and union from people and government. Beside it, That is needed control to government in order to government still in the reformation right way. Today, reformation has failed but reformation does not die. It is time to wake up from the fault to the New Indonesia.





SUGGESTION

The failed of reformation is caused by social problems that we knew in Part three. The social problems are so complex and need long time change it all. Proof, Dr, Nurcholis Madjid said that process to democracy is like to climb sky-scraper building from first floor to the last floor without lift. It means that to go to Democracy Nation needs more energy, more times, more power and more concentration. The major thing is Reformation is not realized without democracy. Democracy and reformation is not realized if the process to go them is run by violence, because of that consolidation democracy process must be run by peace way without violence.



Social problems like social distrust, social violence, instability politic, the economy crisis and the disintegration threat can be solved by this ways:



1. Social Distrust



Social distrust can be solved by education is based by multicultural that enable Indonesian to understand the meaning of difference and it must socialize since early. Justice in law to all people is needed to decrease social distrust.



2. Social Violence



Social distrust factor and fault in conflict solution cause social violence. The long-term solution is, it must be given love and peace feeling in daily life. The short term solution, social distrust can be prevented if all institution formal and non formal can do cooperate together and do educative in socialize the important of obey to the law.



3. Instability Politic



Ineffective elite political and government work cause instability politic. This is can solved by perfecting political system and do that system with consistent. Government must wind with people in decide policy process in order to democracy in

Indonesia

can be realized.


4. Economy crisis



Today is too difficult to recovery economy because all natural sources are just authorized with some people, if they are failed so economy will be paralytic. The solution for this problem is, government must decrease centralization and try to create the real otonomy for each province. In short term government must increase economy development to invite foreign investor to invest their money and government must decrease complex law in export and import commodity in order to get many devisa to our country.



5. Disintegration Threat



National disintegration is the separated nation that is caused the big difference between center and town. In Orde Baru is happened centralization so only big city and the capital of nation that become progress. In reformation period, autonomy must be increase in order to spread everywhere will realize.







Depok 2002,


Indah Survyana

REVOLUSI PENDIDIKAN INDONESIA

Kita tidak bisa memiliki pendidikan tanpa Revolusi, Kita telah mencoba Pendidikan Damai selama seribu sembilan ratus tahun. Mari kita coba revolusi dan kita lihat apa yang dapat dilakukan sekarang !!!
- Hellen Keller -


Memasuki tahun ajaran baru, senyuman bahagia nampak dari wajah-wajah polos tunas-tunas bangsa terutama bagi mereka yang telah diterima di sekolah atau PTN favorit di kotanya atau bahkan di Indonesia. Jerih payah masalalu sudah terlupakan dan menjadi kenangan manis untuk merangkai cita dan impian di masa depan. Kebahagiaan terdalam juga dirasakan oleh orangtua siswa/siswi, melihat buah hatinya dapat memperoleh kesempatan untuk mengenyam pendidikan di sekolah negeri /PTN favorit di
Indonesia. Namun kebahagiaan itu harus bertekuk letut pada realitas yang ada. Krisis moneter 1998 yang lalu masih menyisakan permasalahan yang terus menghantui dunia pendidikan diIndonesia.

Garis liner yang dijejalkan kaum kapitalis bahwa Pendidikan erat dengan kualitas dan kualitas identitik dengan kata mahal masih menjadi opini yang dimaklumi dimasyarakat, belum lagi masalah kurikulum dimasuki kepentingan politik dan kekuasaan, sistem pendidikan yang tidak jelas falsafah, tujuan, sistem, metodologinya dan menejemen pendidikan yang tidak ditangani dengan professional, semua itu menambah suramnya dunia pendidikan di Indonesia. Proses berbanding lurus dengan hasil. Jika prosesnya buruk, jangan pernah berharap mendapatkan hasil yang baik kecuali mengharap datangnya mukzizat dari Tuhan. Hasil dari pola pendidikan semerawut khas gaya Indonesia hanya mampu menghasilkan generasi ‘kacung’ dengan daya kualitas SDM yang semakin turun, daya saing yang rendah dan mentalitas yang lemah. Refleksi dari ini semua adalah sebuah bentuk keprihatinan yang mendalam bagi dunia pendidikan di Indonesia.

Menilik sejarah pendidikan Indonesia, sejak zaman sejarah hingga saat ini ternyata pola “sejarah selalu berputar” kian nyata dan realitasnya dapat dilihat saat ini. Pada masa raja-raja berkuasa, hanya calon raja-raja dan bangsawan yang berhak mengenyam pendidikan untuk bekal mereka dalam memerintah negeri. Pendidikan menjadi sesuatu yang sangat berharga pada masa itu meskipun pendidikan yang dimasud hanya berorientasi untuk meningkatkan kekuatan fisik dan pengelolaan administrasi negara dalam ruang lingkup yang masih sangat sederhana. Hal ini terulang kembali pada masa penjajahan. Pada masa Belanda berkuasa di Indonesia Kelas social di bagi tiga yaitu Kelas bangsa Asing-Eropa, Kelas Bangsa Asia-Timur tengah dan yang menempati kelas terbawah adalah bangsa Pribumi Hindia Belanda. Hanya anak-anak Asing-Eropa dan bangsawan yang dapat menikmati pendidikan sedangkan rakyat jelata harus menerima takdir sebagai kaum yang lemah, tertindas dan tak berpendidikan. Kesadaran bahwa Pendidikan dapat memajukan suatu bangsa mulai dirasakan R.A Kartini dan teman teman sejawatnya. Secara intuitif beliau menyadari bahwa bangsa yang mandiri dapat terbentuk jika Ilmu pengetahuan dapat dikuasai. Atas dasar itulah beliau dengan dorongan dari saudari-saudarinya mendirikan sekolah gadis yang khusus diperuntukkukan untuk perempuan yang pada masa itu sangat dibedakan haknya daripada pria. Kartini tidak hanya sebagai sosok feminist yang membela hak perempuan tetapi lebih dari itu beliau sebagai orang pertama yang menyadari pentingnya pendidikan untuk mencapai kemerdekaan seutuhnya. Jejak beliau diteruskan oleh Suryadi Suryaningrat atau kihajar Dewantara dan Dowes Dekker. Dengan membuka sekolah umum bagi rakyat jelata berharap pendidikan dapat membuka cakrawala berfikir dalam bertindak dan bertingkahlaku. Kesadaran untuk merdeka seutuhnya dan ketidak inginan tertindas oleh bangsa lain serta kesadaran politik yang tinggi perlahan akan timbul dalam suatu bangsa yang terus menerus meningkatkan pendidikannya. Hasilnya muncul manusia-manusia yang kelak dapat membangun sebuah gerakan nasional untuk mencapai kemerdekaan
Indonesia.

Sejarah masa lampau Indonesia telah membuktikan kontribusi pendidikan dalam mencapai kemerdekaan. Yah….memang pendidikan seharusnya seperti matahari yang menyinari bumi, menghangatkan jiwa-jiwa kosong tak berarti menjadi jati diri yang kuat dan mandiri. Tapi yang sesungguhnya terjadi di tanah air kini, sebuah wajah pendidikan yang dilukiskan dalam penampakan yang suram, terselebung kepentingan & keegoisan dan terkandung keserakahan serta Pemerasan. Cita-cita untuk ‘tinggal landas’ pada 2010 nampaknya pupus sudah menjadi ‘tinggal di landasan’ mengingat SDM yang semakin turun kualitasnya bahkan menurut IMD (2000) Indonesia memasuki peringkat ke 45 dari 47 negara dalam daya saing, sungguh menyedihkan!

Sejak krisis moneter yang melanda Indonesia tahun 1998 silam, program wajib belajar 9 tahun makin terlupakan ataukah sengaja dilupakan mengingat banyak sektor diluar pendidikan harus dibangun. Anggaran untuk pendidikan hanya dianggarkan 13,6 triliun atau sekitar 4 % dari anggaran APBN padahal untuk mencapai pendidikan yang murah dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia setidaknya diperlukan 20 % dari APBN untuk anggran pendidikan. Akibatnya dapat dirasakan hingga saat kini yaitu biaya pendidikan yang semakin mahal. Fakta membuktikan 42 % SD mahal, 45% pendidikan di SMP/SLTP mahal dan 51 % pendidikan di SMU tergolong mahal (kompas,Juni 2003) dan sudah pasti pendidikan tinggi jauh lebih mahal. Apakah pendidikan yang berkualitas mesti mahal? Semua yang kompleks bisa disederhanakan jika pemerintah bekerja dengan hati dan otak bukan dengan nafsu! dan anehnya trend mahal menjadi suatu pemakluman masal. Opini ini sengaja di bentuk oleh kaum kapitalis yang ingin merambah ke dunia pendidikan. Hasilnya hanya segelintir orang yang dapat mengenyam pendidikan itupun hanya berhasil mencetak generasi ‘kacung’ sedangkan sisanya menjadi kaum proletar abad 21 yang bersiap untuk ditindas zaman. Inilah pola ‘sejarah selalu berputar’. Jika hal ini terus berlanjut bersiaplah menghadapai proses pemiskinan global di Indonesia.

Pendidikan merupakan Investasi. Hal ini sudah disadari perancis setelah masa Revolusi bahwa semua warga mempunyai hak yang sama dalam pendidikan dan pendidikan ditangani langsung oleh pemerintah sehingga membuka kesempatan bagi semua warga untuk memperuleh pendidikan. Jepang dengan Restorasi Meji sesudah Perang dunia II. Setelah perang tersebut, reformasi pendidikan diterapkan dan bertujuan untuk membangun masyarakat yang demokratis, meniru sistem pendidikan Amerika Serikat. Konstitusi baru Jepang menetapkan prinsip-prinsip dan kebijakan-kebijakan dasar pendidikan untuk menjalankan reformasi ini. Contoh keberhasilan negara-negara tersebut dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan tidak terlepas dari komitmen pemerintahnya sejak awal dan terus berkelanjutan.

Kembali kita melihat kembali wajah pendidikan Indonesia saat ini. Jika ditinjau dari falsafah, tujuan hingga metodoliginya Indonesia sama sekali tidak mempunyai itu semua apalagi komitmen dari pemerintah, hasilnya pendidikan di Indonesia tidak terarah dan mudah rapuh. Tidak terarah, karena tidak mempunyai tujuan yang jelas. Realias yang selama ini berkembang di masyarakat bahwa orang mendapatkan pendidikan untuk sekolah bukan berpendidikan untuk mempertahankan hidup. Paradigma ini mendorong seorang anak terasing dari lingkungan sosialnya dan mebuat anak hanya dapat menjawab pertanyaan dengan jawaban yang sudah ditaur tidak menjadi seseorang yang kritis dan memecahkan persoalan dirinya dan masyarakatnya sesuai denagn lingkungan tempat dia berada. Mudah rapuh, Sistem pendidikan Indonesia tanpa tujuan dan falsafah dasar dapat menjadi rapuh. Mudah dimasuki pihak-pihak yang berkepentingan. Contohnya jelas terlihat dari Liberalisasi Pendidikan yang tawarkan oleh IMF. Saran ini bukan menjadi obat justru menjadi racun bagi dunia pendidikan di
Indonesia. Dengan menjadikan lembaga pendidikan sebagai lembaga otonomi menyebabkan banyaknya peluang pihak swasta untuk mengeruk keuntungan di bidang pendidikan. Hasilnya pendidikan menjadi komuditas seperti layaknya cabai atau bawang di pasar. Dalam pasar terjadi jual beli, semakin mahal maka semakin bagus kualitas barangnya dan ini terjadi di dunia pendidikan saat in. Lelang kursi PTN favorit di legalkan, jual beli gelar sudah menjadi hal biasa, uang pangkal yang semakin meningkat setiap tahunnya terus dilakukan. Melihat kacaunya dunia pendidikan di
Indonesia

lantas kita bertanya, di mana peran Departemen Pendidikan Nasional yang konon katanya sebuah lembaga yang mengatur pendidikan di
Indonesia? Dimana pula komitmen pemerintah untuk mengatur ini semua?. Sesuai denagan pasal 31 UUD bahwa kewajiban pemerintah untuk membiayai pendidikan dasar bagi setiap warga dan pasal 31(2) bahwa pemerintah dan DPR memprioritaskan anggaran pendidikan minimal 20 %. Maka pemerintah melalui kebijakannya bertanggung jawab atas ini semua!

Hanya ada dua kata “Revolusi Pendidikan”. Revolusi ini dilaksanakan oleh objek dan subjek pelaku pendidikan. Momen pemilihan presiden RI saat ini sangat tepat untuk menyodorkan ide Revolusi Pendidikan. Hendaknya dibuat Lokakarya Nasional yang melibatkan perwakilan tokoh pendidikan, pelaku pendidikan dan penikmat pendidikan dari seluruh wilayah Indonesia

dengan tema besar yaitu “Revolusi Pendidikan”. Tujuan dari lokakarya nasional ini jelas untuk menjawab segala persoalan di bidang pendidikan yang hingga kini masih menjadi masalah yang belum terselesaikan. Masalah tersebut berkisar pada dasar, tujuan metodologi,sistem, kurikulum samapai pembiayaan pendidikan dari tingkat pusat hingga daerah terpencil. Hasil keputusan Lokakarya ini disodorkan sebagai rekomendasi untuk dijalankan oleh pemerintahan yang baru.


Ilmu pengetahuan menentukan peradaban suatu bangsa. Kemajuan Ilmu Pengeathuan ditentukan proses berjalannya pendidikan. Dan Pendidikan yang murah, meata dan Berkeadilan bagi seluruh Rakyat adalah jawabannya

Depok, 2004

Indah Survyana

Wednesday, August 6, 2008

Membuka Kerangka Dongeng Cinderella (2)

MITOS KECANTIKAN DALAM KERANGKA DONGENG CINDERELLA

"Alkisah, disebuah negeri antah berantah hiduplah seoang gadis yang cantik jelita namun dia menderita hidupnya akibat ulah ibu tiri dan saudara-saudara tirinya. Dia menjadi pelayan bagi Ibu tiri dan kedua saudara tirinya. Suatu ketika pangeran mengumumkan akan mengadakan pesta dansa 3 hari 3 malam untuk mencari Isteri. Para gadis di desa itu sibuk mempersiapkan diri dengan mempercantik diri mereka, membeli gaun yang indah untuk pergi ke pesta dansa itu. Tak terkecuali kedua saudara tiri Cinderella. Harapan para gadis-gadis itu hanya satu, menjadi yang tercantik, dapat memikat hati sang pangeran, dan selanjutnya dapat menjadi isteri pangeran, dan dapat hidup sampai akhir hayat dengan bergelimang kemewahan dan kekayaan...."

Cuplikan resensi Film diatas diambil dari film yang berjudul Cinderella Story. Selain melalui film Cinderella, kisah Cinderella dituangkan dalam berbegai bentuk mulai dari kartun, buku bacaan anak hingga mainan untuk anak-anak. Tak heran bila kisah ini terus melekat di hati para anak-anak khususnya anak perempuan. Tetapi tanpa kita sadari penciptaan dari dongeng-dongeng Putri dan Raja atau dongeng-dongeng kepahlawanan seperti ini mempunyai misi tersembunyi dibalik penciptaannya. Saya akan mengambil kisah Cinderella sebagai contoh untuk menjelaskan misi tersembunyi tersebut melalui perspektif feminis.

Yang menarik untuk dibicarakan disini dimana para gadis bersusah payah mempercantik diri mereka hanya untuk pergi ke pesta istana. Mengapa? Karena mereka ingin mengikat hati pangeran. Lalu apa? Selanjutnya dapat menjadi isteri pangeran, dan dapat hidup sampai akhir hayat dengan bergelimang kemewahan dan kekayaan.
Dongeng-dongeng semacam ini sengaja diciptakan sebagai penegasan bahwa perempuan adalah 1).Makhluk inferior yang tidak bisa hidup tanpa mengandalkan penampakan fisik mereka. 2). Makhluk lemah, tidak dapat hidup mandiri, dan selalu berada di bawah kekuasaan laki-laki. 3). Makhluk yang tidak mempunyai pilihan dan selalu menjadi objek.

Dalam budaya patriarkhal, seorang perempuan dikatakan bernilai hanya dilihat dari segi fisik sepertti kecantikan, keanggunan, kesucian, menguasai pekerjaan domestik, dsb. Hal tersebut menjadi syarat mutlak bagi seorang perempuan untuk meningkatkan status sosialnya di masyarakat. Perempuan yang memiliki syarat-syarat ini diharapkan dapat memikat pria-pria dan kemudian keinginan mereka tercapai. Namun tanpa disadari mereka telah memasuki ‘Penjara Kaca', terkungkung oleh suatu dominasi dan kekuasaan laki-laki.

Ironisnya, dongeng-dongeng seperti ini di wariskan dari generasi ke generasi, tidak hanya cerita dan tokohnya saja tetapi juga nilai-nilai namun tanpa disadari bahwa nilai moral seperti itu merupakan strategi untuk mempermudah penyebaran misi mitos kecantikan dan mengukuhkan ideologi patriarkhal. Mitos kecantikan merupakan upaya masyarakat patriarkhal (patriarcal society) untuk mengendalikan perempuan melalui kecantikannya.[1] Mitos Kecantikan adalah anak emas yang dibanggakan bagi masyarakat patriarkhal. Mitos kecantikan ini dikonstruksikan ke dalam norma dan nilai sosial budaya sehingga apa dikatakan mitos kecantikan ini menjadi kebenaran yang absolut.

Kate millet dalam bukunya Sexual Politics berpendapat sebagai berikut :
"Ideologi patriarkhal melebih-lebihkan perbedaan biologis antara laki-laki akan selalu dominan dan perempuan akan selalu mendapatkan peranan yang lebih rendah. Ideologi ini sangat berkuasa sehingga sekilas terlihat perempuan menerima penindasan yang dilaminya. Mereka melakukan ini melalui institusi-institusi seperti di akademis, gereja, keluarga yang menjustifikasi dan menguatkan subordinasi terhadap perempuan sehingga membuat perempuan secara internal merasa inferior terhadap laki-laki."[2]

Dalam mitos kecantikan, perempuan dikendalikan oleh suatu doktrin kecantikan. Doktrin kecantikan ini meliputi pengendalian tubuh dan seksualitas perempuan. Mitos kecantikan merupakan kombinasi dari jarak emosional, represi politik, ekonomi dan seksual namun sesungguhnya akar permasalahan ini dominasi tubuh dan seksualitas perempuan oleh laki-laki. Ketika dominasi ini muncul ke permukaan maka tidak dapat terlepas dari hubungan kekuasaan laki-laki yang mengatasi seksualitas dan tubuh perempuan. Feminis Radikal menyebut ini dengan istilah the person is political (yang pribadi adalah politis) atau Kate Millet sebagai seorang feminis radikal menegaskan sexual is politics. Hasil dari mitos ini berupa definisi mengenai dua jenis perempuan.

Perempuan yang baik-baik merupakan perempuan yang patuh terhadap norma dan nilai-nilai budaya. Sedangkan perempuan yang dikatakan tidak baik merupakan perempuan yang tidak patuh terhadap norma dan nilai-nilai budaya. Norma dan nilai-nilai budaya yang dimaksud disini tentu saja bersumber dari Ideologi Patriarkhal.

Mitos Kecantikan dan Tubuh Perempuan

Dalam masyarakat patriarkhal, penampakan fisik perempuan yang didoktrin mitos kecantikan ini menjadi standar ideal untuk memberi nilai seorang perempuan. Mitos ini mengajarkan bagaimana cara berpakaian yang baik, bertingkah laku yang baik, bagaimana memperlakukan tubuh dengan baik. Semua itu mereka sebut dengan moral. Dengan bertingkah laku yang baik, berpenampilan sesuai norma dan nilai, perempuan dapat menjaga moral seluruh umat manusia. Hadirnya mitos berkedok moral ini justru menimbulkan konflik moral. Konflik moral terjadi akibat persaingan vertical antar perempuan dalam menunjukkan kecantikan yang mereka miliki. Tujuannya hanya satu, mendapatkan penghargaan dari masyarakat patriarkhal.

Hal ini digambarkan sempurna dalam dongeng Cinderella ini. "Para perempuan di seluruh negeri berdandan secantik mungkin, memakai gaun yang terbaik, memakai sepatu yang terbaik, memakai perhiasan yang mahal. Para ibu sibuk mempercantik putri mereka. Semua ingin berdansa dengan pangeran. Semua ingin mendapatkan perhatian pangeran. Semua ingin menjadi istri Sang Pangeran."

Cinderella pun ditampilkan sebagai sosok yang ideal. Cantik, bertubuh langsing, memakai gaun indah, memakai sepatu kaca, dan membawa kereta kencana yang sangat mewah. Citra ideal tersebut merupakan fantasi laki-laki. Citra ideal tersebut menjadi panduan perempuan dan impian perempuan yang sesungguhnya adalah sebuah mimpi yang tidak pernah tercapai. Akan tetapi, mengapa fantasi ini terus diwariskan dari generasi ke generasi? Tentu saja karena ini berguna untuk mengendalikan perempuan. Pada akhirnya perempuan lebih menyibukkan diri untuk mempercantik dirinya yang sudah cantik namun demikian tetaplah kaum laki-laki yang menjadi juri kontes kecantikan ini. Laki-laki tidak akan pernah terpuaskan sedangkan perempuan akan terus berusaha untuk menjadi sempurna menuruti fantasi laki-laki. Ini semakin menenggelamkan perempuan dalam inferioritasnya dan menjauhkan perempuan atas dirinya sendiri. Bayangkan saja perempuan tidak berhak menilai tubuhnya, apa yang terbaik bagi tubuhnya, apa yang dia inginkan untuk tubuhnya, semua digantungkan pada penilaian laki-laki, hal tersebut membuat perempuan terasa asing oleh tubuh dan dirinya sendiri.

Konflik moral akibat mitos kecantikan ini juga menimbulkan stress di bawah sadar perempuan. Hasilnya adalah perempuan melakukan kekerasan dan penindasan pada kaumnya sendiri. Kita dapat melihat kembali penggambaran ini dalam dongeng cinderella : "Ibu tiri dan kedua kakak tiri cinderella tidak menyukai ciderella karena Cinderella sangat cantik, lembah lembut dan baik hati. Mereka iri terhadap cinderella. Mereka memperlakukan Cinderella seperti pembantu dan memberikan pakaian kumal kepada Cinderella"

Masyarakat patriarkhal tidak mereduksi konflik moral ini tetapi justru menampilkannya ke publik dan menjadikan hal tersebut menjadi pengetahuan umum ( publik knowledge ) dan lagi-lagi pengetahuan umum ini menjadi bagian dari doktrin yang mengakar kuat yang semakin menimbulkan kebencian terhadap perempuan. Tampilan dari hal tersebut antara lain menjelaskan bahwa perempuan adalah makluk yang mengerikan, mempunyai sifat dengki dan iri hati, emosional, terlalu berperasaan dan mementingkan hal-hal yang remeh seperti bersaing untuk menjadi yang tercantik, sibuk mempercantik dirinya dan terlalu mengagung-agungkan pesona fisik dibandingkan intelektualitas.
Bagian lain yang menarik untuk di kritisi yaitu pada saat Pangeran mencari Cinderella. "Pangeran mencari Cinderella ke seluruh negeri. Suatu ketika pangeran menemukan sebuah rumah dimana terdapat tiga orang perempuan. Ketiga perempuan adalah Ibu tiri dan kedua saudara tiri Cinderella. Pangeran ingin mengetahui apakah dari ketiga perempuan itu salah satunya adalah Cinderella. Kemudian pangeran memasangkan satu pasang sepatu kaca secara bergiliran kepada Ibu tiri dan saudara tiri Cinderella. Akan tetapi kaki ketiganya tidak ada yang pas dengan sepatu kaca itu. Kemudian pangeran yang tampak putus asa dan dia bertanya kepada Ibu tiri apakah ada seorang perempuan lagi di rumah ini. Ibu tiri menjawab bahwa tidak ada orang perempuan lagi di rumahnya selain dirinya dan kedua anaknya. Namun kemudian terdengar bunyi sesuatu terjatuh. Pangeran terkejut dan mencari arah suara itu. Pangeran menemukan seorang perempuan kumal penuh abu di dapur. Pangeran meminta Cinderella untuk mencoba sepatu kaca tersebut. Ternyata sepatu itu pas sekali dengan kaki Cinderella. Seketika itu juga Cinderellah berubah wujud menjadi Cinderella yang cantik. Kemudian Pangeran meyakini bahwa dialah Cinderella yang dicarinya Pangeran yang telah menemukan belahan hatinya tidak lagi membuang-buang waktu. Dia meminta Cinderella untuk ikut dengannya ke Istana. Disana Pangeran dan Cinderella menikah dan hidup bahagia"

Jika kita analogikan maksud dari bagian dari dongeng tersebut maka dicapai kesimpulan bahwa Pangeran tidak mengenal Cinderella versi kumal karena pakaian dan wajahnya sangat kotor dan kumal. Setelah sepatu kaca pas dengan kaki Cinderella pangeran belum yakin bahwa itu adalah Cinderella namun ketika Cinderella berubah wujud menjadi sosok Cinderella yang cantik barulah pangeran meyakini bahwa dialah Cinderella. Dongeng ini berakhir bahagia (happy ending) karena pangeran telah menemukan Cinderella versi cantik. Bagaimana keadannya jika Cinderella tidak berubah menjadi sosok Cinderella versi cantik, atau bagaimana jika pangeran bertemu Cinderella versi kumal tanpa sepatu kaca? Jawabannya mungkin kisah ini tidak akan berakhir bahagia. Mungkin akhirnya pangeran frustasi karena tidak menemukan Cinderella versi cantik sedangkan Cinderella terus terhanyut dalam mimpi tentang pangeran yang tidak akan pernah mendatanginya. Dari sini kita melihat bahwa kecantikan memegang peranan besar terhadap kebahagian seseorang.

Setelah kisah ini selesai diceritakan biasanya para orang tua menjelaskan moral dongeng ini kepada anaknya bahwa seseorang yang berbuat baik akan mendapatkan keberuntungan sebaliknya bahwa seseorang yang berbuat jahat akan menuai kesengsaraan. Namun, apakah anak-anak perempuan tadi menghayati moral tersebut. Saya berpendapat tidak, yang melekat di dalam hati anak-anak tadi pastilah sebuah impian mempunyai wajah yang cantik sehingga bisa mendapatkan seorang pangeran dan dapat hidup di istana. Pada akhirnya mitos kecantikan lebih kuat melekat dibandingkan moral tentang kebaikan tadi, dengan demikian strategi masyarakat patriarkhi dalam mempopulerkan mitos kecantikan melalui dongeng anak-anak sukses besar. Bagaimana prosesnya ? mereka menarik simpati para orang tua untuk membacakan dongeng ini kepada anak-anaknya dan para orang tua tersebut menganggap positif karena dongeng ini mempunyai nilai moral tentang kebaikan. Akan tetapi para orang tua tidak menyadari dampaknya pada anak-anak mereka khususnya anak-anak perempuan mereka. Dongeng ini hanya menghasilkan mimpi-mimpi bagi anak perempuan dan bukan imajinasi. Mimpi hanya akan menidurkan anak-anak dalam khayalan yang mendalam. Lawan dari mimpi yaitu imajinasi. Imajinasi ini akan menghasilkan sesuatu yang kreatif.[3] Tetapi sayangnya hal yang terakhir ini tidak terdapat dalam dongeng Cinderella.

Mitos Kecantikan dan Seksualitas Perempuan
Pengendalian seksualitas perempuan juga menjadi agenda dari Mitos Kecantikan. Dalam Dongeng Cinderella ini kita melihat adanya hal tersebut walaupun tidak tertuang secara eksplisit tetapi secara implisit. Hal yang dapat digambarkan dalam dongeng ini berkaitan dengan hal tersebut adalah realitas sosial mengenai perempuan yang menikah dua kali (Ibu tiri Cinderella) dan konsep perempuan sebagai makhluk inferior yang berfungsi sebagai alat reproduksi. Menurut MacKinnon dalam bukunya yang berjudul Feminism, Marxism, Method and the State: An Agenda for Theory, menemukan bahwa dalam mengkonseptualisasikan realitas sosial harus juga mengkonstruksikan realitas seksual pada saat yang bersamaan. Melalui dongeng ini ada sebuah konsep yang tertanam kuat dalam masyarakat patrarkhal dan sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Ibu tiri adalah perempuan yang jahat. Ibu tiri selalu jahat kepada anak tirinya. Dari sini sebenarnya terkandung dua dimensi yang tersembunyi dari realitas sosial ini.

1. Konsep mengenai kebencian terhadap Ibu Tiri. Ibu tiri selalu di definisikan sebagai Ibu yang jahat. Hal ini berhubungan dengan konsep perempuan yang menikah dua kali. Masyarakat patriarkhal tidak menyukai hal itu karena hal tersebut menunjukkan superioritas perempuan. Institusi gereja pun melarang perceraian dan memandang rendah perempuan yang menikah dua kali. Tokoh Ibu tiri yang jahat dalam dongeng ini sengaja diciptakan untuk menyebarkan pandangan umum tentang Ibu tiri dengan harapan anak-anak perempuan yang membaca cerita ini dapat memperoleh gambaran mengenai ibu tiri yang jahat kemudian anak-anak tersebut dapat melarang ayahnya untuk menikah lagi.
2. Adanya pandangan kebencian mengenai perempuan bahwa perempuan dapat berubah menjadi sesuatu yang mengerikan seperti menindas, melakukan kekerasan, iri hati, dan emosional. Dengan alasan ini maka diperolehnya legitimasi bahwa perempuan harus diatur dan dikendalikan. Padahal perubahan diri perempuan dari feminitasnya menjadi sesuatu yang mengerikan ini merupakan hasil dari Mitos Kecantikan yang tak lain adalah anak emas dari Ideologi Patriarkhal.

Selain konseptualitas mengenai Ibu Tiri, di dalam dongeng ini juga terdapat konsep perempuan sebagai makhluk inferior yang berfungsi hanya sebagai mesin reproduksi. "Raja dan Permaisuri menginginkan pangeran cepat menikah karena mereka ingin secepatnya mempunyai cucu, sementara pangeran belum berkeinginan untuk menikah karena belum menemukan perempuan yang sempurna"

Bagian yang ditunjukkan dalam cuplikan singkat dongeng tersebut terlihat bahwa fungsi pernikahan adalah untuk menghasilkan generasi yang pada akhirnya dapat melestarikan keturunannya. Disini terlihat peran perempuan sebagai mesin reproduksi anak. Raja dan Permaisuri menginginkan seorang cucu, sedangkan pangeran menginginkan perempuan yang sempurna untuk dijadikan Istrinya, mereka semua menginginkan keturunan yang sempurna. Apa yang terjadi jika Cinderella tidak memiliki keturunan atau jika Cinderella melahirkan seorang anak yang tidak sempurna? Jika dongeng Cinderella di realisasikan dalam kehidupan nyata, mungkin yang akan terjadi bahwa pangeran mungkin akan menikah lagi dengan seorang perempuan yang menurutnya sempurna dengan harapan tetap bisa menghasilkan keturunan yang sempurna.

Selain itu kita dapat melihat alur kehidupan seorang perempuan yang ideal yang diciptakan Mitos kecantikan melalui dongeng ini. "Kemudian Pangeran meyakini bahwa dialah Cinderella yang dicarinya Pangeran yang telah menemukan belahan hatinya tidak lagi membuang-buang waktu. Dia meminta Cinderella untuk ikut dengannya ke Istana. Disana Pangeran dan Cinderella menikah dan hidup bahagia "
Alur yang ideal menurut dongeng ini bahwa perempuan dewasa haruslah menikah setelah itu melahirkan dan menjadi seorang ibu lalu melayani suami dan anaknya dengan penuh kasih sayang. Sekali lagi ini merupakan pengendalian pada diri perempuan. Menjadi seorang istri bagi suami dan ibu bagi anak-anaknya merupakan akhir dari perjalanan perempuan dan ini digambarkan sebagai akhir yang bahagia (happy ending). Hal ini merupakan suatu pengendalian terhadap perempuan agar perempuan tetap berada dalam ranah domestik dan tersubordinasi. Ia harus menjadi pelayan bagi suami dan anak-anaknya.

Kesimpulan
Dongeng Cinderella merupakan salah satu contoh dari sekian banyak dongeng-dongeng yang mengandung Mitos Kecantikan untuk melestarikan Ideologi Patriarkhal. Dongeng-dongeng ini tumbuh subur dalam berbagai bentuk, beragam cerita dan disampaikan dari generasi ke generasi. Tanpa disadari Dongeng ini ikut membentuk suatu pranata sosial yang membedakan secara tegas peranan sosial perempuan dan laki-laki. Tanpa disadari perempuanlah yang menjadi korban dari semuanya ini. Karena Mitos Kecantikan menggunakan citra kecantikan perempuan sebagai senjata politis untuk menentang kemajuan perempuan.

***
[1] Wolf , Naomi. Mitos Kecantikan : kala kecantikan menindas perempuan. Yogyakarta : Niagara . 2002. Hal : 25 [2] Kate Millet . Sexual Politics. New York : Garden City, Doubleday . 1970. Hal 32[3] Gadis Arivia dalam diskusi yang berjudul Joe Millionaire Indonesia di Ged.IV. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya , Universitas Indonesia

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=9&dn=20070313122410

Membuka Kerangka Dongeng Cinderela (1)

Penindasan Perempuan dalam Kerangka Dongeng Cinderella

"Alkisah, disebuah negeri antah berantah hiduplah seoang gadis yang cantik jelita namun dia menderita hidupnya akibat ulah ibu tiri dan saudara-saudara tirinya. Dia menjadi pelayan bagi Ibu tiri dan kedua saudara tirinya. Suatu ketika pangeran mengumumkan akan mengadakan pesta dansa 3 hari 3 malam untuk mencari Isteri.

Para gadis di desa itu sibuk mempersiapkan diri dengan mempercantik diri mereka, membeli gaun yang indah untuk pergi ke pesta dansa itu. Tak terkecuali kedua saudara tiri Cinderella. Harapan para gadis-gadis itu hanya satu, menjadi yang tercantik, dapat memikat hati sang pangeran, dan selanjutnya dapat menjadi isteri pangeran, dan dapat hidup sampai akhir hayat denagn bergelimangan kemewahan dan kekayaan…"


Cuplikan resensi Film diatas diambil dari film yang berjudul Cinderella Story, diputar di salah satu setasiun Televisi Swasta,18 November 2004 lalu, sangat memiriskan hati saya, ini bukan nilai moral yang sering di ceritakan guru-guru TK kepada murudnya atau seorang nenek menjelaskan nilai moral cerita ini seusai mendongeng tidak lebih dari nilai moral klasik yang cendrung seragam dari dongeng yang satu dengan dongeng yang lain dimana yang baik selalu menang dan yang jahat selalu kalah. Namun tanpa kita sadari penciptaan dari dongeng-dongeng Putri dan Raja atau dongeng-dongeng kepahlawanan seperti ini mempunyai misi tersembunyi dibalik penciptaannya. Saya akan mengambil kisah Cinderella sebagai contoh untuk menjelaskan misi tersembunyi tersebut melalui perspektif feminis.

Yang menarik untuk dibicarakan disini dimana para gadis bersusah payah mempercantik diri mereka hanya untuk pergi ke pesta istana. Mengapa ? Karena Mereka ingin mengikat hati pangeran Lalu apa ?Selanjutnya dapat menjadi isteri pangeran, dan dapat hidup sampai akhir hayat denagn bergelimangan kemewahan dan kekayaan. Dongeng picisan seperti ini di wariskan dari generasai ke generasi, tidak hanya cerita dan tokohnya saja tetapi juga nilai-nilai moralnya. Dongeng-dongeng semacam ini sengaja diciptakan sebagai penegasan bahwa perempuan adalah 1)Makhluk inferior yang tidak bisa hidup tanpa mengandalkan penampakan fisik mereka.2)Makhluk lemah, tidak dapat hidup mandiri, dan selalu berada di bawah kekuasaan laki-laki.3)Makhluk yang tidak mempunyai pilihan dan selalu menjadi objek. Dalam budaya patriarkhi, seorang perempuan dikatakan bernilai hanya dilihat dari segi fisik sepertti kecantikan, ke anggunan, mengusasi pekerjaan domestik, dsb. Hal tersebut menjadi syarat mutlak bagi seorang perempuan untuk meningkatkan status sosialnya di masyarakat. Perempuan yang memiliki syarat-syarat ini diharapkan dapat memikat pria-pria dan kemudian keinginan mereka tercapai. Namun tanpa disadari mereka telah memasuki ‘Penjara Kaca’, terkungkung oleh suatu dominasi dan kekuasaan laki-laki. Seperti apa yang dikatakan Ann Forman seorang feminis Marxis bahwa laki-laki mencari pembebasan alienasinya melalui hubungannya dengan perempuan, sedangkan untuk perempuan tidak ada jalan pembebasan lain karena hubungannya dengan laki-laki merupakan struktur utama penindasannya.

Saya jadi teringat pandangan-pandangan misoginis para filusuf terkenal yang mungkin sedang tertawa di alam kuburnya melihat doktrin-doktrin misoginis mereka masih mengakar kuat hingga kini. Aristoteles dalam bukunya De Generatione Animalium yang mengatakan bahwa terdapat pihak yang menguasai dan dikuasai dalam negara rumah tangga, dimana posisi penguasa (Raja) diisi oleh laki-laki (suami) dan posisi yang dikuasai (budak) diisi oleh perempuan (istri). Imanuael Kant dalam bukunya yang berjudul Observation on the feeling of the Beautiful and the sublime (1764) bahwa perempuan mempunyai perasaan yang kuat dari dalam tentang apa yang cantik, anggun dan kesesuaian dekorasi, sejak kecil mereka menyenangi saat mereka dikagumi. Atau menurut Schopenhaver yang mengatakan bahwa perempuan adalah makhluk yang senantiasa kanak-kanak karena memiliki karakter sembrono dan picik, tidak memiliki keadilan, memiliki kekuarangan dalam cara bernalar dan juga mempunyai kualitas kebodohan.

Doktrin-doktrin itu masih mengakart kuat karena ada dukungan dari budaya yang kini dapat dilihat di alam realitas. Para Ibu sibuk mempercantik anak gadisnya di hari raya untuk diperkenalkan kepada relasi-relasinya yang lebih mapan atau para remaja putri sibuk mempercantik dirinya dengan aneka rupa acessoris dan bergaya bak artis local atau mengimpor gaya artis luar. Atau satu kasus yang baru saja saya temukan yaitu berkuliah dengan niat khusus untuk mendapatkan jodoh. Mereka yang punya niatan tunggal dalam berkuliah, pergi ke kampus dengan dandanan seperti orang pergi ke klub malam, pakaian yang tak layak dipakai di lingkungan intelektual akademis!Semua itu mereka lakukan denagan 1 tujuan, memikat hati laki-laki yang lebih mapan untuk meningkatkan status social mereka. Memang kebanyakan kasus seperti ini banyak terjadi di daerah dan terus berjalan hingga kini karena mendapat dukungan dari budaya masyarakat setempat. Seorang anak gadis diharapkan cepat mendapatkan jodoh dari kemampuannya di bidang domestik atau kempauannya mempercantik diri mereka. Ketika gadis itu menikah, para orang tua bisa bernafas lega karena bisa lepas dari tanggung jawab dan sang gadis itu kini masuk dalam kekuasaan suaminya, Ia menjadi ibu bagi anak-anak mereka, terus mempercantik diri mereka yang sudah cantik untuk sekedar menpertahankan Rumah tangga, melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik, dsb. Keterperangkapan perempuan adalah jika dia hanya bekerja di bidang-bidang yang tidak menghasilkan komoditi atau hanya menghasilkan pekerjaan-pekerjaan domestik yang selalu dianggap remeh oleh kaum laki-laki.

Mungkin R.A Kartini, Cut Nyak Dien, Betty Fridan, Marry Wollstonescarft dan Elizabeth Cady Stanton sedang menangis di alam kuburnya melihat hasil perjuangan mereka tidak dimanfaatkan oleh para perempuan kini. Terjadinya degradasi bahwa para perempuan hanya berorientasi untuk menikah dan mengurus rumah tangga, hal tersebut semakin mempertegas bahwa perempuan sebagai makluk inferior yang selamanya tergantung pada laki-laki seperti perkatannya Simone de Beauvoir, seorang feminis Eksitensialis yang mengatakan “perempuan selalu menjadi ‘the others’ (yang lain). Perempuan selalu mencari referensi kepada laki-laki. Laki-laki disini jelas menjadi subjek, Ia absolute sedangkan perempuan adalah objek”.

Hendaknya perempuan perlu membebaskan dirinya dari ketergantungan para laki-laki. Seorang perempuan harus kuat, mandiri, mempunyai keterampilan dan kemampuan untuk menghidupi diri sendiri. Keterampilan dan kempuan bertahan hidup diperlukan untuk membebaskan diri dari ketergantungan, dapat mempunyai pilihan dan menemukan jati dirinya. Perempuan juga merupakan manusia sama halnya dengan laki-laki, berhak memililih dan mempunyai pilihan dalam menjalini hidupnya dari awal hingga akhir. Hendaknya pernikahan bukanlah menjadi orientasi utama seorang perempuan karena itu akan semakin mendekatkan perempuan menjadi ‘the others’.





Depok, 2005

Indah Survyana